Cerita
ini berawal dari rencana malam Mingguku yang hendak berkunjung ke rumah
seseorang. Panggil saja dia Nay, menurutku itu panggilan yang cocok untuk
perempuan seidentik dirinya. Perlu kalian ketahui, dia adalah perempuan yang
dulu pernah menerangi ruang gelap dalam keheningan. Aku selalu bersemangat jika
akan bertemu dengannya. Namun sayangnya untuk malam Minggu ini aku berkunjung
bukan untuk menciptakan percakapan-percakapan yang berkualitas bersamanya, tapi
lebih tepatnya aku datang hanya untuk membayar sebuah janji yang harus aku
bayar. Tepatnya pukul 7 lebih beberapa menit aku meluncur menuju rumahnya.
Untungnya malam ini cuaca sedang bersahabat, langit pun tak sedang menangisi
malamnya. Tak cukup jauh jarak yang harus aku tempuh, cukup beberapa menit saja
aku sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Kuhentikan kendaraan yang kunaiki,
tak lupa juga kuparkirkan dengan satu standar, agar kendaraan yang kunaiki
tetap berdiri. Kuhentakkan kedua kakiku tepat di depan pintu gerbang, tanda
bahwa aku siap untuk bertemu dengannya. Namun ada yang sedikit aneh dengan
perasaanku, seharusnya perasaan ini sudah dapat aku timbun dalam-dalam, ya,
walaupun aku hanya menimbunnya di balik jerami-jerami saja bukan dalam tanah
atau bebatuan. Karena aku yakin, perasaanku padanya belum berakhir, aku selalu
merindukan rasa yang berbeda ketika aku didekatnya.
Kulantunkan
salam layaknya orang yang hendak bertamu. Saat menunggu salamku terbalas, tak
sengaja kulihat dia dari balik gorden yang terbuka pada salah satu jendela
rumahnya. Ternyata dia sedang duduk di ruang tamu. Tak sabar aku ingin
melihatnya keluar dan menyapa salamku. Dia mulai beranjak dari tempat duduknya,
sepertinya dia sudah merasakan keberadaanku. Aaaah.. aku terlalu percaya diri untuk
berpikiran seperti itu. Semua hanya khayalanku saja, sudah pasti dia beranjak
keluar karena mendengar suara kendaraan roda duaku dan suara salam yang
kulantunkan tadi. Dia mulai menghampiri pintu gerbang yang jaraknya hanya
setengah langkah dariku. “Wa’laikumsalam..”, sungguh balasan salam yang selalu
aku rindukan setiap aku berkunjung ke rumahnya. Nada suaranya begitu merdu,
dapat kubayangkan warna dari pita suaranya. Mungkin dia memiliki pita suara
berwarna merah muda, atau mungkin juga pita suaranya bermotif seperti pita
kado. Berbeda denganku yang memiliki pita suara yang tak bermotif, hanya polos
berwarna hitam saja, dan jika bersuara terdengar sangat parau.
Aku
beruntung, masih selalu disambut dengan salam yang begitu lembut setiap dia
menghampiriku di depan gerbang maupun depan pintu rumahnya. Terjadi sebuah percakapan
hanya dalam hitungan menit saja, mulai kubayar apa yang sudah kujanjikan.
Seperti biasa, dia mencoba mengajakku untuk mampir ke dalam rumahnya.
Sejujurnya aku ingin sekali mampir ke dalam, berbincang-bincang sederhana
seperti yang dulu pernah tercipta. Tapi apa daya aku harus mengurungkan
keinginanku, aku terlanjur tak sengaja melihatnya ketika sedang duduk di ruang
tamu. Aku berpikir kalau dia sedang bersama tamunya, atau lebih tepatnya dia
sedang bersama kekasihnya. Maka aku lebih baik harus memilih untuk segera
berpamitan setelah urusanku dengannya sudah terselesaikan. Tapi sebenarnya
urusanku belum selesai, aku masih ingin dia tetap ada di depan sorot mataku. Bagiku
itu adalah bonus malam Mingguku yang selalu menyeramkan. Tapi yasudahlah,
bagaimanapun juga aku harus tetap mensyukuri apa yang sudah aku nikmati.
Walaupun malam itu aku tidak dapat menuruti hasratku untuk mampir sebentar dan
berbincang sederhana dengannya. Namun pertemuanku cukup sempurna ketika kucoba
rangkumkan apa yang kurasakan dengan sebuah kalimat; “Nay, kamu sangat cantik
malam ini!!!”
