Malam itu hujan cukup
deras, kederasannya pun cukup ampuh untuk meredam kegalauan malam itu.
Hingar-bingar kehidupan sudah terganti oleh lelap. Namun malam itu bukan malam
yang beruntung untuk sebuah pensil malang yang sedang meratapi kegelisahannya.
Iya, sebuah pensil berwarna biru langit yang bertempat tinggal di dalam kotak
pensil berukuran sedang, dan panggil saja dia si Langit. Tepatnya pukul 1.30 malam,
Langit masih terjaga dalam dera. Malam itu dia belum dapat mengendalikan kantuk
untuk melawan rasa gelisahnya. Semenjak kejadian satu bulan yang lalu dia tak
kunjung dapat memejamkan lelapnya setiap malam. Rasa sakitnya masih saja
terngiang-ngiang dalam pikirannya. Perkataan yang diucapkan oleh sesosok
perempuan (sebuah pensil berwarna marun) masih belum dapat dipahami secara
logika. Bukan kata-kata puitis dan romantis, terlebih sebuah tindakan tanpa
pesan. Hati Langit hancur berkeping-keping bagai cermin yang sengaja
dilemparkan, kemudian terbentur medan keras.
Langit ingin sekali
bercerita, berkeluh-kesah atas apa yang sedang dilandanya. Dia bingung harus
mencurahkan pada siapa. Yang ada hanya adiknya, sebuah penghapus bermotif
pelangi, dan panggil saja dia si Pelangi. Tetapi Pelangi malam itu sudah
terlelap, mungkin juga sudah sedang bermimpi. Dan kalaupun Pelangi masih
terjaga, Pelangi bukan tempat yang tepat untuk diajak berkeluh-kesah, apalagi
tentang cinta. Kalau dalam dimensi manusianya, Pelangi itu merupakan seorang
anak perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Maklum, kini mereka
hanya tinggal berdua di dalam kotak pensil. Tak ada yang lain selain adiknya
itu, si penghapus bermotif pelangi yang selalu menemaninya setiap hari.
Setelah 30 menit berlalu,
kini hujan kembali mereda, kapasitas air yang turun mulai berkurang. Suara air
hujan yang bergemuruh kini berubah menjadi suara gemericik yang tenang. Lambat
laun suasana semakin hening, bersambut dengan suara-suara serangga yang mulai
bereksistensi. Perasaan Langit mulai tenang mengalir mengikuti alur keheningan.
Sudah tak begitu nampak raut muka Langit yang menekuk tajam. Namun Langit masih
tetap ingin mencurahkan apa yang sedang dirasakannya. Dia masih tetap menolak
untuk memendamnya. Baginya itu tidak cukup untuk mengobati apa yang sudah
dideranya. “Saat ini aku sedang membutuhkan teman yang dapat aku jadikan
sebagai penyimak, penonton, penasehat, dan tempat yang baik untuk dijadikan
sandaran” Langit berujar dalam hati sambil menatap cahaya lampu belajar yang
hampir menembus ke dalam kotak pensil. Tak lama ujarannya yang terbalut oleh
keheningan itu berlalu, kemudian terdengar suara langkah ketukan yang
melompat-lompat. Serentak, perasaan Langit semakin tak keruan. Perasaan yang
awalnya sedih, sakit, dan kecewa, kini tiba-tiba berubah menjadi rasa was-was.
Pikiran Langit berubah haluan, Langit mulai menganalisis dan mendefinisikan
jenis yang dia dengar. Lagi-lagi Langit kembali berujar dalam hati “suara apa
itu, ya?” Pikiran Langit melanglang cukup jauh. Dia mendefinisikan bentuk dan
jenis dari suara itu. Selintas Langit mendefinisikan kalau suara itu adalah
suara langkah kaki manusia, namun jika dianalisis secara logika, manusia
melangkah tidak dengan cara melompat-lompat. Rasa was-was Langit semakin tak
terkendali. Dia mulai cemas, “jangan-jangan itu suara hantu pocong yang
melompat-lompat”. Tapi lagi-lagi dia mencoba memutar-balikkan fakta, bahwa
suara lompatan hantu pocong mungkin tak dapat didengar. Walaupun hantu pocong
melompat-lompat, jelas lompatannya itu tak menghasilkan suara ketukan. Dan jika
benar suara itu berasal dari hantu pocong, seharusnya Langit tak perlu takut.
