interesting writing it from the heart

IQBAL BACHTIAR

Selamat datang di blog saya
About Me
Tulisan-tulisan ini bukan tentang aku, tetapi saya!

Jumat, 15 Januari 2016


Radit adalah seorang anak laki-laki yang baik, pintar, dan yang paling utama, Radit selalu menerapkan kejujuran dalam kehidupannya sehari-hari. Tak heran jika banyak orang yang menyukainya, terutama ibunya. Setiap hari Radit selalu berkata jujur, tidak pernah sedikitpun berkata bohong. Perilaku jujurnya itu Radit dapatkan dari ibunya. Radit selalu ingat nasehat yang diberikan ibunya tentang sebuah kejujuran. Ibunya berkata, “Radit, janganlah kamu membiasakan untuk berkata bohong kepada siapapun. Kamu harus jadi orang yang jujur. Apabila kamu berbohong, orang lain tidak akan ada yang mau mempercayaimu lagi. Bahkan semua teman-teman sekolahmu tidak ingin mengajakmu bermain.” Nasehat itulah yang selalu Radit ingat setiap hari. Radit takut, dia tidak memiliki teman di sekolahnya.
Ayam jago sudah mulai berkokok, sinar matahari pun sudah mulai bersinar dengan hangat, menandakan datangnya pagi. Seperti biasa pagi itu Radit sudah siap dengan seragam sekolahnya. Beberapa kali teman-temannya memanggil dari depan rumah Radit. Teman-teman sekolahnya yang bernama: Budi, Fadil, Rara, Ridwan, Ani, dan Indra sudah menunggu di depan rumah Radit untuk berangkat ke sekolah bersama. Setiap pagi mereka selalu berangkat bersama-sama menuju SD N 1 Bojongsoang. Teman-teman Radit bukan hanya mereka saja. Walaupun Radit masih duduk di bangku kelas 3, namun di sekolahnya Radit juga selalu bermain dengan teman-temannya yang duduk di bangku kelas 1, 2, dan 4.
Di balik banyaknya teman-teman Radit yang menyukainya, ternyata ada satu orang teman sekolahnya yang tidak suka kepada Radit. Dia adalah Toni, teman yang pernah satu kelas ketika Radit duduk di bangku kelas 2. Selama sekolahnya, Toni selalu memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Berbeda dengan Radit, Toni tidak memiliki banyak teman. Bahkan di dalam kelas, Toni hanya duduk sendirian. Semua teman-teman sekelasnya tidak ada yang mau duduk dengan dia. Selain kegemarannya yang sering jahil, Toni juga anak yang suka berbohong. Bukan hanya kepada teman-temannya saja, tapi Toni juga berani berbohong kepada guru-guru di sekolahnya. Setiap hari Toni tidak pernah mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh guru di kelas. Setiap kali gurunya menanyakan hasil pekerjaan yang telah diberikan, setiap kali pula Toni berbohong. Banyak sekali alasan yang diberikan, karena lupa lah, bukunya tertinggal lah, atau karena sakit lah, setiap harinya selalu saja seperti itu. Semua alasan yang diberikan oleh Toni adalah bohong alias tidak sesuai dengan kenyataan. Intinya Toni tidak pernah mengerjakan PR karena malas. Tidak heran jika sekarang Toni yang seharusnya satu kelas dengan Radit, tapi Toni masih saja duduk di bangku kelas 2.
Toni merupakan satu-satunya anak yang tidak suka kepada Radit. Toni iri kepada Radit, karena Radit memiliki banyak teman. Bahkan teman yang tadinya selalu bermain bersama dengan Toni, kini menjauhinya, dan lebih memilih untuk bermain dengan Radit. Awalnya ketika Radit dan Toni duduk di bangku kelas 1, mereka sering bermain bersama-sama. Teman-teman Radit adalah teman-temannya Toni juga, begitu pun sebaliknya. Tetapi karena kebiasaan tercela yang sering Toni lakukan, yaitu berbohong. Maka satu-per-satu teman-temannya menjauh dari Toni. Sebenarnya kebohongan yang sering Toni lakukan adalah kebohongan kecil. Salah satu contohnya, Toni sering membeli tiga kue bolu, akan tetapi dia hanya membayar satu kue saja. kebohongan kecil seperti itulah yang sering Toni lakukan. Walaupun itu hanya kebohongan kecil, namun lama-lama itu akan menjadi kebohongan yang besar, dan sebuah perilaku yang tercela atau buruk suatu saat pasti akan mendapat balasan yang buruk pula.
Suatu hari Toni seperti biasanya melakukan kembali kebohongannya di kantin. Kali ini dia mengambil lima kue bolu. Toni memakan kue bolu itu satu-per-satu dengan lahapnya. Bahkan kue yang sedang dikunyahnya belum habis, dia memasukan kue yang baru ke dalam mulutnya. Dengan rasa bahagia Toni mengunyah kue bolu yang terisi penuh di mulutnya. Pikiran jahatnya mulai muncul, dia memakan lima kue bolu, tapi dia hanya akan membayar dua kue bolu saja. Setelah semua kue bolu yang dimakannya itu habis, lalu Toni mulai memasukan tangannya ke dalam saku bajunya. Toni ingin mengambil uang yang ada di dalam sakunya. Tapi ternyata di dalam sakunya itu tidak ada uang. Toni mulai panik, dia mencoba memasukan tangannya ke dalam saku celananya yang kanan dan yang kiri. Ternyata di dalam saku celananya juga tidak ada uang. Dengan wajah yang setengah ingin menangis, Toni mendatangi teman-teman yang sedang duduk di sekitar kantin. Toni berkata, “Hey teman-teman, tolong pinjami aku uang dua ribu. Aku mau membayar kue bolu, tapi ternyata uangku tidak ada!” Kasihan, semua teman-temannya tidak ada yang meminjamkan uang. Semua akibat perilaku Toni yang suka berbohong, teman-temannya tidak percaya kalau Toni tidak membawa uang sepeser pun. Kemudian tidak sengaja Radit sedang berjalan melewati kantin, Radit melihat Toni sedang menangis. Radit mendekati Toni, dan bertanya “Toni kenapa kamu menangis?” Toni menceritakan kalau dia tidak bisa membayar kue bolu yang dimakannya, karena ternyata Toni kehilangan uangnya. Radit merasa kasihan kepada Toni, tapi Radit tidak memberi uang kepada Toni. Radit hanya memberi tahu bahwa dia tadi melihat uang dua ribu rupiah di dekat mushola. Toni mulai menghentikan tangisannya dan mulai berpikir apakah yang dikatakan oleh Radit itu bohong atau tidak. Toni berpikiran buruk terhadap Radit, “Jangan-jangan Radit sedang menipuku” kata Toni. Dengan rasa penasaran, Toni mendatangi mushola yang tadi Radit sebutkan. Ternyata Radit tidak bohong, Radit berkata jujur, di dekat mushola ada uang dua ribu rupiah milik Toni yang hilang. Ternyata uang Toni terjatuh ketika dia sedang menuju kantin sambil melompat-lompat seperti kelinci.

Kemudian Toni minta maaf kepada Radit, karena dia merasa iri dan sudah benci kepada Radit. Toni menyesal karena sering berbohong kepada setiap orang. Semua penyesalan yang dirasakan oleh Toni dikatakan dengan sejujur-jujurnya. Radit pun dengan penuh senyuman memaafkan Toni. Dan akhirnya Radit, Toni, dan teman-teman lainnya bermain bersama.

