![]() |
| BURGERKILL ON MONSTER STAGE |
"Menyandu
bagai pecandu, menunaikan bagai umroh" slogan yang pantas untuk para
penikmat acara musik keras, yang selalu berusaha untuk tidak absen di setiap
tahunnya. Apresiasi dan keantusiasannya seakan tidak pernah hengkang dalam
jiwa. Dimana ada kebisingan, di situ selalu ada penikmatnya. Slogan di atas
sebagai bukti bahwa, bagi mereka menonton dan beraksi di acara musik khusunya
beraliran metal bagaikan menunaikan ibadah umroh.
Minggu,
7 Februari 2016 kemarin telah terselenggaranya Festival Musik Hellprint United
Day IV. Kali ini acara tersebut mengusung tema “New Blood, New Story”.
Sesuai dengan tema yang diusungnya, acara tersebut dapat memberikan kesegaran
darah baru dan cerita yang baru. Berbeda dari acara-acara yang sebelumnya,
Hellprint menggebrak dengan kemegahan panggung yang lengkap dengan Lighting spektakuler.
Bagaimana tidak megah, kalau panggungnya saja ada lima, semuanya berukuran
besar. Walaupun ada perbedaan ukuran pada setiap panggungnya, tapi kelimanya
cukup mampu menarik ribuan penonton. Tentunya panggung tersebut memiliki
nama-nama yang sangat cadas, yaitu Death Stage, Rawk Stage, Hell Stage,
Noise Stage, dan Monster Stage.
Menurut salah satu Host yang
menghiasi acara, “Hellprint United Day IV masuk dalam kategori Festival Musik
Metal terbesar se-Asia”. Hal itu dikuatkan dengan adanya berita yang dimuat di
Koran KOMPAS yang meliput acara tersebut. Serentak semua yang ada di area Venue sangat
bangga mendengarnya. Para penonton merasa bangga, karena mereka juga secara
tidak langsung ikut berkontribusi penuh demi keberlangsungan acara. Hellprint
tidak akan menjadi apa-apa tanpa adanya para Metalhead yang
berapresiasi dengan membeli tiket dan menikmati acara hingga akhir.
Open Gate dimulai
dari pukul 10.00. Suara sayatan distorsi sudah mulai terdengar sampai luar
area. Jauh dari tempat acara, sudah terlihat para Aliansi Hitam yang
berbondong-bondong menuju tempat acara. Bagi warga Kota Bandung tentu sudah
tidak merasa asing lagi, apabila ada segerombolan muda-mudi berpenampilan cadas
berseliweran di jalan, mengompreng mobil pick-up atau menyewa
angkot, dan bersepeda motor, warga pasti sudah tahu kalau mereka akan menikmati
acara musik keras. Dengan harga tiket Presale 75 ribu rupiah
dan On The Spot 100 ribu rupiah, para Metalhead sudah dapat
menikmati band-band cadas lokal maupun band luar. Bukan acara akbar kalau
jumlah band yang tampilnya hingga 80 band. Dan band-band tersebut tidak hanya
berasal dari Kota Bandung saja, akan tetapi banyak juga yang berasal dari luar
kota, bahkan luar Negeri.
Acara
Hellprint United Day IV berlangsung sangat membahan, menggelegar, dan mencekam.
Pemilihan Venue pun sangat tepat, yaitu di Lap. Tegal Lega
Bandung. Di tempat itulah para Metalhead berkumpul, berpesta, dan ugal-ugalan
ala mereka. Di area Venue para Metalhead dimanjakan dengan
fasilitas-fasilitas yang sesuai kebutuhan, karena di dalam area Venue disediakan
12 Toilet Portable, 60 Booth Merch dan F&B, 2 Booth Charger Handphone, 2
Mushola Pria & Wanita, 1000 Trashbag, dan 1 ATM Mobile BCA (ATM bersama).
Sungguh menjadi tempat ternyaman untuk para Metalhead. Dan satu lagi yang tidak
kalah penting, demi keamanan acara panitia menyiapkan 1000 Personil Kepolisian
yang bertugas di sekitar Venue.
Selepas
istirahat waktu Dzuhur, suasana semakin mencekam. Band-band yang bisa disebut
sebagai papan atas mulai dikeluarkan.ada Closehead, Lose It All, Tcukimay,
Turtles JR, Fraud, dan Taring di Rawk Stage, Carnivored, Bleeding Corpse,
Gugat, Aftercoma, Godless Symptoms, Nectura, Parau, Noxa, dan Mesin Tempur di
Death Stage, Eyefeelsix, Rocket Rockers, Alone At Last, Don Lego, Billfold,
Rosemary, dan Pas Band di Noise Stage, Beside, Down For Life, Kapital, Jasad,
Death Vomit, Deadsquad, dan Incinerate salah satu band asal USA di Hell Stage,
Humiliation, Koil, Superman Is Dead, Revenge The Fate, Burgerkill, Edane, dan
Seringai di Monster Stage.
Sebenarnya
masih ada satu band Line Up lagi asal USA, yaitu Putrid Pile,
namun sangat disayangkan salah satu band utama itu batal tampil. Raut wajah
kekecewaan dari Metalhead sangat terlihat ketika para Host memberitahukan
bahwa Putrid Pile batal tampil. Alasan kebatalannya dijelaskan langsung oleh
Shaun LaCanne melalui tayangan video rekaman yang ditampilkan di LED LCD Stage.