Karena faktanya hantu hanya akan menakuti manusia saja, dan belum ada
sejarahnya hantu menakuti sebuah pensil. Namun hasil analisis Langit belum
menghasilkan fakta yang nyata, sebelum apa yang didengarnya sesuai dengan apa
yang dilihatnya.
Suaranya terdengar
semakin dekat, kira-kira jaraknya sekitar satu jengkal tangan manusia. Ternyata
suara itu benar-benar menghampiri kotak pensil. Langit pun mulai mengambil
ancang-ancang siaga, ditakutkan jika asal dari suara itu dapat membahayakan
Langit dan adiknya. Suara ketukan itu semakin mendekat dan semakin jelas.
Tiba-tiba suaranya berhenti, jaraknya tepat sekitar dua jari manusia. Kini
suasana menjadi hening, suara ketukan itu sudah tak terdengar lagi. Suasananya
berubah kembali seperti sebelum suara ketukan itu datang menghampiri. Sekarang
yang terdengar hanya suara gemercik hujan, suara-suara serangga, dan suara
detik jarum jam dinding. Perasaan Langit bukannya menjadi tenang, tapi malah
menjadi semakin tak keruan. Hati Langit bertanya-tanya, suara apa yang membuat
dirinya penasaran. Langit mulai bingung harus bagaimana, ketika tiba-tiba suara
itu tak terdengar kembali. Langit sangat yakin ada sesuatu yang menghampirinya,
dan sekarang sesuatu tersebut ada di dekat kotak pensilnya. Tak banyak berpikir
lagi, Langit memutuskan untuk memberanikan diri membuka tutup kotak pensil dan
mencoba melihat dari posisi asal suara yang didengarnya. Dengan sangat pelan,
tetapi pasti, Langit membuka tutup kotak pensil secara perlahan. Sedikit demi
sedikit tutup kotak pensil tersebut memberi celah dan sedikit demi sedikit
sudut kamar yang gelap mulai terlihat. Langit semakin gundah, perasaannya
bergetar kencang. Namun Langit tak pantang menyerah, dia harus segera
memutuskan agar rasa penasarannya berakhir. Baginya, daripada dia hanya berdiam
saja menunggu yang tidak jelas, lebih baik dia membuka tutup kotak pensil dan
melihat dengan jelas, suara apakah itu? Setelah tutup kotak pensil itu terbuka
cukup lebar. Taraaaaaaa..! Ternyata suara ketukan tersebut berasal dari langkah
sebuah pena. Pena itu terlihat hanya diam saja di depan kotak pensil, matanya menatap
tajam ke arah Langit. Jika dilihat dari tampilannya, usia pena tersebut sudah
dapat dikatakan berumur. Mungkin juga kehidupan yang dilewatinya sudah
melintasi beberapa generasi, karena terlihat dari tampilan warnanya yang hitam
diperpadukan sedikit sentuhan warna gold
metalic, lengkap dengan pernak-pernik
elegant namun tetap terlihat classic dengan ciri khas bentuk runcing
pada ujung kepalanya.
Pak
Baros : Selamat malam!
Langit : Iiiiiiiiya, selamat malam! Maaf,
kalau boleh tahu. Bapak siapa, ya? Sepertinya
aku tidak pernah melihat bapak.
Pak
Baros : Kamu baik-baik saja, nak?
Nada bicaramu seperti yang ketakutan. Tenang, jangan takut. Aku termasuk pena
yang baik! Panggil saja aku Baros, pak Baros! Aku tinggal di rumah yang sama
sepertimu, nak. Namun bedanya aku tak memiliki kotak yang seperti dirimu
tempati. Aku hanya selalu dikaitkan dalam saku jas atau saku kemeja pemilikku. Dan
ketika pemilikku tiba di rumah, aku hanya diletakkan saja di atas meja kerja.
Langit : Lalu, kenapa Pak Baros menghampiri
kotak pensilku dengan melompat lompat? Apa yang membawamu datang kemari?