Lagi-lagi Kota Tasikmalaya ‘diedankeun’ oleh acara konser musik yang sangat digandrungi para penikmat musik keras, yaitu Hellprint. Kata ‘edankeun’ adalah sebuah bentuk ungkapan semangat yang menjadi slogan pada setiap promosinya di media sosial. Acara yang mengusung tema “West Java Invasion Festival” ini merupakan rangkaian tour 10 kota di Jawa Barat, yang terdiri dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cianjur, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Banjar, Subang, Jatibarang, dan Cirebon. Tujuan diselenggarakannya acara tour tersebut adalah bukan hanya sekedar untuk hiburan semata, tetapi lebih dimaksudkan untuk mencari band-band lokal berkualitas yang akan diseleksi dengan sebuah audisi. Audisi tersebut akan mengambil 1 band terbaik dari setiap kotanya. Kemudian 10 band yang sudah lolos dari tahap-tahap audisi tersebut dipastikan mendapat kesempatan rekaman untuk album kompilasi “Hellprint West Java Invasion Festival”, dan tentunya 10 band tersebut juga akan tampil di acara Hellprint Festival 2016.
Acara yang digelar pada hari Sabtu, 23 Mei 2015 ini berlokasi di Lapangan Brigif Tasikmalaya. Audisi kemarin di Tasikmalaya sudah memasuki audisi tahap ke 3, yang dimana audisi tahap ke 2 telah berlangsung pada tanggal 25 April 2015 lalu di Ex-terminal Cilembang. Pada tahap ke 3 terpilih 10 band yang sudah lolos audisi tahap ke 2. 10 band yang sudah lolos tersebut adalah Sunday Morning, Cipika Cipiki, Allergy Of Mind, Dirty Fictory, WC Umum, Sensorium, Low To High, Mostblancos, Genital Disease, dan Tinta Hitam. Dari 10 band tersebut akan dipilih 1 band terbaik yang akan mewakilkan Tasikmalaya.
Acara dimulai pada pukul 13.00, tatanan panggung yang berada tengah komplek Brigif sudah nampak cukup megah, dan dibalut dengan layar LCD yang menjadi background panggung. Di sisi panggung terdapat stand hotdog & burger, stand merchhandise Hellprint, stand Djarum Super, dan tak lupa ada juga mobil Ambulance yang selalu siaga untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal buruk. Para aparat kepolisian maupun militer pun sudah stand by berjaga-jaga di area venue. Acara tersebut terbilang cukup berani, karena tidak ada tiket masuk. Pengunjung hanya diwajibkan membeli produk satu bungkus rokok Dajarum Super saja. pembelian tersebut terdapat di awal pintu masuk area, yang dijaga oleh sekelompok anak muda dari komunitas Putih Abu.
Pada awal acara, pengunjung memang belum begitu banyak, hanya ada beberapa segerombolan tidak begitu besar saja. Aksi panggung pertama dibuka oleh band Sunday Morning. Para juri yang berada di bagian atas tempat operator siap memberikan kritikan dan masukan pedas diberikan pada band yang memakai topeng plastik hitam. Salah satu juri ada yang memberikan saran yang cukup pedas, “ulah make keresek, mending make topeng sisingaan!” Entah itu masukan yang bersifat menyindir atau memang benar-benar masukan yang membangun. Tapi ada juga band-band yang mendapatkan respon positif dari juri, seperti band Low To High dan Genital Disease. Band Low To High yang memiliki vokalis perempuan bernama Ghinsil tersebut mendapat respon positif dari penonton dan para juri. Low To High merupakan band yang sudah sering tampil di beberapa gigs di Kota Tasikmalaya ini mungkin sudah tidak merasa canggung tampil di atas panggung, tapi bagi band ini, mengikuti audisi bergengsi seperti itu baru pertama kalinya. Mereka sempat berdebat dengan salah satu juri yang mengatakan bahwa mereka terinfluence oleh band Billfold. Namun Ghinsil sang vokalis menyangkal, bahwa band Low To High tidak terinfluence oleh band lain.
Berbeda dengan Low To High, band Genital Disease mendapatkan apresiasi yang baik dari para juri. Band yang mengusung genre Death Metal ini kata para juri mereka dapat menampilkan materi yang bagus, vokalnya rapih dan berkarakter, dan komposisi drumnya pun cukup memiliki skill. Salah satu juri yang merupakan personil dari band Godless Symptoms sangat menyukai skill drumernya. Dari peserta band yang lainnya, hanya band Genital Disease lah yang mempersembahkan penampilan yang luar biasa. Dan peserta terakhir yang menutup proses audisi adalah band Tinta Hitam yang mengusung genre Technical Death Grind.
Selepas break adzan maghrib acara pun dimulai kembali. Kali ini euforia di sekitar venue mulai menggila. Komplek Brigif Galuh 13 Tasikmalaya disulap menjadi area hitam pekat. Semakin malam para aliansi hitam mulai nampak di sekitar komplek. Pengunjung yang datang bukan saja dari orang dewasa, tapi para belia pun ikut meramaikan acara. Mereka datang berpenampilan sesuai dengan genre yang mereka sukai, diantaranya genre punk, hardcore, metalcore, death metal, deathcore, dan grindcore. Banyak juga yang berpenampilan beat down yang dibawakan oleh para remaja belia.
Hellprint West Java Invasion Festival mulai memasuki sesi baru, yaitu sesi penampilan para guest star. Sebuah sesi yang berisi perform dari band-band lokal asal Tasikmalaya, diantaranya Red Label, Deformation, Tigerwork, dan Moses Bandwidth. Tentunya setelah perform dari band-band lokal akan dilanjutkan band-band guest star yang sudah ditunggu-tunggu oleh  para penikmatnya, yaitu Humiliation, Godless Symptoms, dan Revenge The Fate.
Band pertama yang membuka acara puncak adalah Red Label yang bergenre punk ini mampu mengajak para penonton untuk lebih merapat. Dengan penampilannya yang identik dengan tatanan rambut Skinhead, mereka membawakan tiga lagu yang memiliki ketukan 2/4 pada beat drumnya. Dilanjutkan dengan Deformation, Tigerwork, dan Moses Bandwidth mampu membuat euforia mosphit semakin mencekam dahsyat. Band Tigerwork asal Kota Tasikmalaya yang mengusung genre Hardcore mampu mengubah sound 40.000 watt terdengar menggelegar di atas panggung berukuran 12 x 10 meter. Sorotan stage lighting yang menyorot sesuai  dengan hentakkan alunan musik terasa menambah keeksistensiannya. Penonton pun semakin bersemangat, keganasan yang berkobar di area mosphit seakan tidak dapat dipadamkan oleh semprotan air Damkar sekali pun.
Keganasan di area mosphit tidak berhenti setelah aksi-aksi dari band-band lokal Tasikmalaya, keganasannya masih akan terus berlanjut dengan akan tampilnya band guest star yang sudah ditunggu. Semakin malam, semakin tidak terkendali kemeriahannya. Sampai-sampai seorang MC yang tadinya hanya mengoceh sendiri di atas panggung, kali ini MC tersebut berduet dengan seorang temannya. Di tengah sela pada saat kedua MC itu mengoceh, terdengar teriakkan-teriakkan yang memanggil sebuah singkatan, yaitu “RTF..RTF..RTF..!!!” Teriakkan tersebut sangat sering terdengar di setiap selanya. RTF merupakan kepanjangan dari nama Revenge The Fate. Dari teriakkan singkatan itu sudah dapat terlihat bahwa para Colony (sebutan untuk fans Revenge The Fate) sangat tidak sabar untuk menyaksikan band kesayangannya.
Tapi teriakkan-teriakkan tersebut belum dapat mewujudkan keinginan para Colony untuk melihat penampilan Revenge The Fate, karena sebelum itu masih ada band Godless Symptoms dan Humiliaton yang akan menggebrak stage. Mosphit dipukaukan oleh band Godless Symptoms, band asal Bandung yang bergenre crossover hardcore / thrash metal ini memperkenalkan album barunya yang berjudul “Negeri Neraka”. Baruz sang vokalis membuat area mosphit semakin memanas. Semuanya ikut meliar bersama ketika lagu Jeruji yang berjudul Lawan dicover oleh Godless Symptoms.
Malam semakin larut, dan kemeriahan acara pun belum mencapai puncaknya. Penampilan band selanjutnya adalah Humiliation. Band asal Bandung bergenre Death Metal yang berpersonil Adam (vokal), Iho (drum), Vman (bass), dan Agi (lead gitar) ini membawakan 4 lagu sebagai serangan pamungkasnya. Ada yang sedikit berbeda dari gebrakkan penampilan yang mereka berikan, di lagu terakhir mereka mengcover lagu dari Burgerkill yang berjudul Anjing Tanah. Dengan teknik growl yang dimiliki oleh Baruz sang vokalis, lagu Anjing Tanah pun menjadi semakin terdengar gahar. Para headbangers semakin berantusias untuk meliarkan suasana.
Humiliation mengakhiri performnya, dan suasana di area mosphit semakin menegangkan. Hampir tiba saatnya band pamungkas pun akan dikeluarkan dari singgasananya. Teriakkan semakin kencang, teriakkannya semakin pecah menggelora. Para Colony mulai menaiki pager pembatas bagian paling depan, mereka berteriak sambil melebarkan spanduk yang bertuliskan Revenge The Fate Colony. Lighting mulai dimatikan, hanya sedikit cahaya yang dipancarkan. Stage mulai mencekam dengan keluarnya efek asap sebagai penghias kecekaman.
Akhirnya band yang mengusung genre deathcore menampakkan wujudnya. Dimulai dari Sona sebagai bass, Chikal sebagai gitar, Zacky sebagai drum, dan terakhir disusul oleh Anggi sang vokalis. Band ini sedang berada di puncak yang cukup tinggi, jadi wajar jika sekarang band ini sedang dielu-elukan. Apalagi oleh para wanita, karena Anggi sang vokalis memiliki perawakan yang ideal di mata wanita. Aksi panggung yang dibawakan oleh sang vokalis dapat membuat suasana mosphit menjadi pecah. Sesuai dengan band yang bergenre deathcore, mereka memiliki gaya yang ciri khas, yaitu dengan gaya kaki dibuka lebar, tubuh dihentak-hentakkan ke depan. Itulah ciri khas gaya yang mereka miliki, berbeda dengan gaya genre lainnya yang hanya menganggukkan kepala saja.

Setelah lelah yang dirasakan oleh para Colony sejak siang hari, kini terbayar tuntas dengan aksi panggung yang ditampilkan oleh Revenge The Fate di akhir acaranya. Walaupun sebenarnya Revenge The Fate harus menyisakan 2 lagu yang gagal dibawakan, tetapi yang terpenting band-band yang sudah tampil di acara Hellprint West Java Invasion Festival semuanya dapat memberikan aksi panggung terbaik. Para pengunjung sangat merasa kepuasan yang luar biasa hingga sang operator menyatakan bahwa acara telah usai.