Tak
butuh waktu begitu lama untuk merasakan kembali perasaan yang sempat aku timbun
di balik jerami. Sejak pertemuanku beberapa menit yang lalu itu, kini aku
merasakan kembali benih-benih yang dahulu sempat padam tertiup oleh
hembusan-hembusan keegoisan. Ya, dulu kita pernah mencoba untuk bersatu, tapi mungkin
juga hanya aku saja yang selalu berusaha menyelipkan sosokku dalam kisah cinta
mereka. Mereka adalah Nay dan kekasihnya. Jangan heran ketika membaca kata
‘kekasihnya’, karena itu sebuah fakta. Sosokku yang selalu hadir diantara
mereka, mereka yang sedang dirundung kerikil yang berserakan dalam kisah
percintaannya. Aku secara tidak sengaja hadir entah sebagai juri, penonton, atau
juga sebagai pemeran ketiga. Tapi sebenarnya aku tak pantas hadir diantara
mereka.
Keesokan
harinya, kucoba untuk menghubungi Nay, kuisi dengan sebuah ajakan untuk pergi
bersama. Ini bukan sebuah ajakan yang mendadak, karena aku sudah berniat dari semalam setelah aku bertemu dengannya.
Namun ajakanku mendapat balasan pada saat mentari sudah menyambut paginya. Isi
pesanku cukup berwarna, karena di dalamnya berisi respon yang menggembirakan.
Ternyata Nay masih menerima ajakanku untuk pergi bersama. Aku masih ragu kalau
ini dapat disebut sebuah kencan, kencan dengan kekasih orang lain, atau kencan
dengan masa depanku. Tapi aku tak peduli, yang terpenting hari ini aku akan
menciptakan kembali moment berkualitas
bersama Nay. Tak peduli akan seberapa berkualitasnya moment yang akan tercipta, yang pasti semangatku sedang berkobar.
Cukup
membingungkan aku menentukan tempat yang asyik untuk dikunjungi. Karena aku
tinggal di kota kecil, tidak selayaknya orang-orang yang tinggal di kota-kota
besar. Mereka tidak akan kebingungan untuk menentukan tempat menarik yang layak
dikunjungi. Alhasil ketika Nay bertanya “kita mau kemana?”, aku kewalahan
menentukan tujuannnya. Dan ketika aku balik menanyakan padanya, Nay pun sama,
dia juga bingung untuk memberikan rekomendasi tempat yang tepat. Daripada
kesempatan ini aku lewatkan, aku mencoba menyebutkan satu tempat yang mungkin
cukup untuk Nay menjawab “ok”. Beberapa pilihan tempat dalam otakku mulai aku
acak, kemudian hasil acakannya tertuju pada satu nama, yaitu Curug 7 yang
berada di daerah Panjalu. Dengan sedikit rasa ragu, aku mencoba memberikan
pilihan tempat tersebut. Tanpa penolakan keras, Nay menjawab “ok”. Aku senang
karena Nay tidak terlalu menuntut kemana pun aku mengajaknya. Mungkin baginya,
kemana pun aku mengajaknya, dia tidak akan menolak asal bersamaku. Hahaha..aku
hanya bercanda, tapi selebihnya itu yang aku harapkan!
Kulaju
Si Merah beroda dua yang kukendarai menuju rumah Nay. Tepatnya pukul 11 siang
aku menjemputnya. Cuaca hari itu cukup sama dengan tadi malam, langit tetap
terlihat cerah, tanpa polesan hitam yang menggumpal. Sesampainya di rumah Nay,
tak butuh waktu terlalu lama aku menunggu di depan rumahnya. Dia mulai terlihat
dari balik pintu rumah yang dibukanya. Selepas aku melihatnya keluar, aku
langsung menatap langit luas yang tepat berada di atasku. Ternyata Nay memang
terlihat cantik, seperti langit cerah yang begitu indah. Keduanya sama-sama
terlihat menawan pada hari itu. Aku tak menyesal mengajaknya pergi di hari
Minggu yang biasanya hanya diisi dengan aktifitas yang monoton seperti bangun siang, main game, dan mandi pada saat matahari sudah
tenggelam. Nay tidak hanya dapat mengalihkan duniaku saja, tapi juga dia dapat
mengubah kemonotonan hari Mingguku.