Seingatku, aku sama sekali tak membuat kebisingan.
Pak
Baros : Kamu memang tak membuat
kebisingan, dan aku bisa sampai kemari hanya kebetulan saja. aku
melompat-lompat karena malam ini terasa hening, tak sedikitpun terdengar suara
langkah. Aku sengaja iseng berkeliling di sekitar rumah ini. Aku merasa bosan
jika selalu berdiam seorang diri di atas meja. Aku tak seperti jenis kalian yang
saling berpasangan. Pensil sepertimu pasangannya dengan penghapus, dan pulpen
pasangannya dengan tipe-x. Sedangkan
pena sepertiku tak akan cocok kalau harus dipasangkan dengan penghapus atau pun tipe-x. Maka dari itu aku berkeliling untuk merebahkan kebosananku.
Tak disangka aku melihat kotak pensil yang diterangi oleh lampu belajar. Maaf
jika aku sempat membuatmu takut, dan maaf juga aku hanya berdiam saja di depan
kotak pensil ini. Karena aku tak cukup pantas untuk memanggil atau membuka
tutup kotaknya di tengah malam seperti ini. Aku takut mengganggu penghuninya yang
mungkin sedang terlelap.
Langit : Ah tidak, aku masih terjaga. Aku
terjaga karena-nya!
Pak
Baros : Oh..aku mengerti sekarang.
Kamu pasti sedang didera oleh kegelisahan. Dan pastinya kegelisahan itu berkisah
tentang perempuan. Coba ceritakan, ungkapkan saja semuanya agar mencair. Kebetulan
juga besok hari libur, jadi kita bisa terjaga hingga esok pagi.
Dia adalah si pensil
mungil nan-cantik yang berwarna merah marun, panggil saja dia si Marun. Aku dan
Marun sudah cukup lama bersama. Sejak pemilik kami masih duduk di bangku kelas
6 SD, dan sampai sekarang pemilik kami sudah duduk di bangku kelas 2 SMP.
Awalnya pemilik kami membeli kotak pensil ini lengkap satu paket beserta aku
(pensil berwarna biru langit), adikku (penghapus bermotif pelangi), dan dia
(pensil berwarna merah marun). Cukup lama kami bertiga tinggal bersama dalam
kotak pensil ini. Terkadang pemilikku selalu memakai pensil secara bergantiaan,
kira-kira hanya bersela satu hari saja. Misalkan hari ini dia memakai aku,
kemudian keesokannya berganti memakai Marun. Akan tetapi untuk mata pelajaran
menggambar, pemilikku lebih sering memakai aku. Karena pensil sepertiku yang
memiliki diameter cukup lebar dan memiiki isi arang yang tebal, maka akulah
yang lebih sering dipakainya. Berbeda dengan pensil seperti Marun, pensil
sepertinya hanya memiliki diameter yang mungil dan isi arang yang lebih halus,
maka Marun lebih cocok dipakai untuk menulis saja. Tak lupa juga ada adikku
yang selalu berperan sebagai penghapus. Jika ada yang bertanya, kenapa dia bisa
dikatakan sebagai anak-anak? Karena dia bagian bonus dariku. Beli satu pensil
gratis satu penghapus bermotif pelangi. Dan belakangan ini aku mulai merindukan
keutuhan penghuni dalam kotak pensil ini. Terutama aku sangat merindukan sosok
pensil berwarna merah marun. Padahal baru satu Minggu saja kita tak bersama,
namun rasa kehilangannya sangat terasa mendalam.
Lambat laun kedekatan
aku dengan Marun semakin tak terkendali. Kedekatanku dengannya membuahkan
benih-benih yang membawaku pada sebuah harapan lebih. Aku ingin memilikinya,
aku ingin mengajaknya agar selalu ada disampingku. Aku berjanji jika dia dapat
menerimaku, aku akan menjaga kepercayaannya, dan aku juga akan menyirami kasih
sayang yang setiap harinya akan selalu tumbuh. Jika digambarkan, anggap saja
aku sedang memelihara tanaman mawar yang bunganya akan tetap selalu mekar
dengan indah, selama aku bisa merawat dan memeliharanya dengan baik. Bagiku,
Marun adalah bunga mawar putih yang keindahannya selalu menyapa di setiap
pagiku. Semenjak Marun mengisi pagiku, aku tak peduli akan kondisi cuaca esok
pagi, mendung atau pun cerah. Karena yang terpenting bagiku adalah Marun selalu
ada di setiap aku terbangun. Karena dari situlah aku dapat selalu tersenyum
bahagia.