Malam itu hujan cukup deras, kederasannya pun cukup ampuh untuk meredam kegalauan malam itu. Hingar-bingar kehidupan sudah terganti oleh lelap. Namun malam itu bukan malam yang beruntung untuk sebuah pensil malang yang sedang meratapi kegelisahannya. Iya, sebuah pensil berwarna biru langit yang bertempat tinggal di dalam kotak pensil berukuran sedang, dan panggil saja dia si Langit. Tepatnya pukul 1.30 malam, Langit masih terjaga dalam dera. Malam itu dia belum dapat mengendalikan kantuk untuk melawan rasa gelisahnya. Semenjak kejadian satu bulan yang lalu dia tak kunjung dapat memejamkan lelapnya setiap malam. Rasa sakitnya masih saja terngiang-ngiang dalam pikirannya. Perkataan yang diucapkan oleh sesosok perempuan (sebuah pensil berwarna marun) masih belum dapat dipahami secara logika. Bukan kata-kata puitis dan romantis, terlebih sebuah tindakan tanpa pesan. Hati Langit hancur berkeping-keping bagai cermin yang sengaja dilemparkan, kemudian terbentur medan keras.
Langit ingin sekali bercerita, berkeluh-kesah atas apa yang sedang dilandanya. Dia bingung harus mencurahkan pada siapa. Yang ada hanya adiknya, sebuah penghapus bermotif pelangi, dan panggil saja dia si Pelangi. Tetapi Pelangi malam itu sudah terlelap, mungkin juga sudah sedang bermimpi. Dan kalaupun Pelangi masih terjaga, Pelangi bukan tempat yang tepat untuk diajak berkeluh-kesah, apalagi tentang cinta. Kalau dalam dimensi manusianya, Pelangi itu merupakan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Maklum, kini mereka hanya tinggal berdua di dalam kotak pensil. Tak ada yang lain selain adiknya itu, si penghapus bermotif pelangi yang selalu menemaninya setiap hari.
Setelah 30 menit berlalu, kini hujan kembali mereda, kapasitas air yang turun mulai berkurang. Suara air hujan yang bergemuruh kini berubah menjadi suara gemericik yang tenang. Lambat laun suasana semakin hening, bersambut dengan suara-suara serangga yang mulai bereksistensi. Perasaan Langit mulai tenang mengalir mengikuti alur keheningan. Sudah tak begitu nampak raut muka Langit yang menekuk tajam. Namun Langit masih tetap ingin mencurahkan apa yang sedang dirasakannya. Dia masih tetap menolak untuk memendamnya. Baginya itu tidak cukup untuk mengobati apa yang sudah dideranya. “Saat ini aku sedang membutuhkan teman yang dapat aku jadikan sebagai penyimak, penonton, penasehat, dan tempat yang baik untuk dijadikan sandaran” Langit berujar dalam hati sambil menatap cahaya lampu belajar yang hampir menembus ke dalam kotak pensil. Tak lama ujarannya yang terbalut oleh keheningan itu berlalu, kemudian terdengar suara langkah ketukan yang melompat-lompat. Serentak, perasaan Langit semakin tak keruan. Perasaan yang awalnya sedih, sakit, dan kecewa, kini tiba-tiba berubah menjadi rasa was-was. Pikiran Langit berubah haluan, Langit mulai menganalisis dan mendefinisikan jenis yang dia dengar. Lagi-lagi Langit kembali berujar dalam hati “suara apa itu, ya?” Pikiran Langit melanglang cukup jauh. Dia mendefinisikan bentuk dan jenis dari suara itu. Selintas Langit mendefinisikan kalau suara itu adalah suara langkah kaki manusia, namun jika dianalisis secara logika, manusia melangkah tidak dengan cara melompat-lompat. Rasa was-was Langit semakin tak terkendali. Dia mulai cemas, “jangan-jangan itu suara hantu pocong yang melompat-lompat”. Tapi lagi-lagi dia mencoba memutar-balikkan fakta, bahwa suara lompatan hantu pocong mungkin tak dapat didengar. Walaupun hantu pocong melompat-lompat, jelas lompatannya itu tak menghasilkan suara ketukan. Dan jika benar suara itu berasal dari hantu pocong, seharusnya Langit tak perlu takut. Karena faktanya hantu hanya akan menakuti manusia saja, dan belum ada sejarahnya hantu menakuti sebuah pensil. Namun hasil analisis Langit belum menghasilkan fakta yang nyata, sebelum apa yang didengarnya sesuai dengan apa yang dilihatnya.
Suaranya terdengar semakin dekat, kira-kira jaraknya sekitar satu jengkal tangan manusia. Ternyata suara itu benar-benar menghampiri kotak pensil. Langit pun mulai mengambil ancang-ancang siaga, ditakutkan jika asal dari suara itu dapat membahayakan Langit dan adiknya. Suara ketukan itu semakin mendekat dan semakin jelas. Tiba-tiba suaranya berhenti, jaraknya tepat sekitar dua jari manusia. Kini suasana menjadi hening, suara ketukan itu sudah tak terdengar lagi. Suasananya berubah kembali seperti sebelum suara ketukan itu datang menghampiri. Sekarang yang terdengar hanya suara gemercik hujan, suara-suara serangga, dan suara detik jarum jam dinding. Perasaan Langit bukannya menjadi tenang, tapi malah menjadi semakin tak keruan. Hati Langit bertanya-tanya, suara apa yang membuat dirinya penasaran. Langit mulai bingung harus bagaimana, ketika tiba-tiba suara itu tak terdengar kembali. Langit sangat yakin ada sesuatu yang menghampirinya, dan sekarang sesuatu tersebut ada di dekat kotak pensilnya. Tak banyak berpikir lagi, Langit memutuskan untuk memberanikan diri membuka tutup kotak pensil dan mencoba melihat dari posisi asal suara yang didengarnya. Dengan sangat pelan, tetapi pasti, Langit membuka tutup kotak pensil secara perlahan. Sedikit demi sedikit tutup kotak pensil tersebut memberi celah dan sedikit demi sedikit sudut kamar yang gelap mulai terlihat. Langit semakin gundah, perasaannya bergetar kencang. Namun Langit tak pantang menyerah, dia harus segera memutuskan agar rasa penasarannya berakhir. Baginya, daripada dia hanya berdiam saja menunggu yang tidak jelas, lebih baik dia membuka tutup kotak pensil dan melihat dengan jelas, suara apakah itu? Setelah tutup kotak pensil itu terbuka cukup lebar. Taraaaaaaa..! Ternyata suara ketukan tersebut berasal dari langkah sebuah pena. Pena itu terlihat hanya diam saja di depan kotak pensil, matanya menatap tajam ke arah Langit. Jika dilihat dari tampilannya, usia pena tersebut sudah dapat dikatakan berumur. Mungkin juga kehidupan yang dilewatinya sudah melintasi beberapa generasi, karena terlihat dari tampilan warnanya yang hitam diperpadukan sedikit sentuhan warna gold metalic, lengkap dengan pernak-pernik elegant namun tetap terlihat classic dengan ciri khas bentuk runcing pada ujung kepalanya.
Pak Baros       : Selamat malam!
Langit          : Iiiiiiiiya, selamat malam! Maaf, kalau boleh tahu. Bapak siapa, ya?  Sepertinya aku tidak pernah melihat bapak.
Pak Baros    : Kamu baik-baik saja, nak? Nada bicaramu seperti yang ketakutan. Tenang, jangan takut. Aku termasuk pena yang baik! Panggil saja aku Baros, pak Baros! Aku tinggal di rumah yang sama sepertimu, nak. Namun bedanya aku tak memiliki kotak yang seperti dirimu tempati. Aku hanya selalu dikaitkan dalam saku jas atau saku kemeja pemilikku. Dan ketika pemilikku tiba di rumah, aku hanya diletakkan saja di atas meja kerja.
Langit          : Lalu, kenapa Pak Baros menghampiri kotak pensilku dengan melompat lompat? Apa yang membawamu datang kemari? Seingatku, aku sama sekali tak membuat kebisingan.
Pak Baros      : Kamu memang tak membuat kebisingan, dan aku bisa sampai kemari hanya kebetulan saja. aku melompat-lompat karena malam ini terasa hening, tak sedikitpun terdengar suara langkah. Aku sengaja iseng berkeliling di sekitar rumah ini. Aku merasa bosan jika selalu berdiam seorang diri di atas meja. Aku tak seperti jenis kalian yang saling berpasangan. Pensil sepertimu pasangannya dengan penghapus, dan pulpen pasangannya dengan tipe-x. Sedangkan pena sepertiku tak akan cocok kalau harus dipasangkan  dengan penghapus atau pun tipe-x. Maka dari itu aku berkeliling untuk merebahkan kebosananku. Tak disangka aku melihat kotak pensil yang diterangi oleh lampu belajar. Maaf jika aku sempat membuatmu takut, dan maaf juga aku hanya berdiam saja di depan kotak pensil ini. Karena aku tak cukup pantas untuk memanggil atau membuka tutup kotaknya di tengah malam seperti ini. Aku takut mengganggu penghuninya yang mungkin sedang terlelap.
Langit             : Ah tidak, aku masih terjaga. Aku terjaga karena-nya!
Pak Baros       : Oh..aku mengerti sekarang. Kamu pasti sedang didera oleh kegelisahan. Dan pastinya kegelisahan itu berkisah tentang perempuan. Coba ceritakan, ungkapkan saja semuanya agar mencair. Kebetulan juga besok hari libur, jadi kita bisa terjaga hingga esok pagi.
Dia adalah si pensil mungil nan-cantik yang berwarna merah marun, panggil saja dia si Marun. Aku dan Marun sudah cukup lama bersama. Sejak pemilik kami masih duduk di bangku kelas 6 SD, dan sampai sekarang pemilik kami sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Awalnya pemilik kami membeli kotak pensil ini lengkap satu paket beserta aku (pensil berwarna biru langit), adikku (penghapus bermotif pelangi), dan dia (pensil berwarna merah marun). Cukup lama kami bertiga tinggal bersama dalam kotak pensil ini. Terkadang pemilikku selalu memakai pensil secara bergantiaan, kira-kira hanya bersela satu hari saja. Misalkan hari ini dia memakai aku, kemudian keesokannya berganti memakai Marun. Akan tetapi untuk mata pelajaran menggambar, pemilikku lebih sering memakai aku. Karena pensil sepertiku yang memiliki diameter cukup lebar dan memiiki isi arang yang tebal, maka akulah yang lebih sering dipakainya. Berbeda dengan pensil seperti Marun, pensil sepertinya hanya memiliki diameter yang mungil dan isi arang yang lebih halus, maka Marun lebih cocok dipakai untuk menulis saja. Tak lupa juga ada adikku yang selalu berperan sebagai penghapus. Jika ada yang bertanya, kenapa dia bisa dikatakan sebagai anak-anak? Karena dia bagian bonus dariku. Beli satu pensil gratis satu penghapus bermotif pelangi. Dan belakangan ini aku mulai merindukan keutuhan penghuni dalam kotak pensil ini. Terutama aku sangat merindukan sosok pensil berwarna merah marun. Padahal baru satu Minggu saja kita tak bersama, namun rasa kehilangannya sangat terasa mendalam.
Lambat laun kedekatan aku dengan Marun semakin tak terkendali. Kedekatanku dengannya membuahkan benih-benih yang membawaku pada sebuah harapan lebih. Aku ingin memilikinya, aku ingin mengajaknya agar selalu ada disampingku. Aku berjanji jika dia dapat menerimaku, aku akan menjaga kepercayaannya, dan aku juga akan menyirami kasih sayang yang setiap harinya akan selalu tumbuh. Jika digambarkan, anggap saja aku sedang memelihara tanaman mawar yang bunganya akan tetap selalu mekar dengan indah, selama aku bisa merawat dan memeliharanya dengan baik. Bagiku, Marun adalah bunga mawar putih yang keindahannya selalu menyapa di setiap pagiku. Semenjak Marun mengisi pagiku, aku tak peduli akan kondisi cuaca esok pagi, mendung atau pun cerah. Karena yang terpenting bagiku adalah Marun selalu ada di setiap aku terbangun. Karena dari situlah aku dapat selalu tersenyum bahagia.
Pencapaian timbal balik benih cinta padanya bisa dikatakan tidak sempurna. Cukup sulit bagiku untuk cepat sampai pada titik yang dituju. Banyak tikungan yang harus aku lewati terlebih dahulu sebelum kembali ke jalur utama. Karena masih pendeknya jam terbang yang aku punya, aku cukup kesulitan mengarungi hati perempuan. Aku tidak tahu harus bagaimana ketika hati ingin mendekat, namun apa daya kepekaan tak sampai. Pernah pada suatu malam aku dan dia sedang duduk berdua di atas lampu belajar. Kebetulan malam itu gorden kamar tidak ditutup, jadi kita bisa menikmati indahnya langit malam berdua. Walaupun malam itu langit sedang dalam keadaan mendung, tapi mata hatiku berkata lain. Malam itu langit sangat cerah sekali. Walaupun malam itu langit tak berbintang, tapi bagiku, bintangku ada di sampingku. Kuajak dia berbincang-bincang tentang isi hati, kuajak dia berbincang tentang malam, dan kuajak dia berbincang tentang masa depan. Dari situlah aku menyadari kalau dia tak begitu peka, dia hanya membalas perbincanganku dengan makna yang nyata, bukan dianggap sebagai makna yang beristilah. Misalnya; aku mengatakan “Aku merasa sangat senang bisa duduk berdua di atas lampu belajar bersamanya, walaupun langit yang kita lihat hanya langit yang mendung tanpa bintang. Aku merasa sangat takut jika malam-malam berikutnya kita tidak bisa duduk seperti malam itu lagi. Entah bagaimana jadinya jika aku hanya duduk sendirian dan yang aku pandangi hanya segumpal langit mendung tanpa bintang. Pasti aku tak sanggup untuk berlama-lama duduk di atas lampu belajar ini”. Setelah aku mengungkapkan beberapa patah kalimat bermakna, tetapi dia hanya membalas “aku juga merasa senang bisa duduk berdua, apalagi harus memandangi langit yang mendung tanpa bintang. Aku juga pasti akan merasa takut jika harus duduk sendirian. Takut jika tiba-tiba turun hujan, lalu nanti aku turun dibantu oleh siapa?” Seperti itulah ketidakpekaan dari sikapnya yang kurang memahami maksud obrolanku. Dari bentuk ujaran “duduk berdua” saja aku sudah dapat mengartikannya. Bahwa, dia hanya senang duduk berdua di atas lampu belajar itu saja, tetapi bukan karena bersamaku yang mendampinginya.
Sore itu sepulang sekolah, aku mengajak Marun untuk berjalan-jalan di sekitar komplek. Langit pada sore itu cukup sangat mendukung, cerah, dan sangat cocok untuk aku habiskan waktu bersamanya. Berjalan berdua di tepi jalan yang orang-orang biasa menyebutnya trotoar. Aku langkahkan kakiku dengan begitu santai, kucoba menyelaraskan langkah kakiku dengan langkah kaki Marun, agar terlihat kompak, serasi, dan selaras. Walau tidak ada seorangpun yang melihat akuberjalan dengan Marun, tetapi aku tetap merasa bangga bisa berjalan bersamanya. Aku bangga bisa berjalan dan bergandengan tangan dengan sosok pensil berwarna Marun yang kusayangi. Terkadang aku selalu membanding-bandingkan rasa sayangku padanya dengan rasa sayangku pada diriku sendiri. Aku merasa, aku lebih menyayanginya melebihi rasa sayangku pada diri sendiri. Aku rela melakukan apa saja demi dirinya. Mungkin memang itu terdengar mainstream, tapi itulah cinta, sedikit memaksakan logika untuk menjadi masuk akal. Seperti biasa, sepanjang perjalanan aku selalu melayangkan ungkapan-ungkapan yang sedang aku rasakan, dengan harapan dia dapat meresponnya dengan sempurna. Aku sadar, aku hanya bisa merayunya dengan berbagai macam kalimat rayuan sederhana saja. Karena bagi sebuah pensil sepertiku tidak banyak yang dapat aku lakukan, aku tidak dapat memberinya satu tangkai bunga ataupun balon warna-warni yang bisa aku gunakan sebagai ungkapan perasaanku. Aku hanya bisa memanfaatkan huruf-huruf vokal yang diujarkan, kemudian kukemas menjadi lebih indah dan bermakna.
Aku masih saja ingat pertanyaan yang pernah dia tanyakan padaku. Sebuah pertanyaan sederhana yang sekarang aku sesali tak bisa menjawabnya. Aku menyesal waktu itu tidak terlalu menanggapi apa yang dia tanyakan, baru sekarang aku menyadari bahwa perntanyaannya itu sangat berarti untuk dirinya. Bahkan kalau aku bisa menjawabnya, mungkin itu juga akan menjadi pertanyaan penting bagiku. Berbaur dengan kebisingan suara kendaraan yang berlalu-lalang, pertanyaan itu diucapkan secara tiba-tiba “Cinta datangnya dari mana? Apakah kita yang mendatangi cinta atau cinta yang mendatangi kita?” Sekitar beberapa menit kita saling menatap, setelah dia selesai bertanya. Aku menatapnya dengan penuh heran, aku tak mengerti apa yang dibicarakannya. Tak seperti biasanya dia menanyakan sesuatu yang cukup dalam untuk dimengerti. Karena seperti yang kuketahui, semenjak dia dekat denganku, tak pernah sedikit pun dia mengujarkan tentang cinta. Kualihkan pandanganku ke arah perosotan yang sedang dimainkan oleh anak kecil. Sedangkan aku bersama Marun duduk di dalam lingkaran permainan ban, kita tidak cukup berani untuk menampakkan diri di lingkungan masyarakat. Apalagi di tengah lingkungan taman komplek yang waktu itu kita kunjungi. Hingga menjelang petang, kita bergegas untuk pulang. Kita berharap dalam perjalanan tak ada seorang pun yang melihat sepasang pensil berjalan di trotoar.
Semenjak pertanyaan yang dia lontarkan, semenjak itu juga sepanjang perjalanan pulang kita dalam keheningan. Entah mengapa dia tidak bersuara sedikit pun, tetapi yang kulihat dari raut wajahnya, dia menunjukkan ekspresi yang biasa saja. aku tidak merasa tenang dengan ekspresi seperti itu, walaupun biasa saja, tapi aku yakin ada yang berbeda dalam pikirannya. Tiba-tiba nyaliku menciut tidak berani untuk mengajaknya berbicara, apalagi untuk menanyakan maksud dari pertanyaannya itu. Sesampainya di rumah, dia masih berdiam saja tanpa sepatah kata. Dia hanya bercakap dengan adikku pelangi, itu pun karena adikku mengajakknya bicara. Sempat aku berpikir apakah aku harus mengajaknya bicara terlebih dulu seperti yang adikku lakukan. Entah lah, yang pasti waktu itu nyaliku benar-benar terasa menciut, tubuhku terasa sangat kecil di hadapannya. Mulutku terasa rata tanpa bibir, sehingga semua yang ada dalam pikiranku terasa sulit untuk diucapkan. Hingga malam melelapkan rasa kantukku, kita berbaring dalam satu kotak tanpa sepatah kata.
Suara ayam berkokok tanda pagi datang, begitu juga seperti situasi yang ada diantara aku dengan Marun, pasti tak akan seperti tadi malam. Dalam keadaan mataku yang masih terpejam tapi aku sudah terbangun, pikiran melanglang, aku berpikir kalau saat aku terbangun pasti otakku mulai fresh kembali, pikiranku pun pastinya sudah mulai jernih, dan keberanianku pun sudah dipastikan akan berani untuk memulai percakapan dengan Marun. Aku sudah merasa tenang, tidak seperti tadi malam yang otak dan pikiranku tak dapat membaur dengan baik. Kucoba untuk membuka mata, pandanganku mulai mencari sosok Marun. Sejenak aku mengamati di setiap sudut sisi kotak, namun sosok yang aku cari tak kunjung aku temukan. Aku hanya melihat sosok adikku yang masih terbaring tidur. Perasaanku mendadak mulai gelisah, heran, dan diselimuti tanda tanya. Tidak seperti biasanya sosok Marun lenyap dari pandangan pagiku. Kemana..? Kemana..? Marun kamu kemana? Mau tak mau aku harus menerima kalau Marun sudah pergi di salah satu pagiku. Hari itu merupakan hari yang sangat berbeda, aku pergi ke sekolah tanpa sosok Marun, aku hanya pergi bersama adikku saja. pagi yang sangat suram, kalau saja aku bisa memilih, aku tidak mau pergi ke sekolah. Tapi aku hanya lah sebuah pensil berwarna biru langit, yang akan selalu mengikuti pemilikku membawa pergi kotak pensil beserta isinya. Setibanya di kelas, mataku tak dapat dikedipkan. Aku sangat kaget melihat Marun yang sudah ada dalam kelas. Sama sekali aku tidak merasa senang ketika melihatnya. Hatiku terasentak hancur berkeping-keping ketika aku mendapati Marun sedang bersama Pekat, si pulpen berpenampilan modern yang berwarna hitam pekat. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, apakah aku harus merasa sedih atau aku harus menerima kenyataan pahit ini? Dan sekarang sudah satu bulan berlalu aku melewati pagiku tanpanya, dan aku juga harus menikmati kepahitan di setiap harinya ketika aku berada di kelas. Sangat terasa pahit ketika aku harus setiap hari melihat Marun bersama si pulpen itu. Aku muak dengan kebodohanku, aku muak atas penyesalanku waktu itu!!!
Pak Baros           : Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi juga kamu harus bisa belajar dari takdir yang dialami oleh pena sepertiku. Aku ditakdirkan tak berpasangan seperti pensil dengan penghapus, tipe-x dengan pulpen. Walaupun sebenarnya banyak jenis pena sepertiku di luar sana, tapi tetap saja pada setiap pemilik hanya memiliki satu pena, dan itu pun hanya orang-orang tertentu saja yang memakainya. Seharusnya kamu bersyukur, karena kamu memiliki banyak kesempatan untuk memilih tak sendirian.
Langit                 : Jadi, sekarang aku harus bagaimana? Aku sungguh tak bisa jika harus memaksakan Marun untuk membalas cintaku, apalagi jika harus memintanya untuk kembali.
Ceritanya berakhir bertepatan dengan munculnya mentari. Langit merasa puas dengan apa yang sudah dia luapkan dari dalam hatinya. Tak ada lagi raungan-raungan keras yang akan dia ungkapkan. Kehadiran Pak Baros di tengah sepinya itu sangat membantu dirinya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Bahkan Langit pun dapat sedikit belajar dari perkataan Pak Baros, bahwa dirinya masih tergolong beruntung sebagai pensil yang sedang mengalami keresahan, dibandingkan dengan sang pena yang sudah ditakdirkan untuk berjalan sendiri. Dari perkataan itu lah yang dapat mengubah suasana hati Langit sedikit tenang.
Dengan datangnya mentari pagi, itu menandakan bahwa Pak Baros sudah harus kembali ke tempat singgahnya, yaitu di atas meja. Pak Baros melangkah pergi meninggalkan Langit bersama kotak pensilnya. Raut wajah penuh senyum coba Langit perlihatkan disaat sang pena berbalik badan, dan berkata “Terimakasih banyak, pak! Atas pendengaran dan saran yang kau berikan”. Setelah Pak Baros sudah tak terlihat lagi, kini Langit masuk ke dalam kotak pensil untuk membangunkan Pelangi. Namun tidak begitu lama ketika Langit hendak masuk dalam kotak pensil, Langit merasakan adanya sosok di luar kotak. Langit mengira kalau Pak Baros kembali lagi untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, tapi perkiraannya itu salah. Ternyata bukan Pak Baros lah yang sekarang mendatanginya. Langit mencoba keluar dari kotak pensilnya, pandangan matanya mulai merambat dari bawah sampai ke atas. Terlihatlah sosok sudah tidak asing lagi baginya, sosok yang baru saja dia ceritakan kepada Pak Baros, yaitu Marun.
“Hai, Langit..selamat pagi!” terdengar sapaan yang diberikan Marun kepada Langit. Tidak disangka kalau yang ada dihadapannya adalah Marun. Langit mencoba menyapa kembali dengan perasaan yang bercampur aduk, “Selamat pagi juga, Marun! Kenapa kamu kembali? Dan kenapa waktu itu kamu pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun?” Itu adalah pertanyaan spontan yang dilontarkan terhadap Marun. Karena sudah cukup lama Langit menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kejanggalan dalam pikirannya. Maka dalam pertanyaan itu terdengar nada yang sedikit emosi. Sebenarnya Langit bingung harus bersikap bagaimana dengan kembalinya sosok Marun di hadapannya. Langit pun belum tahu apakah kedatangannya itu untuk kembali singgah atau hanya bermaksud ingin berbicara dengan Langit saja. Tetapi yang pasti, dalam lubuk hatinya Langit merasa senang akan kehadiran Marun pagi itu.
Marun mendekat tepat berada di hadapan Langit, dan mencoba menjelaskan “Aku pergi..”. Marun belum sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Langit langsung memotongnya diawal kalimat “Apa? Iya, aku tahu kamu pergi bersama si Pekat. Dia memang lebih keren, lebih menarik, dan lebih modern. Sedangkan aku hanya sebuah pensil yang tak cukup modern”. Marun hanya menganga dengan mendengarkan pandangan yang dilihat oleh Langit. “Aku memang pergi ke tempat Pekat, tapi apakah kamu tahu yang terjadi sebelumnya?” Marun mencoba membela dirinya dengan menyangkal pandangan yang diberikan oleh Langit. “Apa..apa..apa yang terjadi sebelumnya? Kamu memang sengaja, kan, untuk pergi menemui si Pekat?” sambil menyerongkan badan, Langit menanyakan penuh rasa penasaran.
“Kamu ingat pertanyaanku tentang cinta? Semenjak itu lah aku mulai berpikir bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku. Untuk apa kamu selalu ciptakan moment berkualitas, jika kamu tidak dapat mengartikannya? Aku ini kamu anggap apa? Malam itu disaat kamu tertidur, aku pergi ke teras depan. Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Mungkin Pekat melihatku dari jendela rumah pemiliknya, kemudian dia keluar untuk menghampiriku. Kucoba bercerita apa yang terjadi, lalu dia menyarankan untuk ikut bersamanya dalam beberapa hari”, Marun mulai merasa tenang, nada suaranya sudah mulai terdengar lembut. Sambil menjelaskan, Marun membalikkan badan Langit agar menghadapnya.
Karena mendengar nada suara Marun yang mulai melembut, Langit pun menghadapkan pandangannya yang tak ditekuk lagi. Langit meletakkan kedua tangannya di atas kedua sisi bahu Marun, “Aku selalu ingat dengan pertanyaanmu waktu itu, maafkan aku yang tidak sempat menjawabnya, itu semua karena keegoisanku. Sehingga aku tak mengerti apa yang pertanyakan. Aku tidak menyangka kalau kamu akan bertanya seperti itu. Setahu aku, kamu selalu acuh dengan semua ungkapan-ungkapan perasaanku. Jadi apa maksud dari pertanyaanmu waktu itu?” Dengan matahari yang menyorot dari arah jendela, nampaklah bayangan siluet mereka dari arah yang berbeda. Nampak samar, namun suasana keromantisannya terlihat jelas di atas meja belajar.
Marun menarik napasnya cukup dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Tanda bahwa Marun sudah siap untuk mengungkapkan semuanya. “Acuh bukan berarti tidak peka! Aku sangat peka dan mengerti dari semua ungkapan-ungkapanmu. Aku hanya mencoba memberikan ruang atas ketulusan pengorbananmu untuk memilikiku. Tapi semua yang kudengar hanya sebuah ungkapan saja, tanpa kejelasan. Yang aku inginkan adalah sebuah komitmen. Aku ini perempuan, aku butuh komitmen yang jelas. Maka dari itu aku mencoba memancingmu dengan pertanyaan yang kuberikan. Cinta datangnya dari mana? Apakah kamu mencintaiku? Jika cinta yang kamu rasakan itu datangnya dari aku, maka akulah cintamu. Tapi kenapa kamu tidak mendatanginya? Sekarang malah cinta yang mendatangimu”.
Langit hanya bisa terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh Marun. Pandangannya penuh haru, Langit menanyakan kebodohan apa yang ada dalam dirinya. Langit merasa dirinya sangat tidak pantas untuk berprasangka buruk seperti sebelumnya. Semua hardikan yang diberikan terhadap Marun sangat tidak pantas untuk dilontarkan. Detik itu juga Langit melihat sosok Marun lengkap dengan kesempurnaannya. Seperti malaikat turun dari singgasananya dan kemudian memberi penerang bagi jalan pikirannya. Betapa kecilnya Langit di hadapan Marun, karena begitu saja dia tidak mengerti apa yang ada dalam hatinya Marun. Kedua tangannya Langit tidak lagi diletakkan di atas bahunya Marun. Kini kedua tangannya meraih kedua telapak tangan Marun. Dengan perlahan Langit berlutut di hadapan Marun. Beberapa menit Langit menundukkan kepalanya, kemudian mulai mengangkatnya menatap mata Marun. “Tak aku sangka betapa dalamnya yang kamu rasakan. Karena begitu dalamnya, sehingga aku tak dapat memahimanya. Maafkan atas semua yang tak aku pahami, tapi itu bukan maksudku, bukan juga inginku. Tetapi ini semua karena rasa egoku yang membutakan jalan pikiranku yang tak dapat memahamimu!!!” Langit meminta maaf kepada Marun dengan nada suara yang terbata-bata, penuh sesal atas keegoisannya.