Di
awal perjalanan kita tidak begitu banyak bercakap. Hanya diisi dengan
pembahasan yang seperlunya saja. Mungkin kita masih perlu beradaptasi untuk
menyesuaikan situasi yang baru lagi kita temui. Semenjak keputusan yang Nay
berikan padaku beberapa waktu lalu, aku mulai mengefektifkan usahaku untuk
mendekatinya. Aku melakukannya semata-mata hanya untuk memberikan ruang agar
semuanya menjadi adil, tanpa terikat paksaan diantara kita. Aku mulai
membiasakan diri untuk menghilangkan perasaan yang sudah aku timbun di balik
tumpukan jerami. Semenjak itulah aku tidak sedekat ini lagi. Bunga yang aku
timbun cukup lama, ternyata sekarang mulai aku cium kembali wanginya. Tak dapat
aku pungkiri, aku masih mengharapkannya. Bukan untuk aku miliki kembali, karena
dia belum pernah menjadi milikku. Tetapi lebih untuk aku ambil alih, agar dapat
selalu aku rawat dan aku jaga. Karena dia layak menjadi bunga seutuhnya, bukan
menjadi bunga yang seperlunya, apalagi menjadi bunga yang diacuhkannya.
Kurang
lebih satu jam lamanya kita dalam perjalanan. Terdapat beberapa tanjakan yang
memaksa roda duaku tanjaki. Perjalanannya tidak begitu melelahkan ketika kita
disambut oleh kesejukkan alamnya. Kumpulan pohon pinus tertanam menjulang ke
atas. Memang tak seragam ukuran tinggi yang menjulang, yang pasti semakin
tinggi letaknya, semakin tinggi pula pohon itu menjulang. Jalan kecil dan
beberapa anak tangga ikut menemani langkah aku dan Nay menuju air terjun yang
di daerah kami disebut Curug. Tempat ini disebut Curug 7 Cibolang, karena di
dalamnya terdapat ada 7 air terjun atau curug pada lokasi yang berbeda. Saat itu
aku dan Nay akan mendatangi curug pertama yang lokasinya lebih dekat dari
lokasi curug yang lain. Melangkah berdua di atas jalan yang hanya cukup tiga
orang saja, sungguh ukuran jalan yang sama seperti situasi kami bertiga saat
ini. Sebelum kita sampai pada curug yang dituju, kita harus menaiki dulu anak
tangga kecil yang jumlahnya cukup untuk memaksa kita menarik nafas panjang. Aku
sarankan bagi yang memiliki kesehatan kurang baik, lebih baik diam saja di
rumah. Aku saja cukup tersiksa untuk menaikinya. Tapi bagiku tidak ada siksaan
yang berat selama aku ada di samping Nay. Karena ketika aku berada di
sampingnya, aku merasa bernafas dengan paru-paru double power.
Ingin
rasanya aku berjalan sambil menggandeng tangannya, namun apa daya predikat
status belum berpihak padaku. Saat ini aku masih magang menjadi calon masa
depannya, yang suatu saat bisa saja predikat statusku itu berubah menjadi
predikat teman saja. Terkadang aku merasa penat dengan ketidakpastian ini.
Seperti air terjun yang menjulang
tinggi, tapi tetap saja air itu harus jatuh ke bawah secara berulang-ulang.
Sebenarnya aku hanya ingin seperti air, air itu terjun yang jatuh ke bawah,
kemudian mengalir mengikuti arus yang selalu ada dalam ketenangan. Seperti yang
sedang aku dan Nay lihat sekarang ini. Air jernih yang menjulang tinggi, sangat
disukai oleh para penikmatnya. Mencoba mengabadikan kekaguman mereka dengan
cara berfoto ria di area air terjun tersebut. Tapi bagiku itu adalah tempat
yang paling menyeramkan. Karena aku merasa minder melihat sekelilingku. Di
setiap sudut yang kupandang semuanya penuh kemesraan. Bagaimana tidak, karena
pengunjung yang datang 90% didominasi oleh sepasang kekasih. Lain ceritanya
dengan jalinan hubunganku dengan Nay, cukup menggelitik.
Tak
begitu puas dengan keindahan air terjun yang pertama, kemudian kita mencoba
mencari air terjun yang lainnya. Kita tidak berlanjut pada air terjun yang
kedua, tapi kita lebih memilih untuk mendatangi air terjun yang ke 6 dan 7. Untuk
menuju kesana, kita harus kembali pada jalur yang tadi kita lalui ketika tadi
hendak menuju air terjun yang pertama. Jalurnya tidak begitu menanjak, hanya
lurus saja. tapi kita harus tetap berhati-hati melangkah, karena tanah yang
kita pijak cukup licin, terdapat beberapa akar pohon yang menjalar ke jalan,
dan di sebelah sisinya merupakan sebuah jurang yang tak begitu dalam. Walaupun
tak begitu dalam, tapi tetap saja akan fatal akibatnya jika kita terperosok ke
dalamnya.
