interesting writing it from the heart

IQBAL BACHTIAR

Selamat datang di blog saya
About Me
Tulisan-tulisan ini bukan tentang aku, tetapi saya!

Jumat, 15 Januari 2016


Malam itu hujan cukup deras, kederasannya pun cukup ampuh untuk meredam kegalauan malam itu. Hingar-bingar kehidupan sudah terganti oleh lelap. Namun malam itu bukan malam yang beruntung untuk sebuah pensil malang yang sedang meratapi kegelisahannya. Iya, sebuah pensil berwarna biru langit yang bertempat tinggal di dalam kotak pensil berukuran sedang, dan panggil saja dia si Langit. Tepatnya pukul 1.30 malam, Langit masih terjaga dalam dera. Malam itu dia belum dapat mengendalikan kantuk untuk melawan rasa gelisahnya. Semenjak kejadian satu bulan yang lalu dia tak kunjung dapat memejamkan lelapnya setiap malam. Rasa sakitnya masih saja terngiang-ngiang dalam pikirannya. Perkataan yang diucapkan oleh sesosok perempuan (sebuah pensil berwarna marun) masih belum dapat dipahami secara logika. Bukan kata-kata puitis dan romantis, terlebih sebuah tindakan tanpa pesan. Hati Langit hancur berkeping-keping bagai cermin yang sengaja dilemparkan, kemudian terbentur medan keras.
Langit ingin sekali bercerita, berkeluh-kesah atas apa yang sedang dilandanya. Dia bingung harus mencurahkan pada siapa. Yang ada hanya adiknya, sebuah penghapus bermotif pelangi, dan panggil saja dia si Pelangi. Tetapi Pelangi malam itu sudah terlelap, mungkin juga sudah sedang bermimpi. Dan kalaupun Pelangi masih terjaga, Pelangi bukan tempat yang tepat untuk diajak berkeluh-kesah, apalagi tentang cinta. Kalau dalam dimensi manusianya, Pelangi itu merupakan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Maklum, kini mereka hanya tinggal berdua di dalam kotak pensil. Tak ada yang lain selain adiknya itu, si penghapus bermotif pelangi yang selalu menemaninya setiap hari.
Setelah 30 menit berlalu, kini hujan kembali mereda, kapasitas air yang turun mulai berkurang. Suara air hujan yang bergemuruh kini berubah menjadi suara gemericik yang tenang. Lambat laun suasana semakin hening, bersambut dengan suara-suara serangga yang mulai bereksistensi. Perasaan Langit mulai tenang mengalir mengikuti alur keheningan. Sudah tak begitu nampak raut muka Langit yang menekuk tajam. Namun Langit masih tetap ingin mencurahkan apa yang sedang dirasakannya. Dia masih tetap menolak untuk memendamnya. Baginya itu tidak cukup untuk mengobati apa yang sudah dideranya. “Saat ini aku sedang membutuhkan teman yang dapat aku jadikan sebagai penyimak, penonton, penasehat, dan tempat yang baik untuk dijadikan sandaran” Langit berujar dalam hati sambil menatap cahaya lampu belajar yang hampir menembus ke dalam kotak pensil. Tak lama ujarannya yang terbalut oleh keheningan itu berlalu, kemudian terdengar suara langkah ketukan yang melompat-lompat. Serentak, perasaan Langit semakin tak keruan. Perasaan yang awalnya sedih, sakit, dan kecewa, kini tiba-tiba berubah menjadi rasa was-was. Pikiran Langit berubah haluan, Langit mulai menganalisis dan mendefinisikan jenis yang dia dengar. Lagi-lagi Langit kembali berujar dalam hati “suara apa itu, ya?” Pikiran Langit melanglang cukup jauh. Dia mendefinisikan bentuk dan jenis dari suara itu. Selintas Langit mendefinisikan kalau suara itu adalah suara langkah kaki manusia, namun jika dianalisis secara logika, manusia melangkah tidak dengan cara melompat-lompat. Rasa was-was Langit semakin tak terkendali. Dia mulai cemas, “jangan-jangan itu suara hantu