“Tak perlu minta maaf atas semua yang kamu sesali, karena tak ada yang perlu disalahkan. Aku sengaja pergi menjauh selama satu bulan, aku bermaksud untuk memberi ruang kosong pada hati dan pikiranku. Tapi ternyata ruang itu tidak kosong, karena kamu tetap selalu ada dalam hati dan pikiranku. Kini aku datang menemuimu bukan untuk menagih perasaanmu padaku, tapi aku datang untuk memberikan cintaku padamu. Karena aku adalah cintamu!!!”, kedua tangan Marun berbalik lebih kuat menggenggam tangan Langit. Sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Marun, rasa cintanya yang kuat terhadap Langit mampu membukakan hati dan pikirannya. Marun tidak mempedulikan siapa dulu yang harus mengungkapkan perasaan cinta. Karena bagi Marun, “rasa hati yang kuat berhak mengungkapkan perasaannya, entah itu laki-laki atau perempuan”. Rasa hati yang kuat dapat menyampingkan semua perasaan negatif yang dapat menghambat suatu ungkapan. Sejatinya seperti sebuah pensil yang semakin diserut, semakin bermanfaat bagi orang yang menggunakannya. Baik hanya untuk menyalin tulisan, maupun untuk mengungkapkan perasaan melalui media tulisan.
Categories: , , ,