Sejenak
aku dan Nay berhenti di sebuah warung kecil di sekitar lokasi wisata. Disitu
memang cukup banyak warung-warung kecil yang menjajaki makanan-makanan ringan
seperti snack, dan minuman. Terlihat
sebuah papan yang menunjukkan arah lokasi curug yang berbeda-beda letaknya,
beserta info jarak yang harus ditempuhnya. Pada papan tertulis “curug 6 & 7
700M”, tentunya bukan sebuah jarak yang cukup dekat untuk ditempuh. Aku dan Nay
mencoba mengarahkan pandangan kita pada sebuah jalur sesuai papan petunjuk arah
yang kita lihat. Kita sedikit menyeringai kaku, bukan pada jarak yang kita
bayangkan, tapi pada jalur yang akan kita lalui menuju curug 6 & 7 tersebut.
Jalurnya cukup sepi, sepertinya cukup jarang ada pengunjung yang mengunjungi
lokasi curug tersebut. Kita masih belum terlalu yakin apakah kita akan
benar-benar menjajal jalurnya atau kita lebih baik memutuskan untuk pulang saja.
Kita coba mengira-ngira dengan seksama, kira-kira jalur seperti apa yang akan
kita lalui, sementara diawalnya saja sudah terlihat mencekam dan sepi. Lalu
kita coba mengambil sebuah pilihan, kita memilih untuk menunggu pengunjung lain
yang tujuannya sama dengan kita. Dengan adanya pengunjung lain, setidaknya
tidak hanya kita saja yang berniat mengunjungi curug 6 & 7. Setelah
beberapa menit menunggu, akhirnya kita melihat sekolompok pengunjung yang
berjumlah empat orang yang hendak mengarah ke lokasi curug 6 & 7. Aku
mencoba mendeskripsikan terlebih dahulu, orang-orang seperti apa mereka, dan
kira-kira apa yang akan mereka lakukan disana. Aku melihat ada dua cowok dan
dua cewek, kucoba deskripsikan umur mereka, aku pastikan umur mereka lebih muda
dari aku dan Nay. Itu dapat dilihat dari kepolosan raut muka dan gaya
berpenampilan mereka layaknya seorang ABG. Sekarang aku coba menebak hubungan
yang ada diantara mereka. Jika dilihat dari jumalah mereka yang berempat dan
terdiri dari dua cowok dan dua cewek, maka aku sudah dapat menebaknya kalau
mereka adalah dua pasang kekasih. Lalu kulihat sebuah kamera yang dibawa oleh
salah satu cewek diantara mereka, itu sebuah kamera yang cukup canggih. Sudah
dipastikan pula selain tujuan mereka yang ingin memadu kasih, mereka juga
pastinya akan bernarsis ria disana.
Aku mulai melangkah bersama Nay, kutapaki
tanah yang diselimuti rerumputan dan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh
disisinya. Kali ini jalannya begitu extreme, banyak pepohonan yang besar dikelilingi
akar-akar yang menggelantung di atasnya. Terdengar beberapa kali
ranting-ranting yang berjatuhan. Membuatku sedikit paranoid dibuatnya. Apalagi
sebelum kita memasuki jalur itu, kita sempat melihat seekor lutung yang sedang
melompat dari dahan satu ke dahan yang lain. Rasa was-wasku semakin menggebu.
Aku takut tiba-tiba seekor lutung itu mengagetkan rasa was-wasku. Aku berusaha
tetap tenang di hadapan Nay, aku tidak mau kalau naluri laki-lakiku tercoreng
di hadapannya. Aku masih memimpin di depan, mencoba memilihkan jalan yang aman
untuk ditapaki. Semakin jauh melangkah, semakin sukarnya jalur yang kita temui.