pocong yang melompat-lompat”. Tapi lagi-lagi dia mencoba memutar-balikkan fakta, bahwa suara lompatan hantu pocong mungkin tak dapat didengar. Walaupun hantu pocong melompat-lompat, jelas lompatannya itu tak menghasilkan suara ketukan. Dan jika benar suara itu berasal dari hantu pocong, seharusnya Langit tak perlu takut. Karena faktanya hantu hanya akan menakuti manusia saja, dan belum ada sejarahnya hantu menakuti sebuah pensil. Namun hasil analisis Langit belum menghasilkan fakta yang nyata, sebelum apa yang didengarnya sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Suaranya terdengar semakin dekat, kira-kira jaraknya sekitar satu jengkal tangan manusia. Ternyata suara itu benar-benar menghampiri kotak pensil. Langit pun mulai mengambil ancang-ancang siaga, ditakutkan jika asal dari suara itu dapat membahayakan Langit dan adiknya. Suara ketukan itu semakin mendekat dan semakin jelas. Tiba-tiba suaranya berhenti, jaraknya tepat sekitar dua jari manusia. Kini suasana menjadi hening, suara ketukan itu sudah tak terdengar lagi. Suasananya berubah kembali seperti sebelum suara ketukan itu datang menghampiri. Sekarang yang terdengar hanya suara gemercik hujan, suara-suara serangga, dan suara detik jarum jam dinding. Perasaan Langit bukannya menjadi tenang, tapi malah menjadi semakin tak keruan. Hati Langit bertanya-tanya, suara apa yang membuat dirinya penasaran. Langit mulai bingung harus bagaimana, ketika tiba-tiba suara itu tak terdengar kembali. Langit sangat yakin ada sesuatu yang menghampirinya, dan sekarang sesuatu tersebut ada di dekat kotak pensilnya. Tak banyak berpikir lagi, Langit memutuskan untuk memberanikan diri membuka tutup kotak pensil dan mencoba melihat dari posisi asal suara yang didengarnya. Dengan sangat pelan, tetapi pasti, Langit membuka tutup kotak pensil secara perlahan. Sedikit demi sedikit tutup kotak pensil tersebut memberi celah dan sedikit demi sedikit sudut kamar yang gelap mulai terlihat. Langit semakin gundah, perasaannya bergetar kencang. Namun Langit tak pantang menyerah, dia harus segera memutuskan agar rasa penasarannya berakhir. Baginya, daripada dia hanya berdiam saja menunggu yang tidak jelas, lebih baik dia membuka tutup kotak pensil dan melihat dengan jelas, suara apakah itu? Setelah tutup kotak pensil itu terbuka cukup lebar. Taraaaaaaa..! Ternyata suara ketukan tersebut berasal dari langkah sebuah pena. Pena itu terlihat hanya diam saja di depan kotak pensil, matanya menatap tajam ke arah Langit. Jika dilihat dari tampilannya, usia pena tersebut sudah dapat dikatakan berumur. Mungkin juga kehidupan yang dilewatinya sudah melintasi beberapa generasi, karena terlihat dari tampilan warnanya yang hitam diperpadukan sedikit sentuhan warna gold metalic, lengkap dengan pernak-pernik elegant namun tetap terlihat classic dengan ciri khas bentuk runcing pada ujung kepalanya.
Pak Baros       : Selamat malam!
Langit          : Iiiiiiiiya, selamat malam! Maaf, kalau boleh tahu. Bapak siapa, ya?  Sepertinya aku tidak pernah melihat bapak.
Pak Baros    : Kamu baik-baik saja, nak? Nada bicaramu seperti yang ketakutan. Tenang, jangan takut. Aku termasuk pena yang baik! Panggil saja aku Baros, pak Baros! Aku tinggal di rumah yang sama sepertimu, nak. Namun bedanya aku tak memiliki kotak yang seperti dirimu tempati. Aku hanya selalu dikaitkan dalam saku jas atau saku kemeja pemilikku. Dan ketika pemilikku tiba di rumah, aku hanya diletakkan saja di atas meja kerja.
