interesting writing it from the heart

IQBAL BACHTIAR

Selamat datang di blog saya
About Me
Tulisan-tulisan ini bukan tentang aku, tetapi saya!

Jumat, 12 Februari 2016

iqhtiarphoto
BURGERKILL ON MONSTER STAGE
Bandung kembali membising dengan diadakannya acara konser musik metal. Mungkin untuk warga Bandung sudah tidak asing lagi, apabila di akhir pekan mereka melihat segerombolan muda-mudi yang berdominan memakai baju hitam berkeliaran di salah satu venue. Akan apalagi mereka kalau bukan untuk menghadiri acara musik akbar yang selalu diadakan setiap tahunnya.

"Menyandu bagai pecandu, menunaikan bagai umroh" slogan yang pantas untuk para penikmat acara musik keras, yang selalu berusaha untuk tidak absen di setiap tahunnya. Apresiasi dan keantusiasannya seakan tidak pernah hengkang dalam jiwa. Dimana ada kebisingan, di situ selalu ada penikmatnya. Slogan di atas sebagai bukti bahwa, bagi mereka menonton dan beraksi di acara musik khusunya beraliran metal bagaikan menunaikan ibadah umroh.

Minggu, 7 Februari 2016 kemarin telah terselenggaranya Festival Musik Hellprint United Day IV. Kali ini acara tersebut mengusung tema “New Blood, New Story”. Sesuai dengan tema yang diusungnya, acara tersebut dapat memberikan kesegaran darah baru dan cerita yang baru. Berbeda dari acara-acara yang sebelumnya, Hellprint menggebrak dengan kemegahan panggung yang lengkap dengan Lighting spektakuler. Bagaimana tidak megah, kalau panggungnya saja ada lima, semuanya berukuran besar. Walaupun ada perbedaan ukuran pada setiap panggungnya, tapi kelimanya cukup mampu menarik ribuan penonton. Tentunya panggung tersebut memiliki nama-nama yang sangat cadas, yaitu Death Stage, Rawk Stage, Hell Stage, Noise Stage, dan Monster Stage.         

Menurut salah satu Host yang menghiasi acara, “Hellprint United Day IV masuk dalam kategori Festival Musik Metal terbesar se-Asia”. Hal itu dikuatkan dengan adanya berita yang dimuat di Koran KOMPAS yang meliput acara tersebut. Serentak semua yang ada di area Venue sangat bangga mendengarnya. Para penonton merasa bangga, karena mereka juga secara tidak langsung ikut berkontribusi penuh demi keberlangsungan acara. Hellprint tidak akan menjadi apa-apa tanpa adanya para Metalhead yang berapresiasi dengan membeli tiket dan menikmati acara hingga akhir.         

Open Gate dimulai dari pukul 10.00. Suara sayatan distorsi sudah mulai terdengar sampai luar area. Jauh dari tempat acara, sudah terlihat para Aliansi Hitam yang berbondong-bondong menuju tempat acara. Bagi warga Kota Bandung tentu sudah tidak merasa asing lagi, apabila ada segerombolan muda-mudi berpenampilan cadas berseliweran di jalan, mengompreng mobil pick-up atau menyewa angkot, dan bersepeda motor, warga pasti sudah tahu kalau mereka akan menikmati acara musik keras. Dengan harga tiket Presale 75 ribu rupiah dan On The Spot 100 ribu rupiah, para Metalhead sudah dapat menikmati band-band cadas lokal maupun band luar. Bukan acara akbar kalau jumlah band yang tampilnya hingga 80 band. Dan band-band tersebut tidak hanya berasal dari Kota Bandung saja, akan tetapi banyak juga yang berasal dari luar kota, bahkan luar Negeri.                 

Acara Hellprint United Day IV berlangsung sangat membahan, menggelegar, dan mencekam. Pemilihan Venue pun sangat tepat, yaitu di Lap. Tegal Lega Bandung. Di tempat itulah para Metalhead berkumpul, berpesta, dan ugal-ugalan ala mereka. Di area Venue para Metalhead dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang sesuai kebutuhan, karena di dalam area Venue disediakan 12 Toilet Portable, 60 Booth Merch dan F&B, 2 Booth Charger Handphone, 2 Mushola Pria & Wanita, 1000 Trashbag, dan 1 ATM Mobile BCA (ATM bersama). Sungguh menjadi tempat ternyaman untuk para Metalhead. Dan satu lagi yang tidak kalah penting, demi keamanan acara panitia menyiapkan 1000 Personil Kepolisian yang bertugas di sekitar Venue.

Selepas istirahat waktu Dzuhur, suasana semakin mencekam. Band-band yang bisa disebut sebagai papan atas mulai dikeluarkan.ada Closehead, Lose It All, Tcukimay, Turtles JR, Fraud, dan Taring di Rawk Stage, Carnivored, Bleeding Corpse, Gugat, Aftercoma, Godless Symptoms, Nectura, Parau, Noxa, dan Mesin Tempur di Death Stage, Eyefeelsix, Rocket Rockers, Alone At Last, Don Lego, Billfold, Rosemary, dan Pas Band di Noise Stage, Beside, Down For Life, Kapital, Jasad, Death Vomit, Deadsquad, dan Incinerate salah satu band asal USA di Hell Stage, Humiliation, Koil, Superman Is Dead, Revenge The Fate, Burgerkill, Edane, dan Seringai di Monster Stage.      