Jalan tanah yang lembab membuat kita harus lebih teliti memilih langkah agar
kita tidak terpeleset. Sering kali aku harus menyibakkan dahan-dahan tanaman
yang mengarah ke jalan yang kita lewati. Sering kali pula kita dihapkan dengan
batu-batu cukup besar yang terletak pada jalan tanah. Kita harus hati-hati jika
menginjakkan kaki kita pada batu tersebut, batunya cukup licin karena adanya
sebagian lumut yang menempel. Semakin jauh di tengah perjalanan, jalur yang
kita lalui semakin tak keruan. Benar-benar jalur yang sangat sukar ketika kita
menemukan medan yang menanjak, cukup terjang karena tanjakannya tidak terlalu
mulus dan rata. Tidak jarang kita harus melewati akar-akar pohon yang terselip
diantara batu besar. Sering kali aku terpeleset kecil, tapi untungnya tubuhku
tidak sampai terbaring ke tanah. Aku sebagai laki-laki yang memimpin di depan
harus memikul tanggungjawab yang besar. Sesering mungkin aku menengok ke
belakang, aku harus selalu memastikan kalau Nay baik-baik saja di belakang.
Tanggungjawabku terkesan menyenangkan, karena tanggungjwab yang harus kupikul
adalah keselamatan dan kenyamanan Nay. Dia harus selalu merasa nyaman ketika sedang
bersamaku. Sering kali kucoba untuk menyambut tangannya ketika kita menemukan
jalan yang yang menanjak, licin, dan curam. Sedikit aku merasa senang saat
dihadapkan dengan medan jalan yang mungkin bagi Nay cukup sulit untuk dilalui.
Karena disitulah aku mempunyai kesempatan untuk menggenggam tangannya. Walaupun
aku tak dapat menggenggamnya sepanjang perjalanan, tapi setidaknya aku
mendapatkan kesempatan berkualitas
saat menggenggam tangannya.
Gemercik
curug yang bergemuruh sudah mulai terdengar jelas. Tapi kita belum tahu berapa
jauh lagi jarak yang harus kita tempuh. Karena semakin jauh, kita mulai
menemukan medan-medan yang lebih berbahaya. Air hujan yang tadinya tak begitu
sering turun, kini air itu mulai sering menjatuhkan tetesan-tetesan yang cukup
deras. Aku dan Nay mulai resah, kita resah dengan kondisi jalur yang semakin
sukar, ditambah lagi dengan air hujan yang sudah mulai turun dengan derasnya. Naluri
laki-lakiku pun mulai menajam. Aku harus segera mengambil keputusan. Kucoba
mendiskusikan situasi yang mulai tak terkendali ini bersama Nay. Kita harus
mengambil keputusan yang tepat, apakah kita harus melanjutkan menuju curug itu
atau kita lebih baik kembali saja. Aku merasa sangat bingung ketika Nay
memberikan pilihannya padaku. Jika kita memilih untuk melanjutkan perjalanan
ini, aku kurang yakin apakah kita mampu untuk melewatinya? Dan ketika kita
sampai disana, apakah kita akan aman? Apakah disana juga banyak terdapat
pengunjung? Sedangkan sekelompok ABG yang kita lihat diawal saja sampai sekarang
tidak terkejar, bahkan sosok-sosoknya pun tidak kita lihat lagi. Banyak
pertanyaan-pertanyaan yang belum jelas jawabannya. Hujan pun turun semakin
deras, aku mulai bingung harus mengambil keputusan yang mana. Sebenarnya aku
ingin terus melanjutkan perjalanan, tapi aku juga tidak mau mengambil resiko
yang berbahaya untuk kita. Setelah beberapa pertimbangan, kemudian aku
memutuskan lebih baik kita kembali saja.
Untung
saja jalan menuju arah kembali tak sesukar ketika kita berangkat. Cukup terasa
cepat, tak terasa kalau kita sudah melihat tikungan yang berada di awal jalur.
Kita sudah berada di warung yang tadi sempat kita singgahi. Mungkin kali ini
kita akan singgah cukup lama, karena derasnya hujan yang masih saja mengguyur.
Sempat kubayangkan kalau di warung itu pasti banyak orang yang sedang berteduh.
Tapi tak seperti yang aku bayangkan, ternyata warung itu sepi, yang ada hanya
si ibu penjualnya saja. Aku dan Nay mencoba mencari tempat yang nyaman di
sekitar warung. Kita sangat bersyukur, kita sudah bisa sampai lagi di warung
yang tadi. Tidak terbayang kalau kita memilih untuk melanjutkan menuju curug,
mungkin sesampainya kita disana, kita hanya numpang berteduh saja. Itu pun
kalau disananya memang ada tempat yang layak untuk berteduh, dan kalau tidak
ada, pasti kita akan kedinginan basah kuyup karena kehujanan. Sejujurnya aku
masih penasaran bagaimana suasana curug disana yang belum aku kunjungi, dan aku
juga masih penasaran kemana perginya dua pasangan ABG yang tadi berusaha kita susul.