Langit          : Lalu, kenapa Pak Baros menghampiri kotak pensilku dengan melompat lompat? Apa yang membawamu datang kemari? Seingatku, aku sama sekali tak membuat kebisingan.
Pak Baros      : Kamu memang tak membuat kebisingan, dan aku bisa sampai kemari hanya kebetulan saja. aku melompat-lompat karena malam ini terasa hening, tak sedikitpun terdengar suara langkah. Aku sengaja iseng berkeliling di sekitar rumah ini. Aku merasa bosan jika selalu berdiam seorang diri di atas meja. Aku tak seperti jenis kalian yang saling berpasangan. Pensil sepertimu pasangannya dengan penghapus, dan pulpen pasangannya dengan tipe-x. Sedangkan pena sepertiku tak akan cocok kalau harus dipasangkan  dengan penghapus atau pun tipe-x. Maka dari itu aku berkeliling untuk merebahkan kebosananku. Tak disangka aku melihat kotak pensil yang diterangi oleh lampu belajar. Maaf jika aku sempat membuatmu takut, dan maaf juga aku hanya berdiam saja di depan kotak pensil ini. Karena aku tak cukup pantas untuk memanggil atau membuka tutup kotaknya di tengah malam seperti ini. Aku takut mengganggu penghuninya yang mungkin sedang terlelap.
Langit             : Ah tidak, aku masih terjaga. Aku terjaga karena-nya!
Pak Baros       : Oh..aku mengerti sekarang. Kamu pasti sedang didera oleh kegelisahan. Dan pastinya kegelisahan itu berkisah tentang perempuan. Coba ceritakan, ungkapkan saja semuanya agar mencair. Kebetulan juga besok hari libur, jadi kita bisa terjaga hingga esok pagi.
Dia adalah si pensil mungil nan-cantik yang berwarna merah marun, panggil saja dia si Marun. Aku dan Marun sudah cukup lama bersama. Sejak pemilik kami masih duduk di bangku kelas 6 SD, dan sampai sekarang pemilik kami sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Awalnya pemilik kami membeli kotak pensil ini lengkap satu paket beserta aku (pensil berwarna biru langit), adikku (penghapus bermotif pelangi), dan dia (pensil berwarna merah marun). Cukup lama kami bertiga tinggal bersama dalam kotak pensil ini. Terkadang pemilikku selalu memakai pensil secara bergantiaan, kira-kira hanya bersela satu hari saja. Misalkan hari ini dia memakai aku, kemudian keesokannya berganti memakai Marun. Akan tetapi untuk mata pelajaran menggambar, pemilikku lebih sering memakai aku. Karena pensil sepertiku yang memiliki diameter cukup lebar dan memiiki isi arang yang tebal, maka akulah yang lebih sering dipakainya. Berbeda dengan pensil seperti Marun, pensil sepertinya hanya memiliki diameter yang mungil dan isi arang yang lebih halus, maka Marun lebih cocok dipakai untuk menulis saja. Tak lupa juga ada adikku yang selalu berperan sebagai penghapus. Jika ada yang bertanya, kenapa dia bisa dikatakan sebagai anak-anak? Karena dia bagian bonus dariku. Beli satu pensil gratis satu penghapus bermotif pelangi. Dan belakangan ini aku mulai merindukan keutuhan penghuni dalam kotak pensil ini. Terutama aku sangat merindukan sosok pensil berwarna merah marun. Padahal baru satu Minggu saja kita tak bersama, namun rasa kehilangannya sangat terasa mendalam.