Rutinitas masyarakat Bandung yang sibuk setiap harinya menjadikan infrastruktur di Kota Kembang ini semakin berkembang. Pemerintah mulai sadar akan kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Dengan dukungan yang kuat dan ide-ide kratif, pemerintah Kota Bandung mampu menciptakan fasilitas-fasilitas umum yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah Masjid Agung Bandung yang sekarang sudah disulap menjadi tempat ternyaman untuk dikunjungi.
Masjid yang berlokasi di Alun-alun Kota Bandung ini dibangun pada tahun 1810. Dengan luas tanahnya yang 23.448 m², pemerintah Kota Bandung memanfaatkannya dengan memberikan sentuhan rumput sintetis di halaman depan masjid. Rumput tersebut sengaja diterapkan dengan maksud agar para pengunjung dapat duduk lesehan. Masjid yang sekaligus sebagai alun-alun kota ini mampu menumbuhkan minat masyarakatnya, terutama minat untuk mendapatkan hiburan di akhir pekan. Banyak masyarakat Kota Bandung berbondong-bondong mengisi waktu luangnya di tempat ini. Seperti yang diketahui, biasanya alun-alun kota itu selalu didominasi oleh para anak muda yang memadu kasih. Akan tetapi di alun-alun Kota Bandung ini cukup berbeda, pengunjungnya lebih banyak didominasi oleh masyarakat yang sudah berkeluarga.
Jangan heran jika alun-alun Kota Bandung selalu dipadati oleh anak-anak kecil yang sedang asyik bermain bola, berlarian, dan memainkan permainan lainnya. Tentunya anak-anak kecil itu tidak datang sendirian, mereka sengaja datang bersama orang tuanya. Anak-anak kecil itu terlihat sangat bahagia. Walaupun di tempat itu terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati, tetapi para pengunjung tidak terlalu mempermasalahkannya. Tetap saja tempat itu selalu banyak pengunjungnya. Selain itu akses untuk masuknya pun sangat mudah, karena masyarakat tidak perlu membayar tiket, alias gratis. Kepadatannya akan selalu terlihat di setiap akhir pekan antara hari Sabtu dan Minggu, terutama saat malam hari. Suasana outdoor yang diselimuti udara Kota Bandung di malam hari semakin memanjakan para pengunjung yang datang.
“Masyarakat Bandung sangat pantas mendapatkan fasilitas umum yang berkualitas. Padatnya kesibukan yang dilakukan setiap harinya dapat memberikan nilai positif bagi para pekerja keras. Tak heran dengan adanya fasilitas umum seperti ini, dapat menumbuhkan antusias yang tinggi bagi masyarakat. Salah satunya seperti saya ini, saya datang ke alun-alun bersama keluarga kecil. Rutinitas saya sebagai wanita karir yang merangkap ibu rumah tangga sangat membutuhkan suasana seperti ini. Walaupun tempatnya ini outdoor, namun yang terpenting keluarga kecil saya merasa nyaman, dan saya juga tidak harus merogo dompet terlalu dalam” ujar Meli Rosmaliyanti ibu dengan tiga orang anak ini sambil tersenyum.
Alun-alun Kota Bandung merupakan fasilitas umum yang bisa dinyatakan berhasil mencerdaskan pengunjungnya. Secara logis masyarakat lebih menyukai sesuatu yang murah-meriah. Karena bagi mereka, sesuatu yang mewah belum tentu sama seperti yang mereka harapkan. “Percuma berkunjung ke tempat mahal dan mewah, apabila tidak merasa bahagia seusai berkunjung”, ujar Rahmat suami dari Meli.

Dapat disimpulkan, bahwa masyarakat-masyarakat di Kota-kota besar sangat membutuhkan fasilitas umum yang sesuai dengan kebutuhan. Tidak harus mewah dan mahal, karena bagi masyarakat yang terpenting adalah kenyamanan semata. Apabila rasa nyaman itu sudah tumbuh, maka secara tidak langsung moment yang berkualitas akan hadir dengan sendirinya. Karena moment berkualitas itu langka dan sangat berharga bagi masyarakat pekerja keras.