Pencapaian timbal balik
benih cinta padanya bisa dikatakan tidak sempurna. Cukup sulit bagiku untuk
cepat sampai pada titik yang dituju. Banyak tikungan yang harus aku lewati
terlebih dahulu sebelum kembali ke jalur utama. Karena masih pendeknya jam
terbang yang aku punya, aku cukup kesulitan mengarungi hati perempuan. Aku
tidak tahu harus bagaimana ketika hati ingin mendekat, namun apa daya kepekaan
tak sampai. Pernah pada suatu malam aku dan dia sedang duduk berdua di atas
lampu belajar. Kebetulan malam itu gorden kamar tidak ditutup, jadi kita bisa
menikmati indahnya langit malam berdua. Walaupun malam itu langit sedang dalam
keadaan mendung, tapi mata hatiku berkata lain. Malam itu langit sangat cerah
sekali. Walaupun malam itu langit tak berbintang, tapi bagiku, bintangku ada di
sampingku. Kuajak dia berbincang-bincang tentang isi hati, kuajak dia
berbincang tentang malam, dan kuajak dia berbincang tentang masa depan. Dari
situlah aku menyadari kalau dia tak begitu peka, dia hanya membalas
perbincanganku dengan makna yang nyata, bukan dianggap sebagai makna yang
beristilah. Misalnya; aku mengatakan “Aku merasa sangat senang bisa duduk
berdua di atas lampu belajar bersamanya, walaupun langit yang kita lihat hanya
langit yang mendung tanpa bintang. Aku merasa sangat takut jika malam-malam
berikutnya kita tidak bisa duduk seperti malam itu lagi. Entah bagaimana
jadinya jika aku hanya duduk sendirian dan yang aku pandangi hanya segumpal
langit mendung tanpa bintang. Pasti aku tak sanggup untuk berlama-lama duduk di
atas lampu belajar ini”. Setelah aku mengungkapkan beberapa patah kalimat
bermakna, tetapi dia hanya membalas “aku juga merasa senang bisa duduk berdua,
apalagi harus memandangi langit yang mendung tanpa bintang. Aku juga pasti akan
merasa takut jika harus duduk sendirian. Takut jika tiba-tiba turun hujan, lalu
nanti aku turun dibantu oleh siapa?” Seperti itulah ketidakpekaan dari sikapnya
yang kurang memahami maksud obrolanku. Dari bentuk ujaran “duduk berdua” saja
aku sudah dapat mengartikannya. Bahwa, dia hanya senang duduk berdua di atas
lampu belajar itu saja, tetapi bukan karena bersamaku yang mendampinginya.
Sore itu sepulang sekolah, aku mengajak
Marun untuk berjalan-jalan di sekitar komplek. Langit pada sore itu cukup
sangat mendukung, cerah, dan sangat cocok untuk aku habiskan waktu bersamanya.
Berjalan berdua di tepi jalan yang orang-orang biasa menyebutnya trotoar. Aku
langkahkan kakiku dengan begitu santai, kucoba menyelaraskan langkah kakiku
dengan langkah kaki Marun, agar terlihat kompak, serasi, dan selaras. Walau
tidak ada seorangpun yang melihat akuberjalan dengan Marun, tetapi aku tetap
merasa bangga bisa berjalan bersamanya. Aku bangga bisa berjalan dan
bergandengan tangan dengan sosok pensil berwarna Marun yang kusayangi.