Rasa penasaran memaksaku untuk bertanya kepada ibu warung.
“Maaf
bu, kalau jarak ke curug 6 & 7 masih jauh? Tadi kita hanya sampai di jalan
yang menanjak dan berkelok saja. Dari situ masih jauh, bu?”
“Lumayan
sedikit lagi, a (panggilan untuk laki-laki sunda)!!!”
“Oh,
begitu ya. Kalau disana ada juga warung-warung seperti ini, bu?”
“Tidak
ada, a. Karena jalannya yang cukup sulit, jadi tidak ada yang berjualan
disana!”
“Pantesan saja
sangat terasa sepi.. Aku beli snack Taro
satu, bu!”
Cukup lega
karena rasa penasaranku sudah terjawab, walaupun tidak begitu jelas. Mungkin
kalau ingin jelas, aku harus berada disana. Ok, mungkin lain waktu saja aku
akan menuntaskan rasa kepenasarananku ini. Dan semoga saja Nay lah yang masih
menemaniku..hahaha.
Kali
ini yang kulihat tidak ada sosok penampakan-penampakan pasangan kekasih yang
terkadang membuatku paranoid ketika melihatnya. Mungkin juga karena saat itu
sedang hujan deras, jadi mereka sedang berteduh juga seperti aku dan Nay.
Untung saja di warung ini hanya ada aku, Nay, dan ibu warung saja, tidak ada
penampakan sepasang kekasih lainnya. Kalau ada, aku akan kurang merasa nyaman
berteduh bersama Nay. Aku menganggap warung ini sedang aku sewa, demi untuk
menciptakan moment berkualitas. Aku
selalu senang ketika sedang berada di dekat Nay. Parasnya yang manis, kulitnya
yang terlihat cerah, dan gaya berkamatanya yang membuatku yakin, kalau dia
memang perempuan tipeku. Di sela percakapan aku dengannya, kuselipkan sebuah
pertanyaan tentang isi hatinya. Aku pernah melihat dia memasang gambar sebuah puzzle berbentuk hati yang utuh, dan di
sebelahnya ada juga gambar puzzle hati
yang hancur berantakan. Sebenarnya aku mengerti arti dari gambar yang dia
pasang di profil kontak BBM-nya, tapi aku ingin mendengar secara langsung apa
yang sedang dirasakannya. Ternyata benar saja, dia sedang kurang bersahabat
dengan kisah percintaannya. Dia sedang merasa penat dengan hubungannya, dia
sedikit lelah menghadapi sikap kekasihnya yang selalu mengacuhkannya. Sikap
acuhnya ini tidak hanya terjadi satu kali saja, tapi sudah berulang kali. Nay
merasa hubungannya tak seperti dulu lagi, tak seperti disaat awal-awal dia
berhubungan. Ibarat permen karet yang hanya manis di awalnya saja. Ini bukan
ceritanya yang pertama kali aku dengar, karena sebelum-sebelumnya pernah aku
dengar cerita seperti ini. Sesering kali aku mendengar problem percintaannya, sesering itu pula aku merasa bingung. Aku
bingung harus berperan seperti apa. Di satu sisi aku berperan sebagai teman,
dan di sisi lain aku adalah teman yang berharap lebih. Terkadang aku merasa
senang mendengar permasalahan yang ada dalam percintaannya, terkadang aku juga
ingin sekali menjelma menjadi makhluk merah bertanduk yang ada di sebelah
kirinya, dan kemudian berkata “PUTUSKAN SAJA!!!” Tapi aku tidak gila, aku tidak
memaksakan apa yang seharusnya dipaksakan. Biarlah harapanku menjadi seperti
air yang jatuh dari tebing yang tinggi, kemudian mengalir mengikuti arus yang
tenang.
Tak
terasa hujan pun sedikit demi sedikit berkurang derasnya. Dibarengi dengan
mulai bermunculannya penampakan-penampakan pasangan kekasih yang berkeliaran.
