interesting writing it from the heart

IQBAL BACHTIAR

Selamat datang di blog saya
About Me
Tulisan-tulisan ini bukan tentang aku, tetapi saya!

Selasa, 25 Oktober 2016

Setelah lulus mau ngapain? Sebuah pertanyaan sederhana yang sudah sangat familiar bagi para mahasiswa tingkat akhir. Apakah akan melanjutkan untuk berwirausaha atau bekerja kantoran. Suatu pernyataan yang cukup simple untuk dijawab bagi mahasiswa yang sudah memiliki rencana. Mungkin bagi mahasiswa yang memiliki tabungan lebih atau memiliki orang tua yang cukup berada, berwirausaha merupakan pilihan yang tepat. Namun bagi mahasiswa yang tidak memiliki tabungan lebih dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tentunya bekerja di kantoran adalah pilihan yang paling bijak, tanpa memaksakan kondisi yang ada.

Berwirausaha di jaman kekinian seperti saat ini sangatlah mudah, asal ada kemauan dan menggemari usaha yang digelutinya, semua akan berjalan dengan lancar. Apalagi saat ini bisnis online sedang berkembang pesat. Tidak perlu mengeluarkan modal besar dan tenaga. Cukup duduk di depan komputer atau gadget, semua dapat berjalan. Dimulai dari bisnis pakaian, peralatan, sampai makanan pun dapat kita dapatkan dengan mudah. Jadi bagi mahasiswa yang sudah memiliki rencana berwirausaha setelah lulus, sangat disarankan untuk merealisasikan secepatnya.

Disini saya tidak akan menuliskan tentang berwirausaha, karena saat ini saya tidak sedang menjalankan sebuah usaha. Melainkan saya sedang menjalani proses sebagai mahasiswa lulusan baru (setahunan) yang memilih untuk bekerja kantoran. "Saya ingin cepat menyelesaikan perkuliahan usang ini. Setelah lulus saya ingin melanjutkan kerja kantoran. Duduk di belakang komputer, berada di sebuah ruangan yang ber-AC, dan memiliki hari libur di akhir pekan. Kalaupun tidak bisa libur di akhir pekan, seenggaknya berada di ruangan yang dingin". Pernyataan seperti itulah yang ada di dalam ungkapan saya.

Saya bukan mahasiswa lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), akan tetapi cita-cita saya cukup setara dengan cita-cita mahasiswa lulusan PTN. Saya hanya mahasiswa lulusan kampus daerah, kampus yang cukup membuat penanya berpikir saat mencari ketenarannya. Bahkan website pencari lowongan pekerjaan pun sangat jarang yang mencantumkan pilihannya dalam kolom "Institusi / Universitas", dan lagi-lagi saya harus memilih "Other".

Setelah lulus pada Bulan Agustus 2015, saya langsung merealisasikan rencana untuk mencari kerja di Kota Bandung. Sebuah kota yang sedang menjadi trending topic akan tatanan kotanya yang indah. Di Kota Bandung saya menaruh harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Walaupun hanya berbekal latar belakang pendidikan sebagai S1 Sarjana Pendidikan (S.Pd), saya mencoba peruntungan melamar pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimilki. Saya lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastara Indonesia. Jika ingin dilihat dari jurusannya, saya adalah calon guru Bahasa Indonesia. Tetapi bukan profesi sebgai guru yang saya inginkan, saya lebih menginginkan profesi yang berkaitan dengan kebahasaan, seperti penulis, editor, ataupun reporter. Namun apa mau dikata, untuk mendapatkan profesi itu sangatlah sulit bagi mahasiswa lulusan baru. Terkadang, tanpa pengalaman, sebuah perusahaan memikir dua kali untuk merekrutnya. Ujung-ujungnya seorang mahasiswa lulusan baru kebanyakan diterima pada bidang Marketing. Bedanya saya, Marketing bukanlah suatu profesi yang saya minati. Saya lebih menyukai profesi yang mengerjakan sesuatu, bukan mencari atau menawarkan sesuatu. Kata "mencari sesuatu" tersebut masih masuk dalam pengecualian, jika mencari sesuatunya itu seperti seorang jurnalis yang mencari berita, itu masih masuk pada kriteria keminatan saya. Intinya bukan mencari nasabah.