Terkadang aku selalu membanding-bandingkan rasa sayangku padanya dengan rasa
sayangku pada diriku sendiri. Aku merasa, aku lebih menyayanginya melebihi rasa
sayangku pada diri sendiri. Aku rela melakukan apa saja demi dirinya. Mungkin
memang itu terdengar mainstream, tapi
itulah cinta, sedikit memaksakan logika untuk menjadi masuk akal. Seperti
biasa, sepanjang perjalanan aku selalu melayangkan ungkapan-ungkapan yang
sedang aku rasakan, dengan harapan dia dapat meresponnya dengan sempurna. Aku
sadar, aku hanya bisa merayunya dengan berbagai macam kalimat rayuan sederhana
saja. Karena bagi sebuah pensil sepertiku tidak banyak yang dapat aku lakukan,
aku tidak dapat memberinya satu tangkai bunga ataupun balon warna-warni yang
bisa aku gunakan sebagai ungkapan perasaanku. Aku hanya bisa memanfaatkan
huruf-huruf vokal yang diujarkan, kemudian kukemas menjadi lebih indah dan
bermakna.
Aku masih saja ingat pertanyaan yang
pernah dia tanyakan padaku. Sebuah pertanyaan sederhana yang sekarang aku
sesali tak bisa menjawabnya. Aku menyesal waktu itu tidak terlalu menanggapi
apa yang dia tanyakan, baru sekarang aku menyadari bahwa perntanyaannya itu
sangat berarti untuk dirinya. Bahkan kalau aku bisa menjawabnya, mungkin itu
juga akan menjadi pertanyaan penting bagiku. Berbaur dengan kebisingan suara
kendaraan yang berlalu-lalang, pertanyaan itu diucapkan secara tiba-tiba “Cinta
datangnya dari mana? Apakah kita yang mendatangi cinta atau cinta yang
mendatangi kita?” Sekitar beberapa menit kita saling menatap, setelah dia
selesai bertanya. Aku menatapnya dengan penuh heran, aku tak mengerti apa yang
dibicarakannya. Tak seperti biasanya dia menanyakan sesuatu yang cukup dalam
untuk dimengerti. Karena seperti yang kuketahui, semenjak dia dekat denganku,
tak pernah sedikit pun dia mengujarkan tentang cinta. Kualihkan pandanganku ke
arah perosotan yang sedang dimainkan oleh anak kecil. Sedangkan aku bersama
Marun duduk di dalam lingkaran permainan ban, kita tidak cukup berani untuk
menampakkan diri di lingkungan masyarakat. Apalagi di tengah lingkungan taman
komplek yang waktu itu kita kunjungi. Hingga menjelang petang, kita bergegas
untuk pulang. Kita berharap dalam perjalanan tak ada seorang pun yang melihat
sepasang pensil berjalan di trotoar.
Semenjak pertanyaan yang dia lontarkan,
semenjak itu juga sepanjang perjalanan pulang kita dalam keheningan. Entah
mengapa dia tidak bersuara sedikit pun, tetapi yang kulihat dari raut wajahnya,
dia menunjukkan ekspresi yang biasa saja. aku tidak merasa tenang dengan
ekspresi seperti itu, walaupun biasa saja, tapi aku yakin ada yang berbeda
dalam pikirannya. Tiba-tiba nyaliku menciut tidak berani untuk mengajaknya
berbicara, apalagi untuk menanyakan maksud dari pertanyaannya itu. Sesampainya
di rumah, dia masih berdiam saja tanpa sepatah kata. Dia hanya bercakap dengan
adikku pelangi, itu pun karena adikku mengajakknya bicara. Sempat aku berpikir
apakah aku harus mengajaknya bicara terlebih dulu seperti yang adikku lakukan.
Entah lah, yang pasti waktu itu nyaliku benar-benar terasa menciut, tubuhku
terasa sangat kecil di hadapannya. Mulutku terasa rata tanpa bibir, sehingga
semua yang ada dalam pikiranku terasa sulit untuk diucapkan. Hingga malam
melelapkan rasa kantukku, kita berbaring dalam satu kotak tanpa sepatah kata.
Suara ayam berkokok tanda pagi datang,
begitu juga seperti situasi yang ada diantara aku dengan Marun, pasti tak akan
seperti tadi malam. Dalam keadaan mataku yang masih terpejam tapi aku sudah
terbangun, pikiran melanglang, aku berpikir kalau saat aku terbangun pasti
otakku mulai fresh kembali, pikiranku
pun pastinya sudah mulai jernih, dan keberanianku pun sudah dipastikan akan
berani untuk memulai percakapan dengan Marun. Aku sudah merasa tenang, tidak
seperti tadi malam yang otak dan pikiranku tak dapat membaur dengan baik.