Pandangan kita tertuju pada kemunculan sekelompok pasangan ABG yang terlihat
dari arah lokasi curug 6 & 7. Ternyata mereka memang benar-benar
mengunjungi curug itu. Hanya saja mereka berjalan terlalu cepat, sehingga kita
tidak dapat menyusulnya. Mereka pun sempat beristirahat di warung yang sama
dengan kita. Tidak terlalu lama setelah hujan reda, mereka bergegas turun untuk
pulang. Kita pun sama, kita juga akan bergegas turun untuk pulang. Cukup lega
salah satu rasa penasaran aku dan Nay kini sudah terjawab, sekelompok pasangan
ABG itu memang ada. Lalu kubayar snack Taro
yang tadi aku makan, kukenakan kembali jaket yang sempat kulepas, aku periksa
kembali barang-barang yang kubawa agar tidak tertinggal. Kita mulai melangkah
bersama menuruni anak-anak tangga yang sempat kita naiki.
Tetesan
hujan masih terasa menyentuh kulit. Sepertinya tetesannya tak akan berhenti,
mungkin juga akan kembali hujan. Untungnya masih tak terlalu banyak tetesan yang
jatuh ketika kita sedang berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang langkah kita
menuruni anak tangga, aku sedikit terganggu dengan pandangan yang ada di
hadapan aku dan Nay. Ada sepasang kekasih yang berjalan saling bergandengan
tangan, kadang berrangkulan, kadang juga si cowok mengusap kepala si cewek. Ya
Tuhan.. sungguh pemandangan yang tidak menarik sekali, mereka seolah tahu siapa
yang ada di belakangnya, dan mereka seolah seperti sengaja melakukannya. Tapi
entah kenapa, aku tidak kepikiran untuk segera mengajak Nay mendahului mereka.
Kita malah tetap betah melangkah di belakang mereka, hingga di tempat parkir.
Sebelum
mulai berkendara, kita sedikit berdebat kecil. Kita memperdebatkan siapa yang
lebih layak untuk memakai jas hujan. Dikarenakan jas hujan yang kita bawa hanya
satu, jadi kita saling merekomendasikan satu sama lain. Aku menyuruhnya untuk
mengenakan jas hujan itu, tetapi Nay malah berbalik menyuruhku untuk
mengenakannya. Mungkin ini hanya sepele saja, tapi bagi kita ini adalah sikap
saling pengertian. Kita memiliki alasan masing-masing atas argumen yang
diberikan. Aku menyarankan, lebih baik dia saja yang mengenakan jas hujan itu.
Jangan terlalu menghiraukan aku. Walaupun aku yang mengendarai di depan, tapi aku
tidak apa-apa, kalau aku tidak mengenakan jas hujan juga. Karena jaket yang
sedang aku kenakan berbahan parasit, cukup untuk menahan air agar tidak tembus
ke dalam. Biar saja celanaku kebasahan, karena celanaku sudah terlanjur kotor.
Paling juga nanti sesampainya di rumah langsung dicuci. Tidak kalah dengan
alasan-alasan yang kuberikan, Nay pun memiliki alasannya sendiri, kenapa dia
lebih menyuruhku untuk mengenakan jas hujan tersebut. Baginya, akulah yang
lebih layak mengenakan jas hujan itu. Karena aku yang berada di depan, jadi aku
akan lebih sering terkena air hujan. Sedangkan dia yang duduk di belakangku
sebagai yang dibonceng, dia tidak akan terlalu sering terkena air hujan, dan
kemungkinan untuk basah kuyupunya pun akan lebih kecil dibandingkan aku yang
mengendarai di depan.
Daripada
kita menghabiskan waktu hanya untuk berdebat di tempat parkir, aku mencoba
mengambil sebuah keputusan. Ok, aku yang akan mengalah, “kalau kamu memaksa aku
yang harus memakai jas hujan ini, akan aku turuti, tapi nanti kalau hujannya
sudah mulai deras, ya?” Nay sedikit senang karena aku mencoba mengerti apa yang
diinginkannya. Kita pun mulai melaju diantara dua roda. Mulai menuruni jalan
yang sudah basah tersiram air hujan. Aku mengendarai motorku dengan hati-hati
dan berusaha senyaman mungkin. Dalam
perjalanan, aku mengajak dia membahas apa yang sudah kita lalui di lokasi curug
tadi. Kucoba berikan celotehan-celotehan sederhana yang dapat membuatnya
menyeringai lebar. Sungguh kebahagiaan sederhana yang terjadi di atas dua roda
yang kita kendarai. Sebuah kebahagian yang sejenak dapat mengkhilafkan tentang
siapa dan apa status kita. Kucoba menanyakan kembali apa yang pernah aku
tanyakan dulu. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk menanyakannya. Berulang kali
kucoba untuk mulai berujar, berulang kali pula aku membatalkannya. Melihat
sikapku yang cukup aneh, Nay menjadi semakin penasaran. Mungkin juga dia merasa
kesal karena aku beberapa kali membatalkan pertanyaan yang akan aku ajukan. Sebenarnya
aku takut jika pertanyaanku membuat kita menjadi beda, seperti dulu saat aku
pernah mengalami kekecewaan. Dalam diam aku mencoba menyiapkan diri untuk
menanyakannya kembali. Aku mencoba mulai dari pertanyaan ini, “Nay, apa
sekarang sudah bulat ingin putus?” Dia menjawab dengan memberikan perbedaan
situasi yang dialaminya dulu dengan sekarang. Dulu dia pernah meminta putus
pada kekasihnya, tapi sempat tidak jadi, karena kekasihnya berjanji akan
berubah. Dengan berjalannya waktu, sikap perubahan yang terjadi pada kekasihnya
hanyalah sementara. Sekarang sikap kekasihnya mulai menjadi acuh kembali.