Lambat laun kedekatan aku dengan Marun semakin tak terkendali. Kedekatanku dengannya membuahkan benih-benih yang membawaku pada sebuah harapan lebih. Aku ingin memilikinya, aku ingin mengajaknya agar selalu ada disampingku. Aku berjanji jika dia dapat menerimaku, aku akan menjaga kepercayaannya, dan aku juga akan menyirami kasih sayang yang setiap harinya akan selalu tumbuh. Jika digambarkan, anggap saja aku sedang memelihara tanaman mawar yang bunganya akan tetap selalu mekar dengan indah, selama aku bisa merawat dan memeliharanya dengan baik. Bagiku, Marun adalah bunga mawar putih yang keindahannya selalu menyapa di setiap pagiku. Semenjak Marun mengisi pagiku, aku tak peduli akan kondisi cuaca esok pagi, mendung atau pun cerah. Karena yang terpenting bagiku adalah Marun selalu ada di setiap aku terbangun. Karena dari situlah aku dapat selalu tersenyum bahagia.
Pencapaian timbal balik benih cinta padanya bisa dikatakan tidak sempurna. Cukup sulit bagiku untuk cepat sampai pada titik yang dituju. Banyak tikungan yang harus aku lewati terlebih dahulu sebelum kembali ke jalur utama. Karena masih pendeknya jam terbang yang aku punya, aku cukup kesulitan mengarungi hati perempuan. Aku tidak tahu harus bagaimana ketika hati ingin mendekat, namun apa daya kepekaan tak sampai. Pernah pada suatu malam aku dan dia sedang duduk berdua di atas lampu belajar. Kebetulan malam itu gorden kamar tidak ditutup, jadi kita bisa menikmati indahnya langit malam berdua. Walaupun malam itu langit sedang dalam keadaan mendung, tapi mata hatiku berkata lain. Malam itu langit sangat cerah sekali. Walaupun malam itu langit tak berbintang, tapi bagiku, bintangku ada di sampingku. Kuajak dia berbincang-bincang tentang isi hati, kuajak dia berbincang tentang malam, dan kuajak dia berbincang tentang masa depan. Dari situlah aku menyadari kalau dia tak begitu peka, dia hanya membalas perbincanganku dengan makna yang nyata, bukan dianggap sebagai makna yang beristilah. Misalnya; aku mengatakan “Aku merasa sangat senang bisa duduk berdua di atas lampu belajar bersamanya, walaupun langit yang kita lihat hanya langit yang mendung tanpa bintang. Aku merasa sangat takut jika malam-malam berikutnya kita tidak bisa duduk seperti malam itu lagi. Entah bagaimana jadinya jika aku hanya duduk sendirian dan yang aku pandangi hanya segumpal langit mendung tanpa bintang. Pasti aku tak sanggup untuk berlama-lama duduk di atas lampu belajar ini”. Setelah aku mengungkapkan beberapa patah kalimat bermakna, tetapi dia hanya membalas “aku juga merasa senang bisa duduk berdua, apalagi harus memandangi langit yang mendung tanpa bintang. Aku juga pasti akan merasa takut jika harus duduk sendirian. Takut jika tiba-tiba turun hujan, lalu nanti aku turun dibantu oleh siapa?” Seperti itulah ketidakpekaan dari sikapnya yang kurang memahami maksud obrolanku. Dari bentuk ujaran “duduk berdua” saja aku sudah dapat mengartikannya. Bahwa, dia hanya senang duduk berdua di atas lampu belajar itu saja, tetapi bukan karena bersamaku yang mendampinginya.