Dari awal Bulan September sampai Januari, saya masih tercatat sebagai Jobseeker. Latar belakang pendidikan dan istilah Non-Pengalaman membuat peluang untuk mendapatkan pekerjaan secara tokcer cukup sulit. Beberapa bulan bergelut di Kota Bandung sebagai Jobseeker saya geluti. Setiap Hari Sabtu saya berlangganan koran Pikiran Rakyat. Kenapa saya membeli koran tersebut hanya pada Hari Sabtu saja? Karena info lowongan pekerjaan pada Hari Sabtu pada koran itu lebih banyak dibandingkan di hari-hari biasanya. Biasanya setiap Sabtu pagi saya sudah duduk di teras depan rumah bibi saya, kebetulan saya tinggal di Bandung bersama keluarga dari ibu. Ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok, saya mulai menelusuri info-demi-info lowker dalam kolom koran tersebut. Setelah mendapatkan posisi dan kualifikasi yang cocok, saya menuliskannya pada sebuah buku catatan. Di Hari Minggunya saya mulai menyiapkan beberapa berkas yang menjadi persyaratan untuk melamar pekerjaan. Dimulai dari CV (Curiculum Vitae), Surat Lamaran, Photo Copy Ijazah & Transkrip Nilai, Photo Copy KTP, dan Pas Photo saya siapkan pada akhir pekan. Persyaratan pun selesai disiapkan, mulailah saya bereaksi pada Hari Seninnya. Jalan-demi-jalan, bangunan-demi-bangunan saya lewati demi mendapatkan alamat yang tertera pada keterangan perusahaan. Di awal pergerakan, saya cukup sulit untuk menemukan alamat tujuan, karena saya belum terlalu hafal jalanan di Kota Bandung. Maklum, setiap kali saya berkunjung ke Bandung itu pada waktu saya masih kecil, untuk jalan-jalan pun selalu diantar oleh saudara. Namun lambat-laun, semuanya menjadi terbiasa, saya sudah mulai dapat meminimaliskan istilah menyasar.

Selama empat bulan pasca lulus kuliah saya mencari pernyataan "selamat kamu diterima bekerja disini!", selama itu pula saya belum juga mendengar istilah tersebut. Kejenuhan pun mulai bereksistensi di akhir tahun. Dengan sedikit patah semangat, saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman (Kab. Ciamis). Kepulangan saya dipenuhi dengan beban sosial. Kenapa menjadi beban sosial? Karena cara pandang masyarakat perkotaan dengan pedesaan sangatlah berbeda. Kalau masyarakat perkotaan itu lebih pada acuh-tak-acuh, sedangkan masyarakat pedesaan lebih kepada keeratan hubungan antar sesama. Saking eratnya, terkadang yang tidak nyata menjadi nyata, yang baik menjadi terlihat buruk. Mungkin istilahnya lebih dikenal saling gosip-menggosipkan. Saya sebagai salah satu bujangan yang merantau ke kota sangatlah risau dengan apa kenyataan yang saya bawa pulang. Karena pandangan orang yang merantau ke kota itu untuk bekerja, secara otomatis ketika pulang orang tersebut sudah mendapat hasil dari bekerjanya di kota. Jika dilihat dari lamanya saya berada di kota, saya seharusnya sudah dapat dinyatakan sebagai orang yang pulang ke kampung dengan membawa penghasilan. Terlebih saya adalah seorang lulusan kuliahan. Paling rendahnya di kota itu saya bekerja sebagai karyawan swasta. Namun kenyataan berkata lain, maka dari itulah menjadi beban sosial bagi saya ketika hendak pulang kampung.

Selama beberapa minggu berada di rumah, saya mulai menemukan kejenuhan sebagai penganggur. Dari kejenuhan itu saya mulai mendapatkan kembali semangat untuk mencari lowongan pekerjaan. Target saya masih tetap Kota Bandung. Dengan perkembangan jaman seperti saat ini, saya coba memanfaatkan kemajuan tersebut. Seyogyanya untuk mencari pekerjaan di jaman serba teknolologi seperti saat ini tidak perlu keluar rumah. Cukup dengan berselancar di dunia maya pun kita dapat dengan mudah mencarinya. Setelah berselancar dan mengirim email kesana-kesini, akhirnya ada beberapa perusahaan yang menghubungi melalui telepon. Jatuhlah pada perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam Broiler. Tanpa menunggu lama saya menekatkan bersedia untuk menghadiri panggilan interview.

Meluncur kembali ke Bandung dengan penuh semangat. Berharap apa yang saya yakini dapat membuahkan hasil membahagiakan. Setelah di Bandung saya dipanggil untuk datang ke kantor yang memiliki nama PT. Pelita Mulia Bersinar berlokasi di Jl. Batununggal 4 No.119, Bandung. Mungkin apa yang saya pikirkan sama dengan pemikiran masyarakat Bandung, "emang ada peternakan ayam di daerah komplek elite kaya gitu?" Karena daerah Batununggal merupakan lingkungan komplek perumahan elite di Bandung. Bahkan harga nilai satu buah rumahnya mencapai 2 miliyaran. Jadi pasti akan heran kalau di daerah itu diinfokan terdapat perusahaan ayam broiler. Semua pertanyaan terjawab ketika saya mendatangi lokasi yang dimaksudkan. Pada alamat tersebut hanya ada sebuah kantor yang mengontrak di sebuah perumahan. Adakah kandang ayamnya? Seekorpun tidak ada ayam sama sekali di dalamnya. Jadi rumah itu hanya sebuah kantor biasa, dans ternyata kandang-kandangnya pun berada jauh dari kantor.