Kucoba untuk membuka mata, pandanganku mulai mencari sosok Marun. Sejenak aku
mengamati di setiap sudut sisi kotak, namun sosok yang aku cari tak kunjung aku
temukan. Aku hanya melihat sosok adikku yang masih terbaring tidur. Perasaanku
mendadak mulai gelisah, heran, dan diselimuti tanda tanya. Tidak seperti
biasanya sosok Marun lenyap dari pandangan pagiku. Kemana..? Kemana..? Marun
kamu kemana? Mau tak mau aku harus menerima kalau Marun sudah pergi di salah
satu pagiku. Hari itu merupakan hari yang sangat berbeda, aku pergi ke sekolah
tanpa sosok Marun, aku hanya pergi bersama adikku saja. pagi yang sangat suram,
kalau saja aku bisa memilih, aku tidak mau pergi ke sekolah. Tapi aku hanya lah
sebuah pensil berwarna biru langit, yang akan selalu mengikuti pemilikku
membawa pergi kotak pensil beserta isinya. Setibanya di kelas, mataku tak dapat
dikedipkan. Aku sangat kaget melihat Marun yang sudah ada dalam kelas. Sama
sekali aku tidak merasa senang ketika melihatnya. Hatiku terasentak hancur
berkeping-keping ketika aku mendapati Marun sedang bersama Pekat, si pulpen
berpenampilan modern yang berwarna hitam pekat. Aku tidak tahu harus bersikap
bagaimana, apakah aku harus merasa sedih atau aku harus menerima kenyataan
pahit ini? Dan sekarang sudah satu bulan berlalu aku melewati pagiku tanpanya,
dan aku juga harus menikmati kepahitan di setiap harinya ketika aku berada di
kelas. Sangat terasa pahit ketika aku harus setiap hari melihat Marun bersama
si pulpen itu. Aku muak dengan kebodohanku, aku muak atas penyesalanku waktu
itu!!!
Pak
Baros : Aku mengerti apa yang
kamu rasakan, tapi juga kamu harus bisa belajar dari takdir yang dialami oleh
pena sepertiku. Aku ditakdirkan tak berpasangan seperti pensil dengan
penghapus, tipe-x dengan pulpen.
Walaupun sebenarnya banyak jenis pena sepertiku di luar sana, tapi tetap saja
pada setiap pemilik hanya memiliki satu pena, dan itu pun hanya orang-orang
tertentu saja yang memakainya. Seharusnya kamu bersyukur, karena kamu memiliki
banyak kesempatan untuk memilih tak sendirian.
Langit : Jadi, sekarang aku harus
bagaimana? Aku sungguh tak bisa jika harus memaksakan Marun untuk membalas
cintaku, apalagi jika harus memintanya untuk kembali.
Ceritanya berakhir
bertepatan dengan munculnya mentari. Langit merasa puas dengan apa yang sudah
dia luapkan dari dalam hatinya. Tak ada lagi raungan-raungan keras yang akan dia
ungkapkan. Kehadiran Pak Baros di tengah sepinya itu sangat membantu dirinya
untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bahkan Langit pun dapat sedikit belajar
dari perkataan Pak Baros, bahwa dirinya masih tergolong beruntung sebagai
pensil yang sedang mengalami keresahan, dibandingkan dengan sang pena yang
sudah ditakdirkan untuk berjalan sendiri. Dari perkataan itu lah yang dapat
mengubah suasana hati Langit sedikit tenang.