Sebenarnya masih ada satu band Line Up lagi asal USA, yaitu Putrid Pile, namun sangat disayangkan salah satu band utama itu batal tampil. Raut wajah kekecewaan dari Metalhead sangat terlihat ketika para Host memberitahukan bahwa Putrid Pile batal tampil. Alasan kebatalannya dijelaskan langsung oleh Shaun LaCanne melalui tayangan video rekaman yang ditampilkan di LED LCD Stage. Dalam video tersebut kurang lebih Shaun LaCanne mengatakan bahwa “Putrid Pile tidak jadi tampil di Hellprint United Day IV, dikarenakan adanya badai salju yang melanda di Jepang. Dia meminta maaf yang sebesar-besar kepada Metalhead dan panitia acara. Sebenarnya dia ingin sekali tampil di Indonesia, namun apa daya penerbangan tidak bisa dilanjutkan karena adanya badai salju.

Namun, kegarangan acara tetap berlangsung tanpa Putrid Pile. Para Metalhead masih tetap terlihat berdatangan di pintu masuk. Dengan kekhasan mereka yang berpakaian serba hitam, area Venue menjadi lautan hitam pekat. Bagaikan “menunaikan umroh” para penikmat musik keras datang dari berbagai daerah di Indonesia. Acara musik tahunan ini sudah menjadi lahapan terbaik yang sangat disayangkan kalau tidak didatangi. Semua yang hadir bukan hanya para muda-mudi saja, tapi orang-orang yang berfisik tua berjiwa muda pun hadir. Bahkan pasangan-pasangan Metalhead yang sudah berkeluarga pun nampak terlihat. Tidak tanggung-tanggung buah hati mereka pun hadir di tengah pesta.     

Air hujan yang turun dengan derasnya seakan tak nampak nyata. Para Metalhead tetap berpesta di bawah hujan dan di tengah area moshpit. Meneriakkan lirik-demi-lirik lagu-lagu yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Siang hari tak kalah lagi dengan sore hari, apalagi ketika menginjak senja menuju malam. Di hadapan Lighting yang menyorot, mereka terus berugal-ugalan, berkali-kali menciptakan formasi Circle Death dan Wall Death, ada juga yang hanya berdiri saja sambil ber-headbang. Semuanya terhanyut-larut dalam kecekaman. Seakan lupa akan hari esok, seakan hari itu merupakan hari bersejarah untuk hari esok. Mau yang muda, tua, beruban, besar, kecil, bau ketek, beraroma parfum, sunda, jawa, kaya, atau juga miskin, jika sudah berdiri di tengah area moshpit, tidak ada perbedaan, semuanya sama, mereka adalah ‘Saudara’!

Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hampir semua band sudah mengeksistensikan kebrutalannya. Itu menandakan bahwa kegarangan sudah tiba di penghujung acara. Semua memfokuskan pada stage utama, yaitu Monster Stage. Ribuan pasang mata bertuju ke Monster Stage. “Jauh mendekat, yang sudah dekat merapat”, istilah yang sangat tepat untuk moment itu. Dengan sound 300.000 watt hasil penggabungan dari sound stage-stage lain, Hellprint United Day IV mulai menggelegar. Rasa kekecewaan karena band Putrid Pile batal hadir dapat terobati oleh penampilan band terakhir asal Jakarta, yaitu Seringai. Tanpa basa-basi Arian dan kawan-kawan menggebrag dengan beberapa lagu dari album ‘high octane’. Sungguh malam yang mencekam, rasa lelah, dingin karena basah-kuyup, dan lapar pun tidak terasa. Cukup mencair dengan lelucon-lelucon menggelitik yang dilontarkan oleh Arian (vokal). Kurang lebih salah satunya seperti ini, “Ada apa dengan Bandung? Banyak judul yang memakai kata’Hell’, ada Hell Shell, HellShow, Hellfrog, Hellprint. Apa karena Wali Kotanya Kang Ridwan Kamhell?” Jelas sudah, lelucon Arian dapat mencerminkan bahwa Metalhead tidak seburuk atau seseram yang dibayangkan, karena seorang Metalhead atau penikmat musik keras pun selucu leluconnya Arian Seringai.

Acara besar seperti Hellprin United Day IV sudah dapat mewakilkan dan menerjemahkan bahwa penikmat musik keras atau Metalhead tidak selamanya buruk. Harusnya masyarakat dapat lebih sedikit lebih pintar untuk membedakan negatif dan positif. Memang harus diakui kalau scene underground di Indonesia pada zaman dahulu cukup tergolong meresahkan. Akan tetapi semua dapat berubah, lain dulu, lain pula sekarang. Jangan selalu memicingkan sebelah mata kalian. Lihatlah, perkembangan scene underground di Indonesia sudah banyak kemajuan.

"Musik Metal memang keras, tetapi mengutamakan kualitas. Jiwa kami memang hitam, tetapi kami sama seperti kalian, manusia yang beriman dan beradab. Kami datang ke tempat yang hanya kami sukai. Tak peduli kalian berkata apa, karena ini cara kami berkarya dan mengapresiasikannya"

0 komentar:

Posting Komentar