Cerita ini berawal dari rencana malam Mingguku yang hendak berkunjung ke rumah seseorang. Panggil saja dia Nay, menurutku itu panggilan yang cocok untuk perempuan seidentik dirinya. Perlu kalian ketahui, dia adalah perempuan yang dulu pernah menerangi ruang gelap dalam keheningan. Aku selalu bersemangat jika akan bertemu dengannya. Namun sayangnya untuk malam Minggu ini aku berkunjung bukan untuk menciptakan percakapan-percakapan yang berkualitas bersamanya, tapi lebih tepatnya aku datang hanya untuk membayar sebuah janji yang harus aku bayar. Tepatnya pukul 7 lebih beberapa menit aku meluncur menuju rumahnya. Untungnya malam ini cuaca sedang bersahabat, langit pun tak sedang menangisi malamnya. Tak cukup jauh jarak yang harus aku tempuh, cukup beberapa menit saja aku sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Kuhentikan kendaraan yang kunaiki, tak lupa juga kuparkirkan dengan satu standar, agar kendaraan yang kunaiki tetap berdiri. Kuhentakkan kedua kakiku tepat di depan pintu gerbang, tanda bahwa aku siap untuk bertemu dengannya. Namun ada yang sedikit aneh dengan perasaanku, seharusnya perasaan ini sudah dapat aku timbun dalam-dalam, ya, walaupun aku hanya menimbunnya di balik jerami-jerami saja bukan dalam tanah atau bebatuan. Karena aku yakin, perasaanku padanya belum berakhir, aku selalu merindukan rasa yang berbeda ketika aku didekatnya.
Kulantunkan salam layaknya orang yang hendak bertamu. Saat menunggu salamku terbalas, tak sengaja kulihat dia dari balik gorden yang terbuka pada salah satu jendela rumahnya. Ternyata dia sedang duduk di ruang tamu. Tak sabar aku ingin melihatnya keluar dan menyapa salamku. Dia mulai beranjak dari tempat duduknya, sepertinya dia sudah merasakan keberadaanku. Aaaah.. aku terlalu percaya diri untuk berpikiran seperti itu. Semua hanya khayalanku saja, sudah pasti dia beranjak keluar karena mendengar suara kendaraan roda duaku dan suara salam yang kulantunkan tadi. Dia mulai menghampiri pintu gerbang yang jaraknya hanya setengah langkah dariku. “Wa’laikumsalam..”, sungguh balasan salam yang selalu aku rindukan setiap aku berkunjung ke rumahnya. Nada suaranya begitu merdu, dapat kubayangkan warna dari pita suaranya. Mungkin dia memiliki pita suara berwarna merah muda, atau mungkin juga pita suaranya bermotif seperti pita kado. Berbeda denganku yang memiliki pita suara yang tak bermotif, hanya polos berwarna hitam saja, dan jika bersuara terdengar sangat parau.
Aku beruntung, masih selalu disambut dengan salam yang begitu lembut setiap dia menghampiriku di depan gerbang maupun depan pintu rumahnya. Terjadi sebuah percakapan hanya dalam hitungan menit saja, mulai kubayar apa yang sudah kujanjikan. Seperti biasa, dia mencoba mengajakku untuk mampir ke dalam rumahnya. Sejujurnya aku ingin sekali mampir ke dalam, berbincang-bincang sederhana seperti yang dulu pernah tercipta. Tapi apa daya aku harus mengurungkan keinginanku, aku terlanjur tak sengaja melihatnya ketika sedang duduk di ruang tamu. Aku berpikir kalau dia sedang bersama tamunya, atau lebih tepatnya dia sedang bersama kekasihnya. Maka aku lebih baik harus memilih untuk segera berpamitan setelah urusanku dengannya sudah terselesaikan. Tapi sebenarnya urusanku belum selesai, aku masih ingin dia tetap ada di depan sorot mataku. Bagiku itu adalah bonus malam Mingguku yang selalu menyeramkan. Tapi yasudahlah, bagaimanapun juga aku harus tetap mensyukuri apa yang sudah aku nikmati. Walaupun malam itu aku tidak dapat menuruti hasratku untuk mampir sebentar dan berbincang sederhana dengannya. Namun pertemuanku cukup sempurna ketika kucoba rangkumkan apa yang kurasakan dengan sebuah kalimat; “Nay, kamu sangat cantik malam ini!!!”
Tak butuh waktu begitu lama untuk merasakan kembali perasaan yang sempat aku timbun di balik jerami. Sejak pertemuanku beberapa menit yang lalu itu, kini aku merasakan kembali benih-benih yang dahulu sempat padam tertiup oleh hembusan-hembusan keegoisan. Ya, dulu kita pernah mencoba untuk bersatu, tapi mungkin juga hanya aku saja yang selalu berusaha menyelipkan sosokku dalam kisah cinta mereka. Mereka adalah Nay dan kekasihnya. Jangan heran ketika membaca kata ‘kekasihnya’, karena itu sebuah fakta. Sosokku yang selalu hadir diantara mereka, mereka yang sedang dirundung kerikil yang berserakan dalam kisah percintaannya. Aku secara tidak sengaja hadir entah sebagai juri, penonton, atau juga sebagai pemeran ketiga. Tapi sebenarnya aku tak pantas hadir diantara mereka.
Keesokan harinya, kucoba untuk menghubungi Nay, kuisi dengan sebuah ajakan untuk pergi bersama. Ini bukan sebuah ajakan yang mendadak, karena aku sudah berniat  dari semalam setelah aku bertemu dengannya. Namun ajakanku mendapat balasan pada saat mentari sudah menyambut paginya. Isi pesanku cukup berwarna, karena di dalamnya berisi respon yang menggembirakan. Ternyata Nay masih menerima ajakanku untuk pergi bersama. Aku masih ragu kalau ini dapat disebut sebuah kencan, kencan dengan kekasih orang lain, atau kencan dengan masa depanku. Tapi aku tak peduli, yang terpenting hari ini aku akan menciptakan kembali moment berkualitas bersama Nay. Tak peduli akan seberapa berkualitasnya moment yang akan tercipta, yang pasti semangatku sedang berkobar.
Cukup membingungkan aku menentukan tempat yang asyik untuk dikunjungi. Karena aku tinggal di kota kecil, tidak selayaknya orang-orang yang tinggal di kota-kota besar. Mereka tidak akan kebingungan untuk menentukan tempat menarik yang layak dikunjungi. Alhasil ketika Nay bertanya “kita mau kemana?”, aku kewalahan menentukan tujuannnya. Dan ketika aku balik menanyakan padanya, Nay pun sama, dia juga bingung untuk memberikan rekomendasi tempat yang tepat. Daripada kesempatan ini aku lewatkan, aku mencoba menyebutkan satu tempat yang mungkin cukup untuk Nay menjawab “ok”. Beberapa pilihan tempat dalam otakku mulai aku acak, kemudian hasil acakannya tertuju pada satu nama, yaitu Curug 7 yang berada di daerah Panjalu. Dengan sedikit rasa ragu, aku mencoba memberikan pilihan tempat tersebut. Tanpa penolakan keras, Nay menjawab “ok”. Aku senang karena Nay tidak terlalu menuntut kemana pun aku mengajaknya. Mungkin baginya, kemana pun aku mengajaknya, dia tidak akan menolak asal bersamaku. Hahaha..aku hanya bercanda, tapi selebihnya itu yang aku harapkan!
Kulaju Si Merah beroda dua yang kukendarai menuju rumah Nay. Tepatnya pukul 11 siang aku menjemputnya. Cuaca hari itu cukup sama dengan tadi malam, langit tetap terlihat cerah, tanpa polesan hitam yang menggumpal. Sesampainya di rumah Nay, tak butuh waktu terlalu lama aku menunggu di depan rumahnya. Dia mulai terlihat dari balik pintu rumah yang dibukanya. Selepas aku melihatnya keluar, aku langsung menatap langit luas yang tepat berada di atasku. Ternyata Nay memang terlihat cantik, seperti langit cerah yang begitu indah. Keduanya sama-sama terlihat menawan pada hari itu. Aku tak menyesal mengajaknya pergi di hari Minggu yang biasanya hanya diisi dengan aktifitas yang monoton seperti bangun siang, main game, dan mandi pada saat matahari sudah tenggelam. Nay tidak hanya dapat mengalihkan duniaku saja, tapi juga dia dapat mengubah kemonotonan hari Mingguku.
Di awal perjalanan kita tidak begitu banyak bercakap. Hanya diisi dengan pembahasan yang seperlunya saja. Mungkin kita masih perlu beradaptasi untuk menyesuaikan situasi yang baru lagi kita temui. Semenjak keputusan yang Nay berikan padaku beberapa waktu lalu, aku mulai mengefektifkan usahaku untuk mendekatinya. Aku melakukannya semata-mata hanya untuk memberikan ruang agar semuanya menjadi adil, tanpa terikat paksaan diantara kita. Aku mulai membiasakan diri untuk menghilangkan perasaan yang sudah aku timbun di balik tumpukan jerami. Semenjak itulah aku tidak sedekat ini lagi. Bunga yang aku timbun cukup lama, ternyata sekarang mulai aku cium kembali wanginya. Tak dapat aku pungkiri, aku masih mengharapkannya. Bukan untuk aku miliki kembali, karena dia belum pernah menjadi milikku. Tetapi lebih untuk aku ambil alih, agar dapat selalu aku rawat dan aku jaga. Karena dia layak menjadi bunga seutuhnya, bukan menjadi bunga yang seperlunya, apalagi menjadi bunga yang diacuhkannya.
Kurang lebih satu jam lamanya kita dalam perjalanan. Terdapat beberapa tanjakan yang memaksa roda duaku tanjaki. Perjalanannya tidak begitu melelahkan ketika kita disambut oleh kesejukkan alamnya. Kumpulan pohon pinus tertanam menjulang ke atas. Memang tak seragam ukuran tinggi yang menjulang, yang pasti semakin tinggi letaknya, semakin tinggi pula pohon itu menjulang. Jalan kecil dan beberapa anak tangga ikut menemani langkah aku dan Nay menuju air terjun yang di daerah kami disebut Curug. Tempat ini disebut Curug 7 Cibolang, karena di dalamnya terdapat ada 7 air terjun atau curug pada lokasi yang berbeda. Saat itu aku dan Nay akan mendatangi curug pertama yang lokasinya lebih dekat dari lokasi curug yang lain. Melangkah berdua di atas jalan yang hanya cukup tiga orang saja, sungguh ukuran jalan yang sama seperti situasi kami bertiga saat ini. Sebelum kita sampai pada curug yang dituju, kita harus menaiki dulu anak tangga kecil yang jumlahnya cukup untuk memaksa kita menarik nafas panjang. Aku sarankan bagi yang memiliki kesehatan kurang baik, lebih baik diam saja di rumah. Aku saja cukup tersiksa untuk menaikinya. Tapi bagiku tidak ada siksaan yang berat selama aku ada di samping Nay. Karena ketika aku berada di sampingnya, aku merasa bernafas dengan paru-paru double power.
Ingin rasanya aku berjalan sambil menggandeng tangannya, namun apa daya predikat status belum berpihak padaku. Saat ini aku masih magang menjadi calon masa depannya, yang suatu saat bisa saja predikat statusku itu berubah menjadi predikat teman saja. Terkadang aku merasa penat dengan ketidakpastian ini. Seperti air  terjun yang menjulang tinggi, tapi tetap saja air itu harus jatuh ke bawah secara berulang-ulang. Sebenarnya aku hanya ingin seperti air, air itu terjun yang jatuh ke bawah, kemudian mengalir mengikuti arus yang selalu ada dalam ketenangan. Seperti yang sedang aku dan Nay lihat sekarang ini. Air jernih yang menjulang tinggi, sangat disukai oleh para penikmatnya. Mencoba mengabadikan kekaguman mereka dengan cara berfoto ria di area air terjun tersebut. Tapi bagiku itu adalah tempat yang paling menyeramkan. Karena aku merasa minder melihat sekelilingku. Di setiap sudut yang kupandang semuanya penuh kemesraan. Bagaimana tidak, karena pengunjung yang datang 90% didominasi oleh sepasang kekasih. Lain ceritanya dengan jalinan hubunganku dengan Nay, cukup menggelitik.
Tak begitu puas dengan keindahan air terjun yang pertama, kemudian kita mencoba mencari air terjun yang lainnya. Kita tidak berlanjut pada air terjun yang kedua, tapi kita lebih memilih untuk mendatangi air terjun yang ke 6 dan 7. Untuk menuju kesana, kita harus kembali pada jalur yang tadi kita lalui ketika tadi hendak menuju air terjun yang pertama. Jalurnya tidak begitu menanjak, hanya lurus saja. tapi kita harus tetap berhati-hati melangkah, karena tanah yang kita pijak cukup licin, terdapat beberapa akar pohon yang menjalar ke jalan, dan di sebelah sisinya merupakan sebuah jurang yang tak begitu dalam. Walaupun tak begitu dalam, tapi tetap saja akan fatal akibatnya jika kita terperosok ke dalamnya.
Sejenak aku dan Nay berhenti di sebuah warung kecil di sekitar lokasi wisata. Disitu memang cukup banyak warung-warung kecil yang menjajaki makanan-makanan ringan seperti snack, dan minuman. Terlihat sebuah papan yang menunjukkan arah lokasi curug yang berbeda-beda letaknya, beserta info jarak yang harus ditempuhnya. Pada papan tertulis “curug 6 & 7 700M”, tentunya bukan sebuah jarak yang cukup dekat untuk ditempuh. Aku dan Nay mencoba mengarahkan pandangan kita pada sebuah jalur sesuai papan petunjuk arah yang kita lihat. Kita sedikit menyeringai kaku, bukan pada jarak yang kita bayangkan, tapi pada jalur yang akan kita lalui menuju curug 6 & 7 tersebut. Jalurnya cukup sepi, sepertinya cukup jarang ada pengunjung yang mengunjungi lokasi curug tersebut. Kita masih belum terlalu yakin apakah kita akan benar-benar menjajal jalurnya atau kita lebih baik memutuskan untuk pulang saja. Kita coba mengira-ngira dengan seksama, kira-kira jalur seperti apa yang akan kita lalui, sementara diawalnya saja sudah terlihat mencekam dan sepi. Lalu kita coba mengambil sebuah pilihan, kita memilih untuk menunggu pengunjung lain yang tujuannya sama dengan kita. Dengan adanya pengunjung lain, setidaknya tidak hanya kita saja yang berniat mengunjungi curug 6 & 7. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya kita melihat sekolompok pengunjung yang berjumlah empat orang yang hendak mengarah ke lokasi curug 6 & 7. Aku mencoba mendeskripsikan terlebih dahulu, orang-orang seperti apa mereka, dan kira-kira apa yang akan mereka lakukan disana. Aku melihat ada dua cowok dan dua cewek, kucoba deskripsikan umur mereka, aku pastikan umur mereka lebih muda dari aku dan Nay. Itu dapat dilihat dari kepolosan raut muka dan gaya berpenampilan mereka layaknya seorang ABG. Sekarang aku coba menebak hubungan yang ada diantara mereka. Jika dilihat dari jumalah mereka yang berempat dan terdiri dari dua cowok dan dua cewek, maka aku sudah dapat menebaknya kalau mereka adalah dua pasang kekasih. Lalu kulihat sebuah kamera yang dibawa oleh salah satu cewek diantara mereka, itu sebuah kamera yang cukup canggih. Sudah dipastikan pula selain tujuan mereka yang ingin memadu kasih, mereka juga pastinya akan bernarsis ria disana.