Sore itu sepulang sekolah, aku mengajak Marun untuk berjalan-jalan di sekitar komplek. Langit pada sore itu cukup sangat mendukung, cerah, dan sangat cocok untuk aku habiskan waktu bersamanya. Berjalan berdua di tepi jalan yang orang-orang biasa menyebutnya trotoar. Aku langkahkan kakiku dengan begitu santai, kucoba menyelaraskan langkah kakiku dengan langkah kaki Marun, agar terlihat kompak, serasi, dan selaras. Walau tidak ada seorangpun yang melihat akuberjalan dengan Marun, tetapi aku tetap merasa bangga bisa berjalan bersamanya. Aku bangga bisa berjalan dan bergandengan tangan dengan sosok pensil berwarna Marun yang kusayangi. Terkadang aku selalu membanding-bandingkan rasa sayangku padanya dengan rasa sayangku pada diriku sendiri. Aku merasa, aku lebih menyayanginya melebihi rasa sayangku pada diri sendiri. Aku rela melakukan apa saja demi dirinya. Mungkin memang itu terdengar mainstream, tapi itulah cinta, sedikit memaksakan logika untuk menjadi masuk akal. Seperti biasa, sepanjang perjalanan aku selalu melayangkan ungkapan-ungkapan yang sedang aku rasakan, dengan harapan dia dapat meresponnya dengan sempurna. Aku sadar, aku hanya bisa merayunya dengan berbagai macam kalimat rayuan sederhana saja. Karena bagi sebuah pensil sepertiku tidak banyak yang dapat aku lakukan, aku tidak dapat memberinya satu tangkai bunga ataupun balon warna-warni yang bisa aku gunakan sebagai ungkapan perasaanku. Aku hanya bisa memanfaatkan huruf-huruf vokal yang diujarkan, kemudian kukemas menjadi lebih indah dan bermakna.
Aku masih saja ingat pertanyaan yang pernah dia tanyakan padaku. Sebuah pertanyaan sederhana yang sekarang aku sesali tak bisa menjawabnya. Aku menyesal waktu itu tidak terlalu menanggapi apa yang dia tanyakan, baru sekarang aku menyadari bahwa perntanyaannya itu sangat berarti untuk dirinya. Bahkan kalau aku bisa menjawabnya, mungkin itu juga akan menjadi pertanyaan penting bagiku. Berbaur dengan kebisingan suara kendaraan yang berlalu-lalang, pertanyaan itu diucapkan secara tiba-tiba “Cinta datangnya dari mana? Apakah kita yang mendatangi cinta atau cinta yang mendatangi kita?” Sekitar beberapa menit kita saling menatap, setelah dia selesai bertanya. Aku menatapnya dengan penuh heran, aku tak mengerti apa yang dibicarakannya. Tak seperti biasanya dia menanyakan sesuatu yang cukup dalam untuk dimengerti. Karena seperti yang kuketahui, semenjak dia dekat denganku, tak pernah sedikit pun dia mengujarkan tentang cinta. Kualihkan pandanganku ke arah perosotan yang sedang dimainkan oleh anak kecil. Sedangkan aku bersama Marun duduk di dalam lingkaran permainan ban, kita tidak cukup berani untuk menampakkan diri di lingkungan masyarakat. Apalagi di tengah lingkungan taman komplek yang waktu itu kita kunjungi. Hingga menjelang petang, kita bergegas untuk pulang. Kita berharap dalam perjalanan tak ada seorang pun yang melihat sepasang pensil berjalan di trotoar.
Semenjak pertanyaan yang dia lontarkan, semenjak itu juga sepanjang perjalanan pulang kita dalam keheningan. Entah mengapa dia tidak bersuara sedikit pun, tetapi yang kulihat dari raut wajahnya, dia menunjukkan ekspresi yang biasa saja. aku tidak merasa tenang dengan ekspresi seperti itu, walaupun biasa saja, tapi aku yakin ada yang berbeda dalam pikirannya. Tiba-tiba nyaliku menciut tidak berani untuk mengajaknya berbicara, apalagi untuk menanyakan maksud dari pertanyaannya itu. Sesampainya di rumah, dia masih berdiam saja tanpa sepatah kata. Dia hanya bercakap dengan adikku pelangi, itu pun karena adikku mengajakknya bicara. Sempat aku berpikir apakah aku harus mengajaknya bicara terlebih dulu seperti yang adikku lakukan. Entah lah, yang pasti waktu itu nyaliku benar-benar terasa menciut, tubuhku terasa sangat kecil di hadapannya. Mulutku terasa rata tanpa bibir, sehingga semua yang ada dalam pikiranku terasa sulit untuk diucapkan. Hingga malam melelapkan rasa kantukku, kita berbaring dalam satu kotak tanpa sepatah kata.