Kedatangan saya disambut oleh seseorang yang biasa mengurus kantor tersebut. Saya dipersilahkan masuk dan dipertemukan dengan seorang ibu yang cukup berperan dalam perusahaan. Di dalam sebuah ruangan, mulailah perkenalan secara formal dan intensif. Sampai terdengarlah penjelasan bahwa ibu tersebut merupakan seorang istri dari seorang pemimpin yang sekaligus merangkap sebagai Staff Keuangan. Setelah panjang-lebarnya percakapan, di akhir saya diminta untuk datang kembali apabila mendapat panggilan berikutnya. Hal tersebut dikarenakan yang memutuskan diterima atau tidaknya saya itu tergantung dari keputusan suaminya (pemimpin perusahaan). Dan kebetulan suaminya sedang berada di Jakarta untuk menghadiri rapat perusahaan bersama anaknya. Alhasil pulanglah saya ke rumah bibi yang berada di daerah Dayeuhkolot Bandung. Hari-demi-hari saya menanti kabar yang belum kunjung datang. Dengan berinisitif, saya nekat untuk meng-follow up kepada perusahaan, dengan maksud memastikan kembali status saya sebagai calon karyawan. Semua saya lakukan karena di sisi lain saya berencana untuk kembali ke kampung halaman jika saya benar-benar dinyatakan tidak diterima.

Singkat cerita saya dinyatakan diterima di perusahaan tersebut pada posisi Telemarketing. Lho, kok bidang marketing? Saya punya pengecualian sendiri. Telemarketing pada perusahaan ini tidak terlalu mengutamakan untuk mencari konsumen baru, kata lainnya saya hanya lebih meng-follow up konsumen yang sudah ada dalam data base, dan juga tidak ada target pencapaiannya. Jadi, menurut saya posisi itu masih masuk dalam passion saya dalam dunia pekerjaan. Bergabunglah saya dalam perusahaan PT. Pelita Mulia Bersinar sebagai karyawan training. Tugas pekerjaannya tidak terlalu sulit, masih bisa dikerjakan oleh mahasiswa lulusan baru, yaitu:

1. Merekap informasi panenan dari pekerja lapangan via SMS.
2. Menginfokan hasil panenan kepada konsumen via telepon.
3. Menegosiasikan produk (ayam broiler) via telepon.
4. Mengkondisikan pekerja lapangan (via telepon).
5. Mengkondisikan proses muat-angkut ayam broiler (via telepon).
6. Mengkondisikan dan mengecek pembayaran (via telepon & internet banking).

Selama kurang-lebih tiga bulan saya mengerjakan tugas tersebut. Sering kali saya juga tidak merasakan nikmatnya hari libur di akhir pekan, tapi saya tetap bersyukur karena itu termasuk waktu lembur, jadi saya masih mendapatkan uang tambahan. Semua balik lagi pada sikon saya sebagai seseorang yang baru bergelut dalam dunia kerja, sikon yang jauh dari rumah asal dan belum memiliki banyak teman. Daripada hari libur tidak kemana-mana, saya lebih memilih untuk bekerja. Sekitar 3 bulan saya bekerja, ternyata saya harus berhenti setelah mendengar pernyataan dari si bos,  bahwa "bagaimana ini? penawaran bandar ke kamu lebih rendah dibandingkan penawaran bandar ke marketing senior!" Sial! Masa saya harus disamakan dengan Marketing senior. Saya hanya karayawan baru yang masih tergolong junior. "Kalau pengennya gitu, ya kenapa ga ngerekrut yang udah berpengalaman atuh?"

Ya, sudahlah! Saya anggap ini semua bukan dan belum jalannya. Saya terima dengan lapang dada, walaupun sedikit kecewa. Saya harus bangkit kembali untuk mencari pekerjaan baru. Yakin saja kalau Allah SWT akan menggantinya dengan sebuah pekerjaan yang lebih baik lagi. Walaupun sempat merasa down untuk mencari pekerjaan, tapi Alhamdulillah saya bisa termotivasi kembali oleh mama saya di rumah.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti para jobseekers, tapi saya maksudkan untuk memberikan pencerahan dalam mencari suatu pekerjaan yang sesuai dengan yang diharapkan. Sekali lagi tulisan ini juga bukanlah tips apalagi trik untuk mendapatkan pekerjaan, karena nyatanya dari saat saya dinyatakan tidak lagi bekerja di perusahaan ayam broiler sampai sekarang, saya masih menjadi jobseeker kembali. Saya hanya ingin berbagi kisah yang pernah saya alami setelah sekian lama vacum dari tulisan-tulisan sebelumnya.

Sampai bertemu kembali di tulisan saya berikutnya!

0 komentar:

Posting Komentar