 Aku mulai melangkah bersama Nay, kutapaki tanah yang diselimuti rerumputan dan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh disisinya. Kali ini jalannya begitu extreme,  banyak pepohonan yang besar dikelilingi akar-akar yang menggelantung di atasnya. Terdengar beberapa kali ranting-ranting yang berjatuhan. Membuatku sedikit paranoid dibuatnya. Apalagi sebelum kita memasuki jalur itu, kita sempat melihat seekor lutung yang sedang melompat dari dahan satu ke dahan yang lain. Rasa was-wasku semakin menggebu. Aku takut tiba-tiba seekor lutung itu mengagetkan rasa was-wasku. Aku berusaha tetap tenang di hadapan Nay, aku tidak mau kalau naluri laki-lakiku tercoreng di hadapannya. Aku masih memimpin di depan, mencoba memilihkan jalan yang aman untuk ditapaki. Semakin jauh melangkah, semakin sukarnya jalur yang kita temui. Jalan tanah yang lembab membuat kita harus lebih teliti memilih langkah agar kita tidak terpeleset. Sering kali aku harus menyibakkan dahan-dahan tanaman yang mengarah ke jalan yang kita lewati. Sering kali pula kita dihapkan dengan batu-batu cukup besar yang terletak pada jalan tanah. Kita harus hati-hati jika menginjakkan kaki kita pada batu tersebut, batunya cukup licin karena adanya sebagian lumut yang menempel. Semakin jauh di tengah perjalanan, jalur yang kita lalui semakin tak keruan. Benar-benar jalur yang sangat sukar ketika kita menemukan medan yang menanjak, cukup terjang karena tanjakannya tidak terlalu mulus dan rata. Tidak jarang kita harus melewati akar-akar pohon yang terselip diantara batu besar. Sering kali aku terpeleset kecil, tapi untungnya tubuhku tidak sampai terbaring ke tanah. Aku sebagai laki-laki yang memimpin di depan harus memikul tanggungjawab yang besar. Sesering mungkin aku menengok ke belakang, aku harus selalu memastikan kalau Nay baik-baik saja di belakang. Tanggungjawabku terkesan menyenangkan, karena tanggungjwab yang harus kupikul adalah keselamatan dan kenyamanan Nay. Dia harus selalu merasa nyaman ketika sedang bersamaku. Sering kali kucoba untuk menyambut tangannya ketika kita menemukan jalan yang yang menanjak, licin, dan curam. Sedikit aku merasa senang saat dihadapkan dengan medan jalan yang mungkin bagi Nay cukup sulit untuk dilalui. Karena disitulah aku mempunyai kesempatan untuk menggenggam tangannya. Walaupun aku tak dapat menggenggamnya sepanjang perjalanan, tapi setidaknya aku mendapatkan kesempatan berkualitas saat menggenggam tangannya.
Gemercik curug yang bergemuruh sudah mulai terdengar jelas. Tapi kita belum tahu berapa jauh lagi jarak yang harus kita tempuh. Karena semakin jauh, kita mulai menemukan medan-medan yang lebih berbahaya. Air hujan yang tadinya tak begitu sering turun, kini air itu mulai sering menjatuhkan tetesan-tetesan yang cukup deras. Aku dan Nay mulai resah, kita resah dengan kondisi jalur yang semakin sukar, ditambah lagi dengan air hujan yang sudah mulai turun dengan derasnya. Naluri laki-lakiku pun mulai menajam. Aku harus segera mengambil keputusan. Kucoba mendiskusikan situasi yang mulai tak terkendali ini bersama Nay. Kita harus mengambil keputusan yang tepat, apakah kita harus melanjutkan menuju curug itu atau kita lebih baik kembali saja. Aku merasa sangat bingung ketika Nay memberikan pilihannya padaku. Jika kita memilih untuk melanjutkan perjalanan ini, aku kurang yakin apakah kita mampu untuk melewatinya? Dan ketika kita sampai disana, apakah kita akan aman? Apakah disana juga banyak terdapat pengunjung? Sedangkan sekelompok ABG yang kita lihat diawal saja sampai sekarang tidak terkejar, bahkan sosok-sosoknya pun tidak kita lihat lagi. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum jelas jawabannya. Hujan pun turun semakin deras, aku mulai bingung harus mengambil keputusan yang mana. Sebenarnya aku ingin terus melanjutkan perjalanan, tapi aku juga tidak mau mengambil resiko yang berbahaya untuk kita. Setelah beberapa pertimbangan, kemudian aku memutuskan lebih baik kita kembali saja.
Untung saja jalan menuju arah kembali tak sesukar ketika kita berangkat. Cukup terasa cepat, tak terasa kalau kita sudah melihat tikungan yang berada di awal jalur. Kita sudah berada di warung yang tadi sempat kita singgahi. Mungkin kali ini kita akan singgah cukup lama, karena derasnya hujan yang masih saja mengguyur. Sempat kubayangkan kalau di warung itu pasti banyak orang yang sedang berteduh. Tapi tak seperti yang aku bayangkan, ternyata warung itu sepi, yang ada hanya si ibu penjualnya saja. Aku dan Nay mencoba mencari tempat yang nyaman di sekitar warung. Kita sangat bersyukur, kita sudah bisa sampai lagi di warung yang tadi. Tidak terbayang kalau kita memilih untuk melanjutkan menuju curug, mungkin sesampainya kita disana, kita hanya numpang berteduh saja. Itu pun kalau disananya memang ada tempat yang layak untuk berteduh, dan kalau tidak ada, pasti kita akan kedinginan basah kuyup karena kehujanan. Sejujurnya aku masih penasaran bagaimana suasana curug disana yang belum aku kunjungi, dan aku juga masih penasaran kemana perginya dua pasangan ABG yang tadi berusaha kita susul. Rasa penasaran memaksaku untuk bertanya kepada ibu warung.
“Maaf bu, kalau jarak ke curug 6 & 7 masih jauh? Tadi kita hanya sampai di jalan yang menanjak dan berkelok saja. Dari situ masih jauh, bu?”
“Lumayan sedikit lagi, a (panggilan untuk laki-laki sunda)!!!”
“Oh, begitu ya. Kalau disana ada juga warung-warung seperti ini, bu?”
“Tidak ada, a. Karena jalannya yang cukup sulit, jadi tidak ada yang berjualan disana!”
“Pantesan saja sangat terasa sepi.. Aku beli snack Taro satu, bu!”
Cukup lega karena rasa penasaranku sudah terjawab, walaupun tidak begitu jelas. Mungkin kalau ingin jelas, aku harus berada disana. Ok, mungkin lain waktu saja aku akan menuntaskan rasa kepenasarananku ini. Dan semoga saja Nay lah yang masih menemaniku..hahaha.
Kali ini yang kulihat tidak ada sosok penampakan-penampakan pasangan kekasih yang terkadang membuatku paranoid ketika melihatnya. Mungkin juga karena saat itu sedang hujan deras, jadi mereka sedang berteduh juga seperti aku dan Nay. Untung saja di warung ini hanya ada aku, Nay, dan ibu warung saja, tidak ada penampakan sepasang kekasih lainnya. Kalau ada, aku akan kurang merasa nyaman berteduh bersama Nay. Aku menganggap warung ini sedang aku sewa, demi untuk menciptakan moment berkualitas. Aku selalu senang ketika sedang berada di dekat Nay. Parasnya yang manis, kulitnya yang terlihat cerah, dan gaya berkamatanya yang membuatku yakin, kalau dia memang perempuan tipeku. Di sela percakapan aku dengannya, kuselipkan sebuah pertanyaan tentang isi hatinya. Aku pernah melihat dia memasang gambar sebuah puzzle berbentuk hati yang utuh, dan di sebelahnya ada juga gambar puzzle hati yang hancur berantakan. Sebenarnya aku mengerti arti dari gambar yang dia pasang di profil kontak BBM-nya, tapi aku ingin mendengar secara langsung apa yang sedang dirasakannya. Ternyata benar saja, dia sedang kurang bersahabat dengan kisah percintaannya. Dia sedang merasa penat dengan hubungannya, dia sedikit lelah menghadapi sikap kekasihnya yang selalu mengacuhkannya. Sikap acuhnya ini tidak hanya terjadi satu kali saja, tapi sudah berulang kali. Nay merasa hubungannya tak seperti dulu lagi, tak seperti disaat awal-awal dia berhubungan. Ibarat permen karet yang hanya manis di awalnya saja. Ini bukan ceritanya yang pertama kali aku dengar, karena sebelum-sebelumnya pernah aku dengar cerita seperti ini. Sesering kali aku mendengar problem percintaannya, sesering itu pula aku merasa bingung. Aku bingung harus berperan seperti apa. Di satu sisi aku berperan sebagai teman, dan di sisi lain aku adalah teman yang berharap lebih. Terkadang aku merasa senang mendengar permasalahan yang ada dalam percintaannya, terkadang aku juga ingin sekali menjelma menjadi makhluk merah bertanduk yang ada di sebelah kirinya, dan kemudian berkata “PUTUSKAN SAJA!!!” Tapi aku tidak gila, aku tidak memaksakan apa yang seharusnya dipaksakan. Biarlah harapanku menjadi seperti air yang jatuh dari tebing yang tinggi, kemudian mengalir mengikuti arus yang tenang.
Tak terasa hujan pun sedikit demi sedikit berkurang derasnya. Dibarengi dengan mulai bermunculannya penampakan-penampakan pasangan kekasih yang berkeliaran. Pandangan kita tertuju pada kemunculan sekelompok pasangan ABG yang terlihat dari arah lokasi curug 6 & 7. Ternyata mereka memang benar-benar mengunjungi curug itu. Hanya saja mereka berjalan terlalu cepat, sehingga kita tidak dapat menyusulnya. Mereka pun sempat beristirahat di warung yang sama dengan kita. Tidak terlalu lama setelah hujan reda, mereka bergegas turun untuk pulang. Kita pun sama, kita juga akan bergegas turun untuk pulang. Cukup lega salah satu rasa penasaran aku dan Nay kini sudah terjawab, sekelompok pasangan ABG itu memang ada. Lalu kubayar snack Taro yang tadi aku makan, kukenakan kembali jaket yang sempat kulepas, aku periksa kembali barang-barang yang kubawa agar tidak tertinggal. Kita mulai melangkah bersama menuruni anak-anak tangga yang sempat kita naiki.
Tetesan hujan masih terasa menyentuh kulit. Sepertinya tetesannya tak akan berhenti, mungkin juga akan kembali hujan. Untungnya masih tak terlalu banyak tetesan yang jatuh ketika kita sedang berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang langkah kita menuruni anak tangga, aku sedikit terganggu dengan pandangan yang ada di hadapan aku dan Nay. Ada sepasang kekasih yang berjalan saling bergandengan tangan, kadang berrangkulan, kadang juga si cowok mengusap kepala si cewek. Ya Tuhan.. sungguh pemandangan yang tidak menarik sekali, mereka seolah tahu siapa yang ada di belakangnya, dan mereka seolah seperti sengaja melakukannya. Tapi entah kenapa, aku tidak kepikiran untuk segera mengajak Nay mendahului mereka. Kita malah tetap betah melangkah di belakang mereka, hingga di tempat parkir.
Sebelum mulai berkendara, kita sedikit berdebat kecil. Kita memperdebatkan siapa yang lebih layak untuk memakai jas hujan. Dikarenakan jas hujan yang kita bawa hanya satu, jadi kita saling merekomendasikan satu sama lain. Aku menyuruhnya untuk mengenakan jas hujan itu, tetapi Nay malah berbalik menyuruhku untuk mengenakannya. Mungkin ini hanya sepele saja, tapi bagi kita ini adalah sikap saling pengertian. Kita memiliki alasan masing-masing atas argumen yang diberikan. Aku menyarankan, lebih baik dia saja yang mengenakan jas hujan itu. Jangan terlalu menghiraukan aku. Walaupun aku yang mengendarai di depan, tapi aku tidak apa-apa, kalau aku tidak mengenakan jas hujan juga. Karena jaket yang sedang aku kenakan berbahan parasit, cukup untuk menahan air agar tidak tembus ke dalam. Biar saja celanaku kebasahan, karena celanaku sudah terlanjur kotor. Paling juga nanti sesampainya di rumah langsung dicuci. Tidak kalah dengan alasan-alasan yang kuberikan, Nay pun memiliki alasannya sendiri, kenapa dia lebih menyuruhku untuk mengenakan jas hujan tersebut. Baginya, akulah yang lebih layak mengenakan jas hujan itu. Karena aku yang berada di depan, jadi aku akan lebih sering terkena air hujan. Sedangkan dia yang duduk di belakangku sebagai yang dibonceng, dia tidak akan terlalu sering terkena air hujan, dan kemungkinan untuk basah kuyupunya pun akan lebih kecil dibandingkan aku yang mengendarai di depan.
Daripada kita menghabiskan waktu hanya untuk berdebat di tempat parkir, aku mencoba mengambil sebuah keputusan. Ok, aku yang akan mengalah, “kalau kamu memaksa aku yang harus memakai jas hujan ini, akan aku turuti, tapi nanti kalau hujannya sudah mulai deras, ya?” Nay sedikit senang karena aku mencoba mengerti apa yang diinginkannya. Kita pun mulai melaju diantara dua roda. Mulai menuruni jalan yang sudah basah tersiram air hujan. Aku mengendarai motorku dengan hati-hati dan  berusaha senyaman mungkin. Dalam perjalanan, aku mengajak dia membahas apa yang sudah kita lalui di lokasi curug tadi. Kucoba berikan celotehan-celotehan sederhana yang dapat membuatnya menyeringai lebar. Sungguh kebahagiaan sederhana yang terjadi di atas dua roda yang kita kendarai. Sebuah kebahagian yang sejenak dapat mengkhilafkan tentang siapa dan apa status kita. Kucoba menanyakan kembali apa yang pernah aku tanyakan dulu. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk menanyakannya. Berulang kali kucoba untuk mulai berujar, berulang kali pula aku membatalkannya. Melihat sikapku yang cukup aneh, Nay menjadi semakin penasaran. Mungkin juga dia merasa kesal karena aku beberapa kali membatalkan pertanyaan yang akan aku ajukan. Sebenarnya aku takut jika pertanyaanku membuat kita menjadi beda, seperti dulu saat aku pernah mengalami kekecewaan. Dalam diam aku mencoba menyiapkan diri untuk menanyakannya kembali. Aku mencoba mulai dari pertanyaan ini, “Nay, apa sekarang sudah bulat ingin putus?” Dia menjawab dengan memberikan perbedaan situasi yang dialaminya dulu dengan sekarang. Dulu dia pernah meminta putus pada kekasihnya, tapi sempat tidak jadi, karena kekasihnya berjanji akan berubah. Dengan berjalannya waktu, sikap perubahan yang terjadi pada kekasihnya hanyalah sementara. Sekarang sikap kekasihnya mulai menjadi acuh kembali. Karena itulah yang sekarang membuat Nay berpikir untuk menyudahinya saja. Dan ternyata waktu tak memberikan ruang untuk aku menanyakan bagian yang terpenting.
Sebenarnya pertanyaanku belum selesai. Masih ada beberapa bagian pertanyaan lagi yang belum aku tanyakan, tapi percakapan kita terhentikan oleh jarak rumah Nay yang sudah dekat. Pertanyaan sebelumnya yang Nay dengar itu baru awalnya saja, belum masuk pada pertanyaan yang terpentingnya. Sebenarnya aku ingin membahas kembali keputusan yang pernah dia berikan padaku dulu. Nay pernah berkata seperti ini, “maaf, aku tak bisa bersamamu, walaupun aku juga memiliki rasa yang sama sepertimu, tapi aku tak bisa meninggalkan dia. Memang, sikap yang dia berikan padaku membuat aku kecewa, tapi aku masih bisa memaafkannya berdasarkan janji perubahan yang dia berikan!”
“Setelah kini kamu mendapatkan janji-janji usang dari kekasihmu itu, apakah kamu masih ingin mempertahankannya? Dan, setelah moment berkualitas yang kita ciptakan tadi, masih layakkah aku menunggu dan berharap?”, inilah penggalan pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan kemarin. Mungkin perjalanan dan petualangan kita kemarin bagaikan gemercik dalam semu. Kemesraan yang terjadi hanya terdengar nyaringnya saja, tanpa ikatan yang seperti orang lain lihat dan artikan. Aku anggap peranku ibarat petualangan kita yang hendak mengunjungi curug 6 & 7. Banyak medan terjang yang harus aku lewati, medan yang dapat memaksaku untuk mencoba kembali disaat situasi kurang memungkin untuk aku paksakan. Sejenak aku harus singgah di sebuah wewarungan kecil ini, dengan maksud hanya untuk menunggu hujan reda. Dan ketika aku tak lagi mendapatkan kesempatan untuk menunggu, mungkin aku memutuskan untuk kembali saja. Bukan kembali untuk memperjuangkan pengorbananku, tetapi.. aku akan kembali untuk pulang, pulang ke rumah.
“Aku masih ingat pertanyaan anehmu mengenai rokok, yang sempat kamu tanyakan padaku. Pertanyaan itu sama persisnya seperti kamu menanyakan tentang cinta. Kenapa orang-orang banyak yang jatuh cinta, sedangkan cinta bisa saja dapat membunuhmu? Mungkin aku hanya dapat menjawabnya dengan satu kata, yaitu ‘kenyamanan’. Aku merasa nyaman ketika sedang merokok, begitu juga ketika aku sedang jatuh cinta. Walaupun mungkin nantinya rokok atau cinta bisa saja dapat membunuh kita, tapi yang terpenting aku sudah mendapatkan kenyamanan. Dan kamu itu ibarat rokok, walaupun kamu juga bisa membunuhku dengan cintamu, tetapi yang terpenting aku selalu mendapatkan kenyamanan disaat aku mencintaimu.”