Dengan datangnya
mentari pagi, itu menandakan bahwa Pak Baros sudah harus kembali ke tempat
singgahnya, yaitu di atas meja. Pak Baros melangkah pergi meninggalkan Langit
bersama kotak pensilnya. Raut wajah penuh senyum coba Langit perlihatkan disaat
sang pena berbalik badan, dan berkata “Terimakasih banyak, pak! Atas pendengaran
dan saran yang kau berikan”. Setelah Pak Baros sudah tak terlihat lagi, kini
Langit masuk ke dalam kotak pensil untuk membangunkan Pelangi. Namun tidak
begitu lama ketika Langit hendak masuk dalam kotak pensil, Langit merasakan
adanya sosok di luar kotak. Langit mengira kalau Pak Baros kembali lagi untuk
mengambil sesuatu yang tertinggal, tapi perkiraannya itu salah. Ternyata bukan Pak
Baros lah yang sekarang mendatanginya. Langit mencoba keluar dari kotak
pensilnya, pandangan matanya mulai merambat dari bawah sampai ke atas.
Terlihatlah sosok sudah tidak asing lagi baginya, sosok yang baru saja dia
ceritakan kepada Pak Baros, yaitu Marun.
“Hai, Langit..selamat
pagi!” terdengar sapaan yang diberikan Marun kepada Langit. Tidak disangka
kalau yang ada dihadapannya adalah Marun. Langit mencoba menyapa kembali dengan
perasaan yang bercampur aduk, “Selamat pagi juga, Marun! Kenapa kamu kembali?
Dan kenapa waktu itu kamu pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun?” Itu
adalah pertanyaan spontan yang dilontarkan terhadap Marun. Karena sudah cukup
lama Langit menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kejanggalan dalam
pikirannya. Maka dalam pertanyaan itu terdengar nada yang sedikit emosi.
Sebenarnya Langit bingung harus bersikap bagaimana dengan kembalinya sosok
Marun di hadapannya. Langit pun belum tahu apakah kedatangannya itu untuk
kembali singgah atau hanya bermaksud ingin berbicara dengan Langit saja. Tetapi
yang pasti, dalam lubuk hatinya Langit merasa senang akan kehadiran Marun pagi
itu.
Marun mendekat tepat berada di hadapan
Langit, dan mencoba menjelaskan “Aku pergi..”. Marun belum sempat menjelaskan
apa yang sebenarnya terjadi, tapi Langit langsung memotongnya diawal kalimat
“Apa? Iya, aku tahu kamu pergi bersama si Pekat. Dia memang lebih keren, lebih
menarik, dan lebih modern. Sedangkan aku hanya sebuah pensil yang tak cukup
modern”. Marun hanya menganga dengan mendengarkan pandangan yang dilihat oleh
Langit. “Aku memang pergi ke tempat Pekat, tapi apakah kamu tahu yang terjadi
sebelumnya?” Marun mencoba membela dirinya dengan menyangkal pandangan yang
diberikan oleh Langit. “Apa..apa..apa yang terjadi sebelumnya? Kamu memang
sengaja, kan, untuk pergi menemui si Pekat?” sambil menyerongkan badan, Langit
menanyakan penuh rasa penasaran.
“Kamu ingat pertanyaanku tentang cinta?
Semenjak itu lah aku mulai berpikir bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku.
Untuk apa kamu selalu ciptakan moment berkualitas, jika kamu tidak dapat
mengartikannya? Aku ini kamu anggap apa? Malam itu disaat kamu tertidur, aku
pergi ke teras depan. Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Mungkin Pekat melihatku dari jendela rumah pemiliknya, kemudian dia keluar
untuk menghampiriku. Kucoba bercerita apa yang terjadi, lalu dia menyarankan
untuk ikut bersamanya dalam beberapa hari”, Marun mulai merasa tenang, nada
suaranya sudah mulai terdengar lembut. Sambil menjelaskan, Marun membalikkan badan
Langit agar menghadapnya.
Karena mendengar nada suara Marun yang
mulai melembut, Langit pun menghadapkan pandangannya yang tak ditekuk lagi.
Langit meletakkan kedua tangannya di atas kedua sisi bahu Marun, “Aku selalu
ingat dengan pertanyaanmu waktu itu, maafkan aku yang tidak sempat menjawabnya,
itu semua karena keegoisanku. Sehingga aku tak mengerti apa yang pertanyakan.