Dalam video tersebut kurang lebih Shaun LaCanne mengatakan bahwa “Putrid Pile
tidak jadi tampil di Hellprint United Day IV, dikarenakan adanya badai salju
yang melanda di Jepang. Dia meminta maaf yang sebesar-besar kepada Metalhead
dan panitia acara. Sebenarnya dia ingin sekali tampil di Indonesia, namun apa
daya penerbangan tidak bisa dilanjutkan karena adanya badai salju.
Namun, kegarangan acara tetap berlangsung tanpa Putrid Pile. Para
Metalhead masih tetap terlihat berdatangan di pintu masuk. Dengan kekhasan
mereka yang berpakaian serba hitam, area Venue menjadi lautan
hitam pekat. Bagaikan “menunaikan umroh” para penikmat musik keras datang dari
berbagai daerah di Indonesia. Acara musik tahunan ini sudah menjadi lahapan
terbaik yang sangat disayangkan kalau tidak didatangi. Semua yang hadir bukan
hanya para muda-mudi saja, tapi orang-orang yang berfisik tua berjiwa muda pun
hadir. Bahkan pasangan-pasangan Metalhead yang sudah berkeluarga pun nampak
terlihat. Tidak tanggung-tanggung buah hati mereka pun hadir di tengah
pesta.
Air hujan yang turun dengan derasnya seakan tak nampak nyata. Para
Metalhead tetap berpesta di bawah hujan dan di tengah area moshpit. Meneriakkan
lirik-demi-lirik lagu-lagu yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Siang
hari tak kalah lagi dengan sore hari, apalagi ketika menginjak senja menuju
malam. Di hadapan Lighting yang menyorot, mereka terus berugal-ugalan,
berkali-kali menciptakan formasi Circle Death dan Wall
Death, ada juga yang hanya berdiri saja sambil ber-headbang. Semuanya
terhanyut-larut dalam kecekaman. Seakan lupa akan hari esok, seakan hari itu
merupakan hari bersejarah untuk hari esok. Mau yang muda, tua, beruban, besar,
kecil, bau ketek, beraroma parfum, sunda, jawa, kaya, atau juga miskin, jika
sudah berdiri di tengah area moshpit, tidak ada perbedaan,
semuanya sama, mereka adalah ‘Saudara’!
Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 9
malam. Hampir semua band sudah mengeksistensikan kebrutalannya. Itu menandakan
bahwa kegarangan sudah tiba di penghujung acara. Semua memfokuskan pada stage
utama, yaitu Monster Stage. Ribuan pasang mata bertuju ke Monster Stage. “Jauh
mendekat, yang sudah dekat merapat”, istilah yang sangat tepat untuk moment
itu. Dengan sound 300.000 watt hasil penggabungan dari sound stage-stage lain,
Hellprint United Day IV mulai menggelegar. Rasa kekecewaan karena band Putrid
Pile batal hadir dapat terobati oleh penampilan band terakhir asal Jakarta,
yaitu Seringai. Tanpa basa-basi Arian dan kawan-kawan menggebrag dengan beberapa
lagu dari album ‘high octane’. Sungguh malam yang mencekam, rasa
lelah, dingin karena basah-kuyup, dan lapar pun tidak terasa. Cukup mencair
dengan lelucon-lelucon menggelitik yang dilontarkan oleh Arian (vokal). Kurang
lebih salah satunya seperti ini, “Ada apa dengan Bandung? Banyak judul yang
memakai kata’Hell’, ada Hell Shell, HellShow, Hellfrog, Hellprint. Apa karena
Wali Kotanya Kang Ridwan Kamhell?” Jelas sudah, lelucon Arian dapat
mencerminkan bahwa Metalhead tidak seburuk atau seseram yang dibayangkan,
karena seorang Metalhead atau penikmat musik keras pun selucu leluconnya Arian
Seringai.
Acara besar seperti Hellprin United Day IV sudah dapat mewakilkan dan menerjemahkan bahwa penikmat musik keras atau Metalhead tidak selamanya buruk. Harusnya masyarakat dapat lebih sedikit lebih pintar untuk membedakan negatif dan positif. Memang harus diakui kalau scene underground di Indonesia pada zaman dahulu cukup tergolong meresahkan. Akan tetapi semua dapat berubah, lain dulu, lain pula sekarang. Jangan selalu memicingkan sebelah mata kalian. Lihatlah, perkembangan scene underground di Indonesia sudah banyak kemajuan.
"Musik Metal memang keras, tetapi mengutamakan kualitas. Jiwa kami memang hitam, tetapi kami sama seperti kalian, manusia yang beriman dan beradab. Kami datang ke tempat yang hanya kami sukai. Tak peduli kalian berkata apa, karena ini cara kami berkarya dan mengapresiasikannya".
Acara besar seperti Hellprin United Day IV sudah dapat mewakilkan dan menerjemahkan bahwa penikmat musik keras atau Metalhead tidak selamanya buruk. Harusnya masyarakat dapat lebih sedikit lebih pintar untuk membedakan negatif dan positif. Memang harus diakui kalau scene underground di Indonesia pada zaman dahulu cukup tergolong meresahkan. Akan tetapi semua dapat berubah, lain dulu, lain pula sekarang. Jangan selalu memicingkan sebelah mata kalian. Lihatlah, perkembangan scene underground di Indonesia sudah banyak kemajuan.
"Musik Metal memang keras, tetapi mengutamakan kualitas. Jiwa kami memang hitam, tetapi kami sama seperti kalian, manusia yang beriman dan beradab. Kami datang ke tempat yang hanya kami sukai. Tak peduli kalian berkata apa, karena ini cara kami berkarya dan mengapresiasikannya".

0 komentar:
Posting Komentar