“Gemercik yang kamu dengar ini hanyalah sesuatu yang semu. Resapilah di setiap tetesannya. Dan jika kamu sudah mulai merasa nyaman dengan apa yang sedang kamu dengar, cobalah untuk masuk dan ikuti aliran arusnya yang tenang!!!”
Categories: , , ,

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian ketika mendengar atau membaca kata ‘hobi’? Dapat dipastikan ketika kalian mendengar atau membaca kata itu, kalian langsung membayangkan hobi apa yang disenangi. Pengertian kata hobi sangatlah sederhana, yaitu suatu kegemaran yang dilakukan pada saat waktu luang. Seperti hobi memancing yang biasanya dilakukan di sela kesibukan rutinitas sehari-hari, hobi bermain bola basket yang dilakukan bersama teman-teman pada hari libur sekolah, dan hobi membaca yang biasa dilakukan pada saat sedang bersantai di rumah. Semua hobi yang kalian miliki dapat diwujudkan kapan saja dan dimana saja, asalkan tidak mengganggu kegiatan utama kalian.
Hobi kreatif bisa menjadi uang, apakah mungkin? Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan umum yang dilontarkan oleh orang-orang awam. Maksud dari “orang awam” ini bukanlah orang-orang yang memiliki pola pikir sempit. Tetapi maksud “orang awam” disini merupakan sebagian orang yang belum pernah memanfaatkan hobinya menjadi sebuah kreasi yang bermanfaat. Masih banyak orang-orang di luar sana yang menjadikan hobinya hanya sebagai kegiatan biasa untuk mengisi waktu luang saja. Padahal, apabila kita menekuni dengan serius hobi yang dimiliki, kita akan mendapatkan nominal cantik dari hobi tersebut. Dan kenapa disebut sebagai “nominal cantik”? karena di balik nominal tersebut terdapat kesenangan tersendiri yang sulit diungkapkan. Arti nominal disini juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur, sejauh mana hobi kreatif kita dapat menjadi kreasi yang bermanfaat.
 Kebanyakan orang lebih menjadikan sebuah hobi hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang saja, akan tetapi ada juga sebagian orang yang mencari penghasilannya dari hobi yang disenanginya itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata hobi hanya diartikan sebagai “kegemaran yang dilakukan di waktu senggang”. Contohnya, hobi melukis itu sebagai kegemaran saja, bukan sebagai mata pencaharian. Walaupun demikian, di jaman era-globalisasi seperti sekarang ini, sebuah hobi ternyata dapat dijadikan sebagai mata pencaharian.
Terkadang datangnya sebuah hobi tidak dapat ditentukan dan tidak terduga. Hobi kreatif biasanya berawal dari sesuatu yang sifatnya iseng belaka. Ternyata secara tiba-tiba keisengan itu dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat. Seperti kebanyakan orang yang menganggap bahwa hobi menulis hanyalah keisengan di waktu luang saja, karena tidak ada kerjaan maka orang tersebut iseng-iseng menulis sebuah artikel review acara konser musik. Tanpa disadari, ternyata ada salah seorang temannya yang membaca artikelnya itu. Secara kebetulan temannya itu berkecimpung di sebuah organisasi dunia maya. Sang teman mulai tertarik akan artikel yang pernah ditulisnya. Dengan berlandaskan hubungan pertemanan, lalu sang teman memintanya untuk menjadi penulis dalam organisasi dunia mayanya. Lambat-laun, hobi menulis yang awalnya hanya sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang saja, kini ia jadikan sebagai mata pencaharian dalam hobi kreatifnya.

Contoh story line di atas mungkin terdengar biasa saja. Akan tetapi, bagi seseorang yang sedang bingung mencari lowongan pekerjaan, contoh di atas dapat dijadikan sebagai gambaran nyata. Kalau ditelaah lebih dalam, ternyata sebenarnya suatu profesi pekerjaan yang kita inginkan dapat tercipta dari hobi yang kita miliki. Jika kalian memiliki hobi bernyanyi, maka berlatihlah agar menjadi seorang penyanyi yang profesional, jika hobi kalian itu memasak, maka belajar dan berlatihlah dalam mengolah masakan, dan jika hobi kalian adalah menulis, maka berlatihlah membuat karangan tulisan dan rajinlah mencari banyak referensi dari tulisan lain. Mulai dari sekarang cobalah ubah pola berpikir kalian dari yang tidak tahu menjadi mengetahui, dan dari yang tidak mengenal menjadi mengenali. Galilah potensi yang ada di dalam diri kalian masing-masing, siapa tahu potensi kerja kalian ada dalam hobi kreatif  kalian. Jangan pernah menyerah untuk berkreasi sekreatif mungkin, karena bisa saja kreasi kalian dapat mendatangkan nominal-nominal cantik di dalamnya.