Aku tidak menyangka kalau kamu akan bertanya seperti itu. Setahu aku, kamu
selalu acuh dengan semua ungkapan-ungkapan perasaanku. Jadi apa maksud dari
pertanyaanmu waktu itu?” Dengan matahari yang menyorot dari arah jendela,
nampaklah bayangan siluet mereka dari arah yang berbeda. Nampak samar, namun
suasana keromantisannya terlihat jelas di atas meja belajar.
Marun menarik napasnya cukup dalam dan
mengeluarkannya secara perlahan. Tanda bahwa Marun sudah siap untuk
mengungkapkan semuanya. “Acuh bukan berarti tidak peka! Aku sangat peka dan
mengerti dari semua ungkapan-ungkapanmu. Aku hanya mencoba memberikan ruang
atas ketulusan pengorbananmu untuk memilikiku. Tapi semua yang kudengar hanya
sebuah ungkapan saja, tanpa kejelasan. Yang aku inginkan adalah sebuah
komitmen. Aku ini perempuan, aku butuh komitmen yang jelas. Maka dari itu aku
mencoba memancingmu dengan pertanyaan yang kuberikan. Cinta datangnya dari
mana? Apakah kamu mencintaiku? Jika cinta yang kamu rasakan itu datangnya dari
aku, maka akulah cintamu. Tapi kenapa kamu tidak mendatanginya? Sekarang malah
cinta yang mendatangimu”.
Langit hanya bisa terdiam mendengar
semua yang dikatakan oleh Marun. Pandangannya penuh haru, Langit menanyakan
kebodohan apa yang ada dalam dirinya. Langit merasa dirinya sangat tidak pantas
untuk berprasangka buruk seperti sebelumnya. Semua hardikan yang diberikan
terhadap Marun sangat tidak pantas untuk dilontarkan. Detik itu juga Langit
melihat sosok Marun lengkap dengan kesempurnaannya. Seperti malaikat turun dari
singgasananya dan kemudian memberi penerang bagi jalan pikirannya. Betapa
kecilnya Langit di hadapan Marun, karena begitu saja dia tidak mengerti apa
yang ada dalam hatinya Marun. Kedua tangannya Langit tidak lagi diletakkan di
atas bahunya Marun. Kini kedua tangannya meraih kedua telapak tangan Marun.
Dengan perlahan Langit berlutut di hadapan Marun. Beberapa menit Langit
menundukkan kepalanya, kemudian mulai mengangkatnya menatap mata Marun. “Tak
aku sangka betapa dalamnya yang kamu rasakan. Karena begitu dalamnya, sehingga
aku tak dapat memahimanya. Maafkan atas semua yang tak aku pahami, tapi itu
bukan maksudku, bukan juga inginku. Tetapi ini semua karena rasa egoku yang
membutakan jalan pikiranku yang tak dapat memahamimu!!!” Langit meminta maaf
kepada Marun dengan nada suara yang terbata-bata, penuh sesal atas
keegoisannya.
“Tak perlu minta maaf atas semua yang
kamu sesali, karena tak ada yang perlu disalahkan. Aku sengaja pergi menjauh
selama satu bulan, aku bermaksud untuk memberi ruang kosong pada hati dan
pikiranku. Tapi ternyata ruang itu tidak kosong, karena kamu tetap selalu ada
dalam hati dan pikiranku. Kini aku datang menemuimu bukan untuk menagih
perasaanmu padaku, tapi aku datang untuk memberikan cintaku padamu. Karena aku
adalah cintamu!!!”, kedua tangan Marun berbalik lebih kuat menggenggam tangan
Langit. Sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Marun, rasa cintanya yang kuat
terhadap Langit mampu membukakan hati dan pikirannya. Marun tidak mempedulikan
siapa dulu yang harus mengungkapkan perasaan cinta. Karena bagi Marun, “rasa
hati yang kuat berhak mengungkapkan perasaannya, entah itu laki-laki atau perempuan”.
Rasa hati yang kuat dapat menyampingkan semua perasaan negatif yang dapat
menghambat suatu ungkapan. Sejatinya seperti sebuah pensil yang semakin
diserut, semakin bermanfaat bagi orang yang menggunakannya. Baik hanya untuk
menyalin tulisan, maupun untuk mengungkapkan perasaan melalui media tulisan.
0 komentar:
Posting Komentar