Karena itulah yang sekarang membuat Nay berpikir untuk menyudahinya saja. Dan
ternyata waktu tak memberikan ruang untuk aku menanyakan bagian yang
terpenting.
Sebenarnya
pertanyaanku belum selesai. Masih ada beberapa bagian pertanyaan lagi yang
belum aku tanyakan, tapi percakapan kita terhentikan oleh jarak rumah Nay yang
sudah dekat. Pertanyaan sebelumnya yang Nay dengar itu baru awalnya saja, belum
masuk pada pertanyaan yang terpentingnya. Sebenarnya aku ingin membahas kembali
keputusan yang pernah dia berikan padaku dulu. Nay pernah berkata seperti ini,
“maaf, aku tak bisa bersamamu, walaupun aku juga memiliki rasa yang sama
sepertimu, tapi aku tak bisa meninggalkan dia. Memang, sikap yang dia berikan
padaku membuat aku kecewa, tapi aku masih bisa memaafkannya berdasarkan janji
perubahan yang dia berikan!”
“Setelah
kini kamu mendapatkan janji-janji usang dari kekasihmu itu, apakah kamu masih
ingin mempertahankannya? Dan, setelah moment
berkualitas yang kita ciptakan tadi, masih layakkah aku menunggu dan
berharap?”, inilah penggalan pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan kemarin.
Mungkin perjalanan dan petualangan kita kemarin bagaikan gemercik dalam semu.
Kemesraan yang terjadi hanya terdengar nyaringnya saja, tanpa ikatan yang
seperti orang lain lihat dan artikan. Aku anggap peranku ibarat petualangan
kita yang hendak mengunjungi curug 6 & 7. Banyak medan terjang yang harus
aku lewati, medan yang dapat memaksaku untuk mencoba kembali disaat situasi kurang
memungkin untuk aku paksakan. Sejenak aku harus singgah di sebuah wewarungan
kecil ini, dengan maksud hanya untuk menunggu hujan reda. Dan ketika aku tak
lagi mendapatkan kesempatan untuk menunggu, mungkin aku memutuskan untuk
kembali saja. Bukan kembali untuk memperjuangkan pengorbananku, tetapi.. aku
akan kembali untuk pulang, pulang ke rumah.
“Aku
masih ingat pertanyaan anehmu mengenai rokok, yang sempat kamu tanyakan padaku.
Pertanyaan itu sama persisnya seperti kamu menanyakan tentang cinta. Kenapa
orang-orang banyak yang jatuh cinta, sedangkan cinta bisa saja dapat
membunuhmu? Mungkin aku hanya dapat menjawabnya dengan satu kata, yaitu
‘kenyamanan’. Aku merasa nyaman ketika sedang merokok, begitu juga ketika aku
sedang jatuh cinta. Walaupun mungkin nantinya rokok atau cinta bisa saja dapat
membunuh kita, tapi yang terpenting aku sudah mendapatkan kenyamanan. Dan kamu
itu ibarat rokok, walaupun kamu juga bisa membunuhku dengan cintamu, tetapi
yang terpenting aku selalu mendapatkan kenyamanan disaat aku mencintaimu.”
“Gemercik
yang kamu dengar ini hanyalah sesuatu yang semu. Resapilah di setiap
tetesannya. Dan jika kamu sudah mulai merasa nyaman dengan apa yang sedang kamu
dengar, cobalah untuk masuk dan ikuti aliran arusnya yang tenang!!!”