Suara ayam berkokok tanda pagi datang, begitu juga seperti situasi yang ada diantara aku dengan Marun, pasti tak akan seperti tadi malam. Dalam keadaan mataku yang masih terpejam tapi aku sudah terbangun, pikiran melanglang, aku berpikir kalau saat aku terbangun pasti otakku mulai fresh kembali, pikiranku pun pastinya sudah mulai jernih, dan keberanianku pun sudah dipastikan akan berani untuk memulai percakapan dengan Marun. Aku sudah merasa tenang, tidak seperti tadi malam yang otak dan pikiranku tak dapat membaur dengan baik. Kucoba untuk membuka mata, pandanganku mulai mencari sosok Marun. Sejenak aku mengamati di setiap sudut sisi kotak, namun sosok yang aku cari tak kunjung aku temukan. Aku hanya melihat sosok adikku yang masih terbaring tidur. Perasaanku mendadak mulai gelisah, heran, dan diselimuti tanda tanya. Tidak seperti biasanya sosok Marun lenyap dari pandangan pagiku. Kemana..? Kemana..? Marun kamu kemana? Mau tak mau aku harus menerima kalau Marun sudah pergi di salah satu pagiku. Hari itu merupakan hari yang sangat berbeda, aku pergi ke sekolah tanpa sosok Marun, aku hanya pergi bersama adikku saja. pagi yang sangat suram, kalau saja aku bisa memilih, aku tidak mau pergi ke sekolah. Tapi aku hanya lah sebuah pensil berwarna biru langit, yang akan selalu mengikuti pemilikku membawa pergi kotak pensil beserta isinya. Setibanya di kelas, mataku tak dapat dikedipkan. Aku sangat kaget melihat Marun yang sudah ada dalam kelas. Sama sekali aku tidak merasa senang ketika melihatnya. Hatiku terasentak hancur berkeping-keping ketika aku mendapati Marun sedang bersama Pekat, si pulpen berpenampilan modern yang berwarna hitam pekat. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, apakah aku harus merasa sedih atau aku harus menerima kenyataan pahit ini? Dan sekarang sudah satu bulan berlalu aku melewati pagiku tanpanya, dan aku juga harus menikmati kepahitan di setiap harinya ketika aku berada di kelas. Sangat terasa pahit ketika aku harus setiap hari melihat Marun bersama si pulpen itu. Aku muak dengan kebodohanku, aku muak atas penyesalanku waktu itu!!!
Pak Baros           : Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi juga kamu harus bisa belajar dari takdir yang dialami oleh pena sepertiku. Aku ditakdirkan tak berpasangan seperti pensil dengan penghapus, tipe-x dengan pulpen. Walaupun sebenarnya banyak jenis pena sepertiku di luar sana, tapi tetap saja pada setiap pemilik hanya memiliki satu pena, dan itu pun hanya orang-orang tertentu saja yang memakainya. Seharusnya kamu bersyukur, karena kamu memiliki banyak kesempatan untuk memilih tak sendirian.
Langit                 : Jadi, sekarang aku harus bagaimana? Aku sungguh tak bisa jika harus memaksakan Marun untuk membalas cintaku, apalagi jika harus memintanya untuk kembali.
Ceritanya berakhir bertepatan dengan munculnya mentari. Langit merasa puas dengan apa yang sudah dia luapkan dari dalam hatinya. Tak ada lagi raungan-raungan keras yang akan dia ungkapkan. Kehadiran Pak Baros di tengah sepinya itu sangat membantu dirinya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bahkan Langit pun dapat sedikit belajar dari perkataan Pak Baros, bahwa dirinya masih tergolong beruntung sebagai pensil yang sedang mengalami keresahan, dibandingkan dengan sang pena yang sudah ditakdirkan untuk berjalan sendiri. Dari perkataan itu lah yang dapat mengubah suasana hati Langit sedikit tenang.
Dengan datangnya mentari pagi, itu menandakan bahwa Pak Baros sudah harus kembali ke tempat singgahnya, yaitu di atas meja. Pak Baros melangkah pergi meninggalkan Langit bersama kotak pensilnya. Raut wajah penuh senyum coba Langit perlihatkan disaat sang pena berbalik badan, dan berkata “Terimakasih banyak, pak! Atas pendengaran dan saran yang kau berikan”. Setelah Pak Baros sudah tak terlihat lagi, kini Langit masuk ke dalam kotak pensil untuk membangunkan Pelangi. Namun tidak begitu lama ketika Langit hendak masuk dalam kotak pensil, Langit merasakan adanya sosok di luar kotak. Langit mengira kalau Pak Baros kembali lagi untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, tapi perkiraannya itu salah. Ternyata bukan Pak Baros lah yang sekarang mendatanginya. Langit mencoba keluar dari kotak pensilnya, pandangan matanya mulai merambat dari bawah sampai ke atas. Terlihatlah sosok sudah tidak asing lagi baginya, sosok yang baru saja dia ceritakan kepada Pak Baros, yaitu Marun.
“Hai, Langit..selamat pagi!” terdengar sapaan yang diberikan Marun kepada Langit. Tidak disangka kalau yang ada dihadapannya adalah Marun. Langit mencoba menyapa kembali dengan perasaan yang bercampur aduk, “Selamat pagi juga, Marun! Kenapa kamu kembali? Dan kenapa waktu itu kamu pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun?” Itu adalah pertanyaan spontan yang dilontarkan terhadap Marun. Karena sudah cukup lama Langit menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kejanggalan dalam pikirannya. Maka dalam pertanyaan itu terdengar nada yang sedikit emosi. Sebenarnya Langit bingung harus bersikap bagaimana dengan kembalinya sosok Marun di hadapannya. Langit pun belum tahu apakah kedatangannya itu untuk kembali singgah atau hanya bermaksud ingin berbicara dengan Langit saja. Tetapi yang pasti, dalam lubuk hatinya Langit merasa senang akan kehadiran Marun pagi itu.
Marun mendekat tepat berada di hadapan Langit, dan mencoba menjelaskan “Aku pergi..”. Marun belum sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Langit langsung memotongnya diawal kalimat “Apa? Iya, aku tahu kamu pergi bersama si Pekat. Dia memang lebih keren, lebih menarik, dan lebih modern. Sedangkan aku hanya sebuah pensil yang tak cukup modern”. Marun hanya menganga dengan mendengarkan pandangan yang dilihat oleh Langit. “Aku memang pergi ke tempat Pekat, tapi apakah kamu tahu yang terjadi sebelumnya?” Marun mencoba membela dirinya dengan menyangkal pandangan yang diberikan oleh Langit. “Apa..apa..apa yang terjadi sebelumnya? Kamu memang sengaja, kan, untuk pergi menemui si Pekat?” sambil menyerongkan badan, Langit menanyakan penuh rasa penasaran.
“Kamu ingat pertanyaanku tentang cinta? Semenjak itu lah aku mulai berpikir bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku. Untuk apa kamu selalu ciptakan moment berkualitas, jika kamu tidak dapat mengartikannya? Aku ini kamu anggap apa? Malam itu disaat kamu tertidur, aku pergi ke teras depan. Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Mungkin Pekat melihatku dari jendela rumah pemiliknya, kemudian dia keluar untuk menghampiriku. Kucoba bercerita apa yang terjadi, lalu dia menyarankan untuk ikut bersamanya dalam beberapa hari”, Marun mulai merasa tenang, nada suaranya sudah mulai terdengar lembut. Sambil menjelaskan, Marun membalikkan badan Langit agar menghadapnya.
Karena mendengar nada suara Marun yang mulai melembut, Langit pun menghadapkan pandangannya yang tak ditekuk lagi. Langit meletakkan kedua tangannya di atas kedua sisi bahu Marun, “Aku selalu ingat dengan pertanyaanmu waktu itu, maafkan aku yang tidak sempat menjawabnya, itu semua karena keegoisanku. Sehingga aku tak mengerti apa yang pertanyakan. Aku tidak menyangka kalau kamu akan bertanya seperti itu. Setahu aku, kamu selalu acuh dengan semua ungkapan-ungkapan perasaanku. Jadi apa maksud dari pertanyaanmu waktu itu?” Dengan matahari yang menyorot dari arah jendela, nampaklah bayangan siluet mereka dari arah yang berbeda. Nampak samar, namun suasana keromantisannya terlihat jelas di atas meja belajar.
Marun menarik napasnya cukup dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Tanda bahwa Marun sudah siap untuk mengungkapkan semuanya. “Acuh bukan berarti tidak peka! Aku sangat peka dan mengerti dari semua ungkapan-ungkapanmu. Aku hanya mencoba memberikan ruang atas ketulusan pengorbananmu untuk memilikiku. Tapi semua yang kudengar hanya sebuah ungkapan saja, tanpa kejelasan. Yang aku inginkan adalah sebuah komitmen. Aku ini perempuan, aku butuh komitmen yang jelas. Maka dari itu aku mencoba memancingmu dengan pertanyaan yang kuberikan. Cinta datangnya dari mana? Apakah kamu mencintaiku? Jika cinta yang kamu rasakan itu datangnya dari aku, maka akulah cintamu. Tapi kenapa kamu tidak mendatanginya? Sekarang malah cinta yang mendatangimu”.
Langit hanya bisa terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh Marun. Pandangannya penuh haru, Langit menanyakan kebodohan apa yang ada dalam dirinya. Langit merasa dirinya sangat tidak pantas untuk berprasangka buruk seperti sebelumnya. Semua hardikan yang diberikan terhadap Marun sangat tidak pantas untuk dilontarkan. Detik itu juga Langit melihat sosok Marun lengkap dengan kesempurnaannya. Seperti malaikat turun dari singgasananya dan kemudian memberi penerang bagi jalan pikirannya. Betapa kecilnya Langit di hadapan Marun, karena begitu saja dia tidak mengerti apa yang ada dalam hatinya Marun. Kedua tangannya Langit tidak lagi diletakkan di atas bahunya Marun. Kini kedua tangannya meraih kedua telapak tangan Marun. Dengan perlahan Langit berlutut di hadapan Marun. Beberapa menit Langit menundukkan kepalanya, kemudian mulai mengangkatnya menatap mata Marun. “Tak aku sangka betapa dalamnya yang kamu rasakan. Karena begitu dalamnya, sehingga aku tak dapat memahimanya. Maafkan atas semua yang tak aku pahami, tapi itu bukan maksudku, bukan juga inginku. Tetapi ini semua karena rasa egoku yang membutakan jalan pikiranku yang tak dapat memahamimu!!!” Langit meminta maaf kepada Marun dengan nada suara yang terbata-bata, penuh sesal atas keegoisannya.

“Tak perlu minta maaf atas semua yang kamu sesali, karena tak ada yang perlu disalahkan. Aku sengaja pergi menjauh selama satu bulan, aku bermaksud untuk memberi ruang kosong pada hati dan pikiranku. Tapi ternyata ruang itu tidak kosong, karena kamu tetap selalu ada dalam hati dan pikiranku. Kini aku datang menemuimu bukan untuk menagih perasaanmu padaku, tapi aku datang untuk memberikan cintaku padamu. Karena aku adalah cintamu!!!”, kedua tangan Marun berbalik lebih kuat menggenggam tangan Langit. Sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Marun, rasa cintanya yang kuat terhadap Langit mampu membukakan hati dan pikirannya. Marun tidak mempedulikan siapa dulu yang harus mengungkapkan perasaan cinta. Karena bagi Marun, “rasa hati yang kuat berhak mengungkapkan perasaannya, entah itu laki-laki atau perempuan”. Rasa hati yang kuat dapat menyampingkan semua perasaan negatif yang dapat menghambat suatu ungkapan. Sejatinya seperti sebuah pensil yang semakin diserut, semakin bermanfaat bagi orang yang menggunakannya. Baik hanya untuk menyalin tulisan, maupun untuk mengungkapkan perasaan melalui media tulisan.
Categories: , , ,

0 komentar:

